18 August 2019

Puisi Chavchay Syaifullah: Dari Singapura, Aku Berpura-pura

aku bukan tak tahu makna pelukanmu

tapi kita tidak bisa tergesa-gesa memaknai takdir

sudahlah, kini kau sudah di batam

kau terbang dari jambi berharap kerja di harbour bay

dan kau terdampar di sini

aku pun siang tadi masih di singapura

sekarang aku berpura-pura terdampar di sini

di antara sei jodoh dan nagoya

kita sedang hidup dalam pura-pura

namun aku hafal makna pelukan ini

 

sudahlah, jangan takut!

peluklah dan ciumlah wangi tubuhku!

siang tadi kumasuki semua toko parfum di harbour front

sedikit demi sedikit kusemprotkan parfum itu ke tubuhku

ciumlah tubuhku dan lupakan temanmu di tanjung uma

perkampungan tua itu mungkin sudah melahapnya

kau pun janji padaku ajari dansa ala orang rimba

 

di depan pintu kamar hotel

kau lihat temanmu menunggumu tersungkur di atas karpet

wajahnya berantakan, rambutnya berantakan

kau tak tahan melihat luka takdir temanmu

kau minta aku ajak temanmu masuk ke dalam kamar kita

lalu kita bertiga berpura-pura jadi orang rimba

 

pertemuan macam apa ini?

kau dan aku harus saling percaya dan harus cepat melupa

malam kemarin minum kopi di kampong glam singapura

malam ini minum kopi di harapan sekupang indonesia

laut dan tanjung seperti merebah agar kita bisa bersua

bisa saling cepat percaya dan bisa cepat melupa

 

pada sepertiga malam, temanmu dijemput suaminya

pintu hotel digedor-gedor

maka di depan suami temanmu

kau ajarkan aku berpura-pura jadi suamimu

 

selepas mandi pagi

aku sadar di dalam kamar seorang diri

aku tahu tak ada siapa-siapa

tapi kenapa harus berpura-pura ada apa-apa

 

Batam, 2014.

 

CHAVCHAY SYAIFULLAH adalah penyair Indonesia generasi 98 yang menulis semua bidang karya sastra: puisi, cerpen, novel, naskah teater, skenario film, esai, lirik lagu, buku kajian, juga coretan-coretan tak keruan. Ia  juga menekuni dunia musik. Puisi-puisinya sudah dipublikasi di sejumlah media dan sudah ia bacakan di sejumlah negara. Buku-buku tunggalnya yang sudah terbit antara lain: Multatuli Tak Pernah Mati (kumpulan puisi, 2000), Payudara (novel, 2004),Sendalu (novel, 2006), Perlawanan Binatang Jalang (kajian, 2006), Amuk Ombak Tanah Rencong: AOTAR (novel, 2006), Kemandirian Pemuda Tantangan dan Harapan (kajian, 2008), Generasi Muda Menolak Kemiskinan (kajian, 2008), Pucuk Risau (kumpulan puisi, 2010), Tepi Renjana (kumpulan puisi, 2013). Masa pendidikannya ia tempuh di Madrasah al-Falahiyyah, Jakarta, di Ponpes Daar el Qolam, Banten, di Rabithah Ali Alamsyah, Mekkah-Arab Saudi, di Ponpes Raudhah al Hikam, Cibinong-Jawa Barat, di Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi YAPPANN pada Jurusan Administrasi Niaga, Jakarta, di Universitas Terbuka pada jurusan Manajemen, Jakarta, di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara pada jurusan Ilmu Filsafat, Jakarta. Kini selain aktif independen sebagai aktivis kebudayaan, ia juga terlibat di beberapa komunitas, seperti Komunitas Dayamuda Nusantara, Kelompok Penyanyi Jalanan (KPJ) Rangkasbitung, dan Komunitas Pagar Budaya.Pada 2002 ia mendirikan kelompok musik Rempah yang hingga kini telah melahirkan 3 album: Tetap Ada Jalan (2004), Masih Terbentang (2012), dan Mengurai Garis Tangan (2014). Di dalam Rempah ia bertindak sebagai pencipta lagu, vokalis, dan gitaris. Silakan klik youtube: REMPAH BAND.

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...