21 January 2019

Perang-perang Suci Islam dan Matinya Peradaban Klasik

Oleh:   John J. O’Neill

 

 

 

 


Barangkali tidak terlalu penting untuk menuliskan pasal satu sampai pasal tiga dalam buku ini, yaitu pasal-pasal yang membahas mengenai akhir dari Kekaisaran Roma dan matinya peradaban Klasik. Kita semua mengetahui dengan baik kisahnya; yaitu kisah yang telah diceritakan pada kita dalam bentuk-bentuk yang bervariasi selama bertahun-tahun. Setelah invasi orang Germania dan Asiatik dari abad kelima, orang-orang dari Eropa Barat kembali tinggal dalam rumah-rumah seperti pondok yang beratapkan jerami. Kota-kota banyak yang dihancurkan dan ditinggalkan, seni menulis menjadi hilang, sementara masyarakat dipaksa tinggal dalam sebuah negara kebodohan oleh gereja yang fanatik, yang secara efektif menghancurkan secara menyeluruh hasil karya orang Barbaria. Ke dalam zaman kegelapan inilah, orang-orang Arab di abad ke-7 dan ke-8 Masehi tiba, seperti sebuah cahaya terang. Bersikap toleran dan mau belajar, mereka membawa ilmu pengetahuan kuno kembali ke Eropa dan, dibawah pengaruh mereka orang-orang Barat memulai perjalanan panjang mereka untuk kembali pada peradaban. Maka disanalah kisah ini diceritakan melalui sangat banyak tulisan dan buku-buku teks akademik para sarjana. Ini adalah kisah yang secara implisit diterima oleh mayoritas ahli sejarah profesional, baik di Eropa maupun di Amerika Utara – diantaranya adalah Bernard Lewis, ahli sejarah dalam studi Timur Tengah yang sangat dihormati di negara-negara yang menggunakan bahasa Inggris. Namun ini juga merupakan versi masa lampau yang sangat menyesatkan. Adalah sangat sukar untuk membayangkan sebuah kisah yang dilepaskan dari apa yang sebenarnya terjadi. Dan, menjadi hal yang mengejutkan, bagaimana para sejarawan telah mengetahui hal ini selama beberapa generasi. Mengapa pengetahuan ini tidak pernah benar-benar disebarluaskan atau diintegrasikan ke dalam pemikiran akademis, adalah sesuatu yang masih diperdebatkan. Tetapi fakta bahwa buku-buku teks itu didisain untuk anak-anak sekolah dan para pelajar di sekolah yang lebih tinggi, dan bahwa itu masih bisa dicetak untuk mempromosikan versi kejadian di atas, seharusnya menjadi sumber keprihatinan yang dalam. Sebab kebenarannya adalah, ketika orang-orang Arab mencapai Italia dan Spanyol bagian Selatan, yang mereka temukan bukanlah masyarakat dengan peradaban primitif, melainkan sebuah masyarakat Latin yang sangat maju, sebuah peradaban yang kaya dengan kota-kota, agrikultural, seni dan literatur, dan dipimpin oleh raja-raja Gothic yang sepenuhnya dipengaruhi oleh kebudayaan Romawi. Bagaimana kita bisa mengetahui hal ini? Justru orang-orang Arab sendiri yang mengatakannya; dan kesaksian mereka telah terbukti secara kategorikal baik melalui bukti-bukti dokumen maupun arkeologi. Hal ini telah mendemonstrasikan, tanpa ada sedikitpun keraguan, bahwa para pemimpin Barbarian yang menduduki Italia dan Kekaisaran Barat di abad ke-5, tidak menghancurkan budaya dan peradaban Roma, melainkan menyerap kebudayaan itu ke dalam budaya mereka, dan menjadi pemimpin dari sebuah peradaban Klasik Renaisans yang asli. Seni dan ilmu pengetahuan berkembang di bawah kepemimpinan mereka, dan kekayaan mereka yang sangat besar dipakai untuk mendanai pembangunan pemukiman dan gereja-gereja yang didekorasi secara sangat mengagumkan. Pada tahun 500 AD, bisa disaksikan bagaimana semua kerusakan yang dilakukan melalui Invasi abad ke-5, telah diperbaiki, dan kota-kota menjadi semakin maju ketika kota-kota itu berada di bawah administrasi Kekaisaran kuno. Kemudian, raja-
raja “Barbarian” dari Italia, sejak permulaan secara
aktif mengimitasi Pengadilan Konstantinopel, dan mereka semua mengganggap diri mereka bukan hanya sebagai sekutu, tetapi juga sebagai para fungsionaris dan pegawai dari Kekaisaran tersebut. Koin-koin emas yang mereka keluarkan, dicap dengan gambar penguasa Kekaisaran Bizantium, dan mereka tinggal di vila-vila yang sangat mewah dan menawan yang didirikan oleh para agen keuangan dan para pangeran Roma. Sejumlah vila diperluas dan semuanya itu secara berkala direnovasi. Namun meskipun demikian, perlu dijelaskan bahwa benar di akhir abad ke-7, atau selambatnya di awal abad ke-8, kebudayaan Klasik yang tengah mekar ini, secara mendadak tiba pada kesudahannya; dan dunia abad pertengahan (Medieval Ages) yang kita semuanya kenal, mengambil bentuknya: kota-kota besar dan yang lebih kecil mengalami kemunduran dan terkadang diabaikan, perdagangan mengalami kemunduran, hidup bergeser dimana orang lebih banyak tinggal di daerah pedesaan, seni juga mengalami kemunduran, angka buta huruf semakin meningkat, dan sistem feodal yang memecah belah kerajaan-kerajaan Eropa Barat, semakin berkembang. Dalam tahun-tahun yang mengikutinya, Gereja menjadi tempat untuk belajar administrasi, dan ekonomi barter secara luas menggantikan sistem moneter yang sebelumnya dipakai secara luas. Koin yang banyak dipakai adalah yang terbuat dari perak, bukannya dari emas yang umumnya dipakai hingga permulaan abad ke-7. Abad Pertengahan telah dimulai.
Siapa atau apa yang menjadi penyebab situasi ini?
Di awal tahun 1920an, ahli Abad Pertengahan Henri Pirenne menemukan istilah senjata api. Tetapi barang itu bukan ada di tangan orang Goth atau Vandal, atau di Gereja Kristen: melainkan di tangan orang-orang yang dianggap sebagai
 penyelamat 
 Peradaban Barat: yaitu orang-orang Arab. Buktinya bisa kita temukan sebagaimana yang diperlihatkan oleh Pirenne dengan penuh kesedihan dalam bukunya yang dipublikasikan setelah kematiannya, yaitu
Mohammed and Carlemagne,
yang tidak mungkin lagi bisa dibantah. Dari sejak pertengahan abad ke-7, Mediterania telah diblokade oleh orang-orang Arab. Perdagangan dengan pusat-pusat populasi dan kebudayaan besar yang ada di Levant, yaitu kegiatan dagang yang membuat Eropa Barat menjadi makmur, telahdihancurkan. Aliran barang-barang mewah yang ditemukan oleh Pirenne dalam catatan-catatan orang-orang Visigoth Spanyol dan Merovingian dari Gaul, tanpa diduga menjadi terhenti, sebab para perompak Arab secara simultan merampoki kapal-kapal dagang. Aliran emas ke Barat pun terhenti. Koin emas menghilang, dan kota-kota besar Italia, Gaul dan Spanyol, khususnya pelabuhan-pelabuhan, yang memperoleh kekayaan mereka melalui perdagangan Mediteranian, hanya menjadi kota-kota berhantu. Barangkali yang paling buruk adalah, dari perspektif budaya dan pendidikan, impor papirus dari Mesir terhenti. Barang yang satu ini, yang telah dikirimkan ke Eropa Barat dalam jumlah besar sejak zaman Republik Roma, sangatlah penting dipakai untuk menunjang budaya membaca dan untuk perdagangan. Terhentinya suplai papirus menimbulkan efek segera yang bersifat katastropik bagi kemampuan masyarakat untuk membaca. Kemunduran ini berlangsung hampir dalam semalam, hingga pada level yang barangkali setara dengan masa pra-Roma. Ketiga pasal pertama dari tulisan ini dimaksudkan untuk mempresentasikan secara jujur bukti-bukti dari pernyataan di atas. Dalam pasal ini, saya sangat bergantung pada pendapat Pirenne, sebab riset yang ia lakukan sangat baik dan dalam banyak cara tak mungkin diabaikan. Sebagaimana yang saya katakan, sebenarnya tidaklah terlalu penting untuk membahas bagian ini, sebab ini seharusnya sudah dipahami oleh siapapun. Tetapi tenyata tidak demikian. Selama bertahun-tahun, karya populer dari para sarjana mengenai sejarah Mediterania dan interaksi Islam dengan Kekristenan terus-menerus dipublikasikan–khususnya dalam dunia berbahasa Inggris – tanpa menyebutkan nama Pirenne, apalagi mengutip penemuan-penemuannya. Ini terjadi sebagai contoh dengan John Julius, seorang sejarawan Norwich mengenai Mediteranian (The Middle Sea), yang dipublikasikan pada tahun 2006. Hal yang sama bisa dilihat dari tulisan David Levering (tak ada kaitan dengan Bernard Lewis), dimana bukunya yang dirilis tahun 2008 God’s Crucible: Islam and the Making of Europe, 570-1215 , tidak saja mengabaikan karya Pirenne dan ide-idenya, tetapi tiba pada kesimpulan yang mengingatkan pada pemikiran sebelum munculnya buku Mohammed and Charlemagne
. Sebagai contoh dari buku di atas, Lewis mengkontraskan budaya abad ke-8 yang sudah sangat maju dari para penakluk Islam yang berhasil menaklukkan Spanyol, dengan apa yang ia gambarkan sebagai budaya Neolitik dan ekonomi Visigoth dan Franks yang mereka jumpai. Bagi Lewis,
“Zaman Kegelapan” masih dibawa oleh para penakluk Germanik dari abad ke-5, dan bahwa blokade yang dilakukan oleh orang-orang Arab terhadap Mediterania di abad ke-7 dan ke-8, tidak memberi dampak bagi Eropa. Baginya, orang-orang Arab adalah para penyelamat Eropa dari barbarisme. Bagaimana menjelaskan hal ini? Tanpa ragu, pembenaran politik telah memainkan peran dalam hal ini. Roh zaman ini mendikte bahwa budaya non-Eropa (seperti Islam) sama sekali tidak boleh dikritik, atau bahkan diuji secarakritis. Sikap seperti ini, yang pada hakekatnya menempatkan ideologi di atas bukti, sangatlah mengganggu, dan perlu dipertanyakan dalam setiap kesempatan. Namun demikian ada faktor lainnya: Pirenne, bersama dengan hampir semua sejarawan di zamannya, berasumsi bahwa Byzantium yang tidak diperintah oleh orang-orang Barbarian, tidak pernah mengalami Zaman Kegelapan atau periode Medieval (Abad Pertengahan). Pandangan ini disampaikan, setidaknya sebagian daripadanya, oleh propaganda Byzantin, yang selalu mengiklankan Kekaisarannya sebagai Roma Kedua dan pewaris dari mantel Roma. Sebagai
contoh, setidaknya pada tahun 1953, Sidney Painter menuliskan bahwa, “
716-1057 AD adalah abad-abad keemasan dari Byzantium. Kekaisaran Byzantin merupakan negara paling kaya di Eropa, paling kuat secara militer, dan lebih  jauh lagi merupakan daerah yang paling subur. Selama kurun waktu tiga abad ini, ketika Eropa Barat merupakan wilayah yang sebagian telah dijinakkan oleh Barbarian, Kekaisaran Byzantium adalah negara dengan peradaban yang tinggi dimana pertukaran antara Kekristenan dan Hellenisme menghasilkan sebuah budaya yang sangat menarik .” (A History of the Middle Ages, 284-1500). Hingga hari ini, literatur populer memberitahukan pada kita bagaimana, setelah Konstantinopel direbut oleh orang-orang Turki pada tahun 1453, para sarjana dan filsuf Yunani melarikan diri ke Barat, membantu “dimulainya” Renaisans di Italia. Tetapi jika peradaban Byzantium tidak dihancurkan oleh orang-orang Arab, mengapa ada orang yang harus percaya bahwa mereka telah menghancurkan peradaban klasik di Barat? Ini adalah poin yang tidak dibahas oleh Pirenne: barangkali ia tidak menyadari pentingnya hal ini. Tetapi perkembangan dalam arkeologi Byzantin semenjak Perang Dunia Kedua kini sampai secara dramatis untuk mendukung Pirenne: sebab sebagaimana yang telah diperlihatkan, kebanyakan menyebabkan setiap orang menjadi terkejut, bahwa sejak pertengahan abad ke-7, Kekaisaran Timur mengalami Zaman Kegelapannya: Byzantium mengalami tiga abad dimana
 – kontras dengan pendapat yang diekspresikan di atas – hampir semua kota-kotanya telah diabaikan, populasi menurun dan berakhirnya kebudayaan yang tinggi. Sedemikian besar kerusakannya sehingga, bahkan koin tembaga yang setiap hari dipakai untuk kehidupan komersial, menjadi hilang. Dan ketika arkeologi sekali lagi muncul di pertengahan abad ke-7, kebudayaan yang ia perlihatkan secara radikal telah berubah: Byzantium tua dari masa lampau terakhir telah hilang, dan sekarang kita menemukan peradaban yang miskin dan
semi-literate (hanya setengah dari penduduk yang bisa membaca); sebuah Byzantium Medieval yang secara dramatis mirip dengan Perancis, Jerman dan Italia di abad pertengahan, dan yang hidup secara bersamaan. Menghilangnya semua penemuan arkeologi selama abad ke-7, 8, 9 dan awal abad 10 disoroti oleh para penulis seperti Cyril Mango. Hal ini terjadi dengan sangat komplet sehingga membuat kita bertanya-tanya, apakah ada faktor lain yang terlibat, misalnya kesalahan kronologis. Oleh karena “jurang”
 arkeologis tidak terbatas hanya pada teritori Kekaisaran Timur, tetapi juga terjadi di barat dan di berbagai tempat, di tempat-tempat yang tidak terduga. Semua ini dapat berarti sebuah pertanyaan yang akan dibahas pada akhir volume ini. Namun demikian ketika kita memandang ketiga abad dalam Abad kegelapan, tidak diragukan lagi bahwa pada abad ke-
10 Byzantium menjadi “Medieval”, dan
medievalisme ini erat terkait dengan medievalisme di Barat. Disini kita juga menemukan praktik barter atau perekonomian semi barter; sebuah penurunan dalam populasi dan literasi; dan negara yang bersifat intoleran dan teokratis. Dan titik pisah di Byzantium, seperti juga di Barat, adalah paruhan pertama abad ke-7 – bertepatan dengan kedatangan orang-orang Arab dan Islam. Bukti d
ari Timur, yang sayangnya belum menjadi “pengetahuan umum” bahkan di dunia akademis, adalah persis seperti yang dikatakan oleh Pirenne. Pada dasarnya perdebatan telah usai – walaupun pengetahuan mengenai fakta tersebut masih harus dipenetrasikan melalui fakultas-fakultas sejarah di universitas-universitas kita. Peradaban Klasik, seperti dikemukakan oleh Pirenne bertahun-tahun yang lalu, tidak berakhir pada abad ke-5, tetapi berakhir pada abad ke-7, dan diakhiri oleh orang-orang Arab. Maka dalam semangat ini, dan untuk menekankan poin ini, kedua bab pertama akan membahas masyarakat Eropa selama abad 5 dan 6, ketika kerajaan-kerajaan “Barbarian” didirikan di Eropa Barat. Kita menemukan, seperti pendapat
Pirenne, pada masa ini tidak ada “Abad Kegelapan”, dan bahwa peradaban Klasik berlanjut dan berkembang, setelah suatu periode singkat mengalami gangguan pada awal dan pertengahan abad ke-5. Sesungguhnya, seiring berlalunya waktu, orang-orang “Barbar” ini dengan san
gat cepat menjadi semakin“Romawi”, atau dapat kita katakan sangat dipengaruhi dan diwarnai oleh Byzantium; dan pada abad ke-6 pengaruh Konstantinopel dirasakan di berbagai wilayah di Barat – bahkan hingga ke Inggris, dimana para raja dimakamkan di Sutton Hoo bersama dengan sejumlah besar benda-benda perak Byzantium. Eropa secara keseluruhan menjadi koloni kultural Konstantinopel. Semua ini berakhir secara tidak terduga pada abad ke-7. Kedatangan Islam, seperti yang akan kita lihat pada Bab 3, secara efektif mengisolasi Eropa secara menyeluruh, Timur dan Barat, baik secara intelektual maupun ekonomi. Munculnya kemiskinan menghasilkan apa yang kini dikenal sebagai Abad Kegelapan, atau tepatnya Abad Pertengahan. Masyarakat dengan sangat cepat menjadi semakin bergeser ke pedesaan-pedesaan, oleh karena kota-kota besar yang bergantung pada perdagangan Mediterania mengalami kemerosotan. Buta huruf mewabah karena papirus Mesir yang telah menghidupkan kehidupan perekonomian dan budaya Eropa selama berabad-abad, tidak lagi tersedia. Para raja banyak kehilangan kekuasaan mereka, karena sumber-sumber pajak untuk kekayaan mereka mulai mengering, dan penguasa-penguasa lokal yang berkuasa, yang akan menjadi para bangsawan feodal Abad pertengahan, mulai
“menunjukkan otot mereka”. D
engan kelumpuhan ekonomi ini, datanglah perang: penaklukkan-penaklukkan Muslim melepaskan gelombang kekerasan terhadap Eropa. Akibat langsung dari penyerangan-penyerangan Arab, pada abad ke-7 dan 8 Kekristenan di wilayah-wilayah dimana Kristen adalah agama yang dominan, mulai menghilang hingga ke titik terendah. Kehilangan teritorial yang merupakan musibah besar ini –  semuanya dimulai dari Utara Syria hingga ke Pyrenees – terjadi dalam jangka waktu dua atau tiga generasi. Di Eropa Barat hanya tersisa sekelompok kecil teritorial Kristen, meliputi Perancis, Jerman Barat, Danube Atas dan Italia (juga Irlandia dan beberapa bagian Inggris); dan wilayah-wilayah ini juga merasa bahwa mereka terancam pembinasaan yang tidak terelakkan, oleh karena wilayah-wilayah Kristen yang masih ada dikepung dan senantiasa mendapatkan serangan dari utara dan timur, juga dari selatan. Orang-orang Arab mengirim pasukan demi pasukan untuk menyerang, menghancurkan dan menduduki, dan mereka juga menganjurkan dan melakukan serangan-serangan lanjutan terhadap daerah-daerah inti Eropa dari berbagai arah yang lain. Jadi, sekalipun orang-orang Viking melakukan serangan besar yang melumpuhkan wilayah-wilayah yang luas di Kepulauan Inggris, Perancis dan Jerman Utara, namun aksi mereka itu dikalahkan dengan tuntutan orang Muslim agar ada budak-budak. Yang terakhir ini adalah fakta yang masih belum secara luas diketahui, walaupun sangat diterima oleh para sejarawan profesional: bahwa pada dasarnya orang-orang Viking adalah perompak pedagang budak, dan ekspedisi-ekspedisi mereka yang terkenal di seberang lautan hingga ke barat dan di sepanjang sungai-sungai besar Rusia hingga ke timur, pertama-tama dan terutama muncul karena adanya tuntutan orang Muslim agar ada selir-selir dan orang-orang kasim yang berkulit putih. Tanpa Islam, sangat besar kemungkinan tidak ada orang Viking. Sehingga dapat dikatakan bahwa persekutuan dagang dengan orang-orang barbar di Utara dengan orang-orang Muslim di Spanyol dan Afrika Utara bertujuan untuk menumbangkan kekristenan Eropa. Seakan-akan semua itu belum cukup, usaha mengontrol penyerbuan orang-orang Muslim dan Viking menjadikan Eropa sasaran empuk bangsa-bangsa predator lainnya, terutama dari dataran-dataran tinggi Asia Tengah, khususnya suku bangsa Magyar atau Hungaria; untuk sejangka waktu mereka adalah ancaman nyata bagi kelanjutan eksistensi Jerman yang Kristen. Bagian Apendiks di akhir buku ini akan menjelaskan bagaimana penulis mempunyai keraguan mendalam terhadap kronologi dari apa yang disebut
sebagai “Abad Kegelapan”, dan ada banyak bukti yang mengindikasikan bahwa serangan orang-orang Viking dan Hungaria terhadap Barat dimulai berbarengan/secara simultan dengan penyerangan Islam – sekitar pertengahan abad ke-7. Sudah tentu, bukti-bukti yang ada seperti disebutkan di atas, menyuarakan bahwa penyerangan-penyerangan Viking muncul karena adanyakekayaan yang dapat diperoleh dari penyediaan pasar-pasar budak Muslim di  Afrika Utara, Syria dan Spanyol. Jika inilah kasusnya, berarti hingga satu abad lamanya barat menderita serangan gencar dari semua front, serangan yang mengancam akan memusnahkan peradaban Kristen. Pada Bab 4 kita berhenti sejenak untuk mendapatkan pandangan terperinci terhadap budaya dan ideologi yang bertanggung-jawab atas kejadian-kejadian tersebut di atas. Kita semua menyadari bahwa pada jaman kita sendiri ada pendapat yang mengatakan bahwa Islam adalah “agama damai” dan pandangan
ini tersebar luas di dunia modern saat ini. Pendapat ini, yang akarnya terdapat dalam abad ke-19, menjadi semakin kuat pada abad 20; dan kini memiliki posisi di dunia akademis. Dengan keyakinan bahwa orang-orang Arab abad ke-7 dan 8 berjumpa dengan Eropa yang dibungkus barbarisme Jerman, para sejarawan menyanjung Islam mula-mula. Ada pula yang melangkah terlalu jauh sehingga beranggapan bahwa orang-orang Arab adalah suku bangsa yang meletakkan dasar bagi sains modern. Bahwa ini bukanlah sebuah opini yang baru, dikonfirmasi dengan melihat apa yang dikatakan oleh para sejarawan, setidaknya sejak tahun-tahun terakhir abad 19. Sebagai contoh, perhatikanlah perkataan sejarawan dan antropologis sosial Robert Briffault dalam karyanya pada tahun 1917 (The Making of Humanity ): “Kejayaan dan keindahan budaya
intelektual dihargai oleh para pangeran Baghdad, Shiraz dan Kordoba, di istana-istana mereka yang megah. Tetapi tidak hanya sebagai bawahan terhadap kebangsawanan kosong mereka, sehingga pertumbuhan sains dan pembelajaran Islam yang mengagumkan semakin subur dalam masa pemerintahan mereka. Mereka mengejar kebudayaan dengan penuh semangat. Belum pernah sebelumnya, dan setelah itupun tidak ada lagi, ada peningkatan seperti itu dialami oleh pihak penguasa di seluruh kerajaan yang besar, sebuah minat yang besar untuk mendapatkan pengetahuan. Pembelajaran nampaknya telah menjadi urusan utama kehidupan mereka ... karavan-karavan bermuatan manuskrip dan spesimen tumbuh-tumbuhan meluncur dari Bokhara ke Tigris, dari Mesir ke Andalusia ... ke setiap mesjid yang terkait dengan sekolah; para wazir berlomba dengan para majikan mereka untuk mendirikan perpustakaan-perpustakaan umum, sekolah-sekolah tinggi, memberikan beasiswa kepada para siswa yang miskin ... di bawah pengaruh kebangkitan budaya Moor dan Arab, dan bukan pada abad 15, Renaisans yang sesungguhnya terjadi. Spanyol dan bukannya Italia, yang menjadi tempat kelahiran kembali Eropa. Setelah semakin lama semakin tenggelam ke dalam barbarisme, Eropa mencapai kedalaman kegelapan, kebodohan dan degradasi ketika kota-kota dunia Saracen, Baghdad, kairo, Kordoba, Toledo, menjadi pusat pertumbuhan kegiatan intelektual dan peradaban. Disanalah munculnya hidup baru menjadi fase baru evolusi manusia. Sejak saat pengaruh kebudayaan mereka mulai dirasakan, maka dimulailah kehidupan yang baru”. Dan seterusnya.Sentimen-sentimen semacam itu boleh jadi dapat diterima pada tahun-tahun
sebelum “pewahyuan” Pirenne – walau kemudian harus dikatakan bahwa hanya dapat didukung oleh beberapa bukti saja. Seperti yang akan kita lihat, bagaimana sebuah kebudayaan dapat menjadi doktrin sentral suatu keyakinan, adanya perang dengan orang-orang yang tidak beriman; budaya yang menganjurkan hukuman mati kepada orang yang murtad; yang memandang perdagangan budak dan penjarahan budak sebagai pekerjaan yang sangat sah, dan yang tetap membuat wanita menjadi obyek penundukan? Bertahun-tahun kemudian setelah Pirenne, sudah pasti tidak ada alasan agar fantasi Briffault tetap hidup. Namun kenyataannya fantasi itu tetap hidup sampai hari ini. Namun demikian, sesungguhnya Islam mula-mula tidaklah toleran dan juga “belum mendapat pencerahan”: dampaknya berlawanan dengan apa yang
dibayangkan Briffault. Islam adalah sebuah ideologi dan sebuah pergerakan yang hanya meninggalkan apa yang dapat digambarkan sebagai warisan yang merusak, yang konsekuensi-konsekuensinya dirasakan dari generasi ke generasi dan selama berabad-abad. Islam adalah sebuah sistem yang, diantara sistem-sistem lainnya, menghembuskan hidup baru ke dalam institusi perbudakan dan memperkenalkannya ke Eropa, untuk pertama kalinya, dan sebuah bentuk anti Semitis yang sangat berbahaya. Dan ini adalah fakta yang tidak banyak diketahui: orang-orang Yahudi pertama yang dibunuh di Eropa karena agama mereka, dibunuh di Spanyol. Mereka tidak dibunuh oleh orang Kristen tetapi dibunuh oleh orang Muslim. Kisah mengenai sikap orang Arab terhadap orang Yahudi, juga terhadap bidat dan orang murtad, diketahui di Eropa abad pertengahan dan menjadi kisah yang tidak diceritakan dalam sejarah; ini merupakan topik yang sangat fundamental dalam studi kita. Bab 4 memperkenalkan pada kita asal mula perilaku-perilaku ini dalam Islam. Kita juga mendapati bahwa, jauh dari sebuah kekuatan untuk mencerahkan, Islam bahkan sejak semula menentang keras konsep-konsep sains dan pembelajaran, dan karena itu, menggambarkan sains yang eksis di seluruh
Timur Tengah dan Timur Dekat pada abad 7 dan 8 sebagai sains yang “Arabik” atau “Islami” sangatlah tidak masuk akal. Orang
-orang Arab sendiri, yang pada pertengahan abad ke-7 berhasil mengontrol semua pusat kebudayaan kuno dan besar di wilayah ini –
 termasuk Mesir, Syria, Mesopotamia, dan Persia –  adalah kaum pengembara yang buta huruf atau hanya sedikit mengenal huruf, dan yang hanya sedikit bahkan tidak mempunyai pemahaman sama sekali tentang pembelajaran suku-suku bangsa di wilayah-wilayah tersebut. Tetapi setidaknya mereka tidak menghancurkannya. Mereka semata-mata memasukkan agama mereka juga bahasa mereka ke dalam koridor kekuasaan. Hasilnya adalah pada abad ke-8, banyak ilmuwan, pakar matematika, ahli astronomi, dan tabib di wilayah tersebut dikenal dengan nama-nama Arab. Tetapi mereka bukan orang  Arab, dan kebanyakan di antara mereka bukanlah orang Muslim. Mayoritas mereka adalah orang Kristen, Yahudi, penganut Zoroaster yang tetapi menjalankan keyakinan mereka, walaupun kini mereka bekerja di bawah rejim islami dan para majikan Arab, dan mereka wajib mempublikasikan penemuan-penemuan mereka dalam bahasa Arab. Juga tidak boleh dilupakan bahwa sesungguhnya semua inovasi teknis dan ilmiah yang secara tradisional digambarkan or ang Eropa sebagai “Arab”, sebenarnya berasal dari Cina
dan India, yang tersebar ke Barat, hingga ke Timur Dekat melalui Persia. Sebagai contoh, kompas, kertas, dan penggunaan angka nol dalam matematika. Besar kemungkinan beberapa pengetahuan ini telah mencapai Sassanid Persia pada masa pemerintahan Choesroes II, yaitu tepat sebelum pengambil-alihan oleh Islam, dan orang-orang Arab hanya menggunakan gagasan-gagasan dan teknologi yang sudah ada. Hal ini diakui bahkan oleh penulis-penulis seperti Briffault. Dengan atau tanpa orang Arab, hal-hal ini akan mencapai Eropa. Satu-satunya kontribusi Arab hanyalah menghambat proses ini. Setelah menutup perdagangan Mediterania, yang mengakibatkan orang-orang Eropa jatuh miskin secara material, orang-orang Arab juga mencegah lajunya adopsi penemuan-penemuan baru Cina dan India dengan menyerang orang-orang Barat. Dan mereka tidak lama kemudian tidak dapat lagi menikmati semangat rasionalisme dan penemuan ilmiah bahkan di tanah mereka sendiri. Dalam waktu yang singkat
 – dan benar-benar sangat singkat – para teolog Muslim mengumumkan bahwa semua penemuan ilmiah dan filosofis bertentangan dengan kehendak Allah, dan ilmu-ilmu yang tumbuh subur yang ditemukan orang-orang Arab di Mesir, Syria, Mesopotamia dan Persia, dihancurkan di bawah teokrasi yang sangat totaliter. Dengan demikian, pada akhir abad ke-12, Eropa – yang tidak memiliki kertas dan dengan akses yang sangat terbatas kepada ide-ide dan teknologi-teknologi yang telah mencapai Timur Dekat dari Cina dan India –
 kemudian memimpin; tindakan kepemimpinan yang tidak akan mundur lagi. Sehingga kita menemukan bahwa ketika orang-orang Turki menyerang Konstantinopel pada abad 14 dan 15, mereka berupaya mendapatkan persenjataan Eropa yang dapat memberi mereka meriam-meriam untuk menjebol dinding-dinding kota itu –  di balik kenyataan bahwa bubuk mesiu dan senjata api adalah penemuan-penemuan  Asia yang telah jauh terlebih dahulu mencapai Barat daripada dunia Arab. Setelah menguji Islam dan natur budaya Muslim, kita kembali ke Eropa dan menguji respon Barat. Kenyataannya, ini mempunyai banyak sisi, baik sisi material maupun ideologis. Barangkali yang paling jelas dan tentu paling kontroversial adalah respon Eropa bersifat militer, yaitu: Perang Salib. Orang-orang awam yang kurang berpendidikan, dipengaruhi media populer yang menekankan kepatutan politik, kini membayangkan Perang Salib sebagai petualangan yang hampir tidak terbayangkan, yang diluncurkan oleh kalangan aristokrat agresif Eropa terhadap Timur Tengah islami yang berbudaya dan tenang. Namun sesungguhnya tidaklah demikian. Faktanya adalah, perang Salib merupakan respon Eropa terhadap penaklukkan Islam, dan mereka sama sekalitidak memulainya di Palestina, tetapi di Spanyol dan Sisilia. Faktanya, pasukan Perang Salib Spanyol dan Italia Utara telah berjuang sejak kali pertama kedatangan pasukan Islam di dataran Eropa, dan tidak pernah ada waktu dimana perang ini berakhir atau jeda sejenak. Pertempuran tidak selalu intens, tetapi selalu berkelanjutan. Pada akhir abad 10 perang untuk Spanyol telah mencapai tahap yang krusial, dan pada awal abad 11 para biarawan Cluny di Perancis Selatan menghimbau para raja Eropa untuk campur tangan. Dari sini dan seterusnya gelombang yang datang terus-menerus dari para ksatria Perancis, Jerman dan Burgundi bergerak maju melewati Pyrenees untuk menghadapi bangsa Moor, dan arus peperangan berbalik. Namun saat Islam mulai mengalami kekalahan di Barat, Islam mendapatkan kemenangan-kemenangan baru yang spektakuler di Timur; dan inilah yang pada akhirnya mengakibatkan munculnya apa yang dikenal dengan Perang Salib pertama. Pada pertengahan abad 11, Turki yang baru diislamkan di Asia Tengah berhasil mengontrol Persia dan sebagian besar Timur Tengah, dan pada tahun 1071 sultan mereka, Alp Arslan, mendapatkan kemenangan besar atas Byzantium di Manzikert. Ini membuktikan momen yang menentukan. Dalam 2 atau 3 tahun seluruh Anatolia dan Asia Kecil, kecuali sebagian kecil wilayah yang dekat dengan Konstantinopel, menjadi milik Turki. Ibukota kekaisaran timur sendiri kini terancam, dan Kaisar Alexius Comnenus meminta bantuan Paus. Maka muncullah Perang Salib Pertama. Berdasarkan hal ini sangatlah jelas bahwa Perang-perang Salib tidak diluncurkan oleh Kekristenan yang ekspansionis dan agresif terhadap dunia Muslim yang damai dan tidak ofensif. Semua itu, seperti yang dimengerti oleh akal sehat, adalah tindakan-tindakan defensif terhadap musuh yang agresif dan pantang mundur. Maka, nampaknya aneh melihat Kekristenan harus menunggu hampir 4 abad lamanya setelah ekspansi Muslim yang pertama, dan melihat hilangnya semua dataran Kristen di Timur Tengah dan Afrika Utara, sebelum menghasilkan sesuatu seperti respon yang terorganisir dan berskala penuh. Jadi, sekali lagi kita harus menyebutkan adanya inkonsistensi kronologis yang jelas terlihat; dan anomali yang sama dijumpai ketika kita memperhatikan konsekuensi politik yang paling penting dari kedatangan Islam, yaitu: pendirian kembali Kekaisaran Barat. Saat Byzantium memperjuangkan keberadaannya di Timur, para raja Jerman akhirnya kemudian di abad ke-10 mengambil langkah yang sebelumnya tidak akan berani mereka ambil: mereka kembali mendirikan Kekaisaran Barat, dengan seorang raja Jerman sebagai Kaisar. Dalam hal ini mereka mendapat dukungan penuh dari Paus. Seluruh Eropa Barat kini memisahkan diri secara politis, budaya, dan religi dari Timur. Namun sekali lagi timbul masalah kronologi.  Akal sehat sendiri tidak dapat menerima putusnya Barat dengan Timur akan terjadi dalam beberapa dekade setelah kedatangan Islam. Kita tahu bahwa pada pertengahan abad 7, Konstantinopel telah kehilangan semua wilayahnya di Syria dan sebagian besar Afrika utara, dan orang-orang Muslim berencana menyerang ibukotanya, yang telah dikepung lebih dari satu kali. Kini kekaisaran tidak berdaya. Mengapa tidak seorang pun raja Jerman pada titik ini mengklaim mahkota Kekaisaran Barat, dan mengapa tidak seorangpun raja Jerman melakukannya hingga abad 10 (dengan mengesampingkan semua aksi-aksi singkat Charlemagne pada awal abad 9)? Disini sekali lagi kita menemukan sebuah jurang misterius selama 3 abad dalam narasi historis. Bab terakhir tetap fokus pada Eropa dan menguji dampak ideologis dan filosofis Islam yang lebih luas. Seperti yang akan kita lihat, ini jauh lebih penting dari yang disadari. Hingga penutupan Mediterania pada abad 7, dampak budaya Timur yang kuat terhadap Eropa: dari Byzantium dan dari pusat-pusat helenistik kuno di Timur Dekat, terutama Mesir dan Syria. Dengan ditutupnya Mediterania, Barat terisolasi, dan pusat gravitasi berpindah, seperti yang dikemukakan Pirenne, ke utara; ke Gaul Utara, Jerman dan Inggris. Namun pengaruh Timur tidak berakhir.  Ada kontinuitas. Tetapi kini Timur berarti Islam. Dan selama berabad-abad setelah penaklukan-penaklukan Arab yang pertama, pengaruh Islam menjadi semakin kuat: pengaruh inilah yang secara pasti mengakhiri Peradaban Klasik dan melahirkan teokrasi yang kini kita sebut sebagai
“Eropa Abad Pertengahan”.
 Gagasan Islam pertama dan yang paling jelas diadopsi oleh orang-orang Eropa adalah Perang Suci. Sebelum abad ke-7, Kekristenan tetap setia kepada akarnya yang bersifat pasifis. Bahkan setelah menjadi agama resmi kekaisaran, orang-orang Kristen cenderung menghindari mengambil karir sebagai tentara dan membunuh orang, sekalipun dalam perang hal itu sama sekali tidak disukai. Seperti yang dikemukakan Gibbon
 – yang tidak bersahabat dengan Kekristenan
 –pada abad 5: “Kaum rohaniwan mengalami keberhasilan besar dalam
mengajarkan doktrin-doktrin kesabaran dan menjadi pengecut; kebajikan-kebajikan aktif masyarakat diredam, dan sisa-sisa semangat militer [warisan Roma] dikubur di biara-biara; sejumlah besar kekayaan pribadi dan publik dikhususkan untuk memenuhi tuntutan amal dan devosi; dan gaji para tentara dihabiskan untuk kepentingan orang banyak, yang hanya bergantung pada
kemurahan amal” (Decline and Fall,Bab 38). Ini dapat menjelaskan perekrutan orang-orang Barbar menjadi tentara dalam jumlah yang besar sejak abad ke-4. Sesungguhnya pada akhir abad ke-4 dan abad ke-5 kata “orang barbar” dan “tentara” menjadi sangat sinonim.
 Para raja Gothic dan Vandal yang mengabdi kepada para kaisar Roma di Barat tidaklah benar-benar pasifis. Sembari siap menerima kekristenan, agama yang baru ini harus mendapatkan tempat berdampingan dengan bidat-bidat perang kuno dari Woden dan Thor. Namun demikian, pada akhir abad ke-6, bahkan sifat perang para penguasa Teutonik mulai melunak. Gibbon mendapati bagaimanadibawah pengaruh Kekristenan, orang-orang Goth dan Vandal dengan segera kehilangan tradisi-tradisi bela diri mereka: sedemikian besar sehingga pada abad ke-7 dan 8, populasi Jerman di Afrika Utara dan Spanyol menjadi sangat tidak mampu menahan pendudukan islam di wilayah-wilayah itu. Betapa kontrasnya kekristenan yang sedemikian jika kita membandingkannya dengan keyakinan militan dan menonjolkan otot yang ada pada abad pertengahan, keyakinan para pejuang perang Salib, Inkuisitor dan para penakluk. Kekristenan yang baru ini adalah konsekuensi langsung dari pertikaian dengan Islam, karena kekristenan jenis ini tidak muncul hingga kedatangan Islam. Kekristenan mengalami perubahan yang demikian hanya karena ia terpaksa berubah: dikelilingi oleh para agresor yang berniat untuk menghancurkan, para penyerang yang tidak mungkin diajak berdamai, memaksa orang-orang Kristen untuk mengangkat senjata. Inilah yang terjadi pada orang-orang Kristen di Utara, yang diancam oleh orang-orang Viking dan Hungaria, sama seperti orang-orang Kristen di Selatan yang diancam oleh orang-orang Muslim. Tetapi perubahan itu didorong oleh ideologi dan juga kebutuhan. Orang-orang Eropa mulai sangat dipengaruhi ide-ide islami – gagasan tentang perang, penafsiran kitab suci, bidat, Yahudi, dan sebagainya. Ini murni berpenam
pilan “medieval”: sesungguhnya ini merupakan cikal bakal dari apa yang kini dimaksudkan dengan “medieval”.
 Para sejarawan tidak asing lagi dengan pengaruh filsafat Islam terhadap Barat pada periode ini, dan mereka mengutip, seringkali menyetujui studi-studi orang-orang Eropa berdasarkan Avicenna orang Muslim Persia dan Averroes orang Muslim Spanyol. Namun tidak semua yang barasal dari Islam dapat bermanfaat. Sebagai contoh, banyak orang mengetahui bahwa doktrin ikonoklasme Byzantium, penghancuran patung-patung religius yang disakralkan, secara langsung dihubungkan dengan pengaruh Islam. Tetapi banyak ide islami, beberapa diantaranya yang sangat bertentangan dengan Kekristenan mula-mula, kini mulai menggema dalam pemikiran orang-orang Eropa di hampir semua level. Bagaimana mungkin itu bisa terjadi? Ketika para pengembara Kristen yang miskin takjub memandang kekayaan, kemewahan dan keindahan kota-kota Muslim di Spanyol, Sisilia, dan Timur Jauh. Kekayaan dan kemewahan ini diperkenalkan kepada mereka oleh para Emir dan Khalif Muslim yang pemerintahannya sangat disanjung. Orang-orang Eropa hanya dapat terkesan dan terpengaruh. Dan mereka benar-benar terpengaruh. Dari orang Muslim
mereka belajar mengenal “Perang Suci”; dari orang Muslim mereka juga belajar
bahwa orang Yahudi adalah ras terkutuk dan musuh Tuhan. Konsekuensi-konsekuensi dari pemikiran-pemikiran islami mengenai orang Yahudi ini sangat tragis dan tetap ada hingga waktu yang lamaFatalisme Islam yang dibangun di atas keyakinan bahwa Allah tidak terikat dengan hukum-hukum natural atau ilmiah apapun, sangat berbahaya terhadap rasionalisme Yunani dan Roma, yang kini mulai mati. Sejajar dengan perkembangan ini, yang pertama-tama terlihat di Spanyol yang islami dan kemudian di seluruh Eropa, adalah obsesi terhadap sihir dan perdukunan yang kemudian menjadi salah satu ciri abad pertengahan. Dari Islam orang-orang Eropa juga belajar mengenai esensi fanatisme. Hukum Islam menjatuhkan hukuman mati terhadap penganut bidat dan orang yang murtad. Ide semacam itu tidak pernah eksis di kalangan orang Kristen. Memang benar kadangkala ada perdebatan sengit mengenai hal-hal teologis dan doktrinal di kangan orang Kristen, bahkan adakalanya hingga terjadi kekerasan. Tetapi kekerasan seperti itu hanya terjadi secara verbal dan sangat jarang sekali hingga ke tahap kekerasan fisik. Pada akhir abad ke-11, orang-orang Kristen Eropa, dibawah pengaruh Islam baik di Eropa dan Timur Tengah mulai mempunyai cara berpikir yang berbeda; dan dalam waktu 100 tahun para Paus telah menetapkan dan menerbitkan doktrin-doktrin mereka yang baru mengenai penghukuman terhadap orang-orang yang murtad/menyimpang. Penyiksaan yang merupakan praktik yang biasa di negara-negara Islam, untuk pertama kalinya diberlakukan secara sah di Eropa. Kita mengakhiri dengan pengujian terhadap hal-hal yang dipertanyakan dalam  Abad Kegelapan. Para pembaca akan segera mendapati bahwa ini mencakup pertanyaan radikal mengenai kronologi periode ini. Keputusan untuk membahas topik ini tidaklah mudah, karena adanya pandangan bahwa suatu periode tertentu pada Awal Abad Pertengahan tidak pernah eksis, dan bahwa beberapa
abad “masa yang gelap” telah ditambahkan ke dalam penanggalan. Abad
-abad ini, mulai dari seperempat pertama abad ke-7 hingga seperempat pertama abad ke-10, sama sekali tidak mempunyai penemuan arkeologi, dan merupakan intisari dari apa yang kita sebut sebagai Abad Kegelapan. Pada awal tahun 1990-an, penulis Jerman Herribert Illig mengemukakan bahwa kekosongan arkeologis ini muncul tidak hanya di wilayah Kristen di Barat, tetapi juga di Byzantium di Timur dan dunia Islam (keduanya sama sekali tidak diinvasi oleh suku-suku Barbar dan oleh karena itu semestinya disana tidak ada “abad kegelapan”), dijelaskan dengan fakta bahwa abad
-abad ini sama sekali tidak eksis, tetapi dimasukkan kedalam penanggalan pada masa pemerintahan Kaisar Jerman Otto III. Saya menyadari bahaya akibat memasukkan subyek ini adalah semakin memperburuk kontroversi yang sudah ada, dan saya akan dicap sebagai seorang sensasionalis. Namun demikian pada akhirnya saya merasa bahwa hal ini tidak dapat dihindari. Ada beberapa alasan untuk ini, yang terpenting adalah demi memelihara logika dan kontinuitas narasi historis. Seperti dikemukakan di atas, Awal Abad Pertengahan memberikan beberapa permasalahan yang nampaknya tidak dapat dipecahkan oleh para sejarawan. Sebagai contohmengapa dampak ideologis Islam terhadap Eropa tidak dirasakan hingga abad ke-10 dan 11, sedangkan seperti dikemukakan Pirenne, dampak ekonomi dirasakan pada abad 7 dan 8? Sekali lagi, jika Perang-perang Salib merupakan respon Eropa terhadap invasi Islam, mengapa respon tersebut tidak terjadi pada abad 8? Mengapa harus menunggu hingga abad 11? Ini adalah sebuah permasalahan yang tidak dapat dipahami oleh para sejarawan dari generasi ke generasi. Dan keterpisahan kedua peristiwa yang tidak wajar inilah yang menjadikan para pejuang Perang Salib mengambil peran sebagai agresor: separasi selama tiga setengah abad dari penaklukkan-penaklukkan Muslim yang pertama membuat orang-orang Barat, tanpa alasan yang jelas, terlihat seakan-akan menyerang dunia Islam yang damai dan telah lama berdiri. Namun,“Perang-perang Suci” ini, yang sesungguhnya dimulai di Spanyol, jelas
merupakan bagian dari usaha Kekristenan yang tidak putus-putusnya untuk menghalangi gelombang Islam yang baru mulai muncul. Di banyak tempat kita dapat menemukan tanda-tandanya. Sebagai contoh, dikatakan bahwa
Reconquista Spanyol memulainya dengan kemenangan Don Pelayo di Covadonga sekitar tahun 720; walaupun
Reconquista “yang sebenarnya” tidak
hanya berlangsung pada tahun 1020-an dan 1030-an, atau tiga abad kemudian. Singkirkanlah 3 abad dari tanggal-tanggal terakhir itu, dan dua episode yang terpisah akan “tergabung kembali”.
 Perang untuk mendapatkan jazirah Iberia ini bertumbuh menjadi “pertikaian peradaban”, dengan dukungan baik dari orang
-orang Muslim maupun orang Kristen. Beberapa kemenangan Kristen yang penting diperoleh para ksatria Normandia, Perancis, dan Burgundi; dan orang-orang ini, yang mempelajari gagasan mengenai “Perang Suci” dari para lawan Muslim mereka, kemudian
menjadi tulang punggung para pejuang Perang Salib yang Pertama. Transformasi besar yang terjadi dalam pemikiran Kristen pada masa ini dapat dipahami dengan baik jika penjelasan periode-periode tersebut direvisi. Jika, seperti kronologi yang disusun Illig, Eropa Barat secara simultan diserang oleh orang Muslim, Viking, dan Magyar, yang mengancam akan menghapuskan Kekristenan dari muka bumi, maka transformasi radikal Kekristenan dari aliran yang pasifis (yang dipersalahkan Gibbon atas kehancuran spirit militer Roma),
menjadi “berotot” dan militan, dan kadangkala menjadi agama brutal para
pejuang Perang Salib, menjadi jauh lebih mudah dimengerti. Sudah menjadi rahasia umum bahwa studi semacam ini tidak dapat dianggap sebagai kata penutup. Saya terdorong untuk menguji, secara fundamental, beberapa area sejarah manusia yang saling terpisah oleh suatu periode waktu yang substansial. Ada banyak literatur mengenai hal ini; dan mustahil bersikap adil bahkan terhadap sepotong karya yang telah dilakukan dalam bidang-bidang ini
 –terutama masa Kuno Akhir dan Awal abad Pertengahan
 –bahkan pada 50 tahun terakhir ini. Melimpahnya jumlah materi menjadikan ulasan secara menyeluruh mustahil dilakukan, dan saya telah berusaha memberikan contoh yang representatif. Di berbagai tempat saya juga mengacu kepada sumber-sumber seperti
Encyclopaedia Britannica
dan bahkan situs-situs internet seperti Wikipedia. Ini bukan karena saya memandangnya tepat untuk digunakan dengan cara demikian, tetapi karena sumber-sumber ini cenderung memberikan ide yang bagus mengenai bagaimana hal-hal tertentu dilihat dalam budaya populer. Pengetahuan semacam ini penting untuk topik ini, dimana polemik dan propaganda telah memunculkan banyak mitos, sembari secara simultan menggelapkan fakta-fakta. Sebagaimana ada begitu banyak literatur mengenai satu atau dua abad yang lalu, juga ada materi dalam jumlah terbatas mengenai apa yang dianggap sebagai Abad Kegelapan
 – terutama dari abad ke-7 hingga abad 9
 – yang umumnya otentisitasnya dipertanyakan: Sejumlah besar dokumen mengenai  Abad Kegelapan kemudian didapati ternyata palsu, beberapa diantaranya dibuat setidaknya pada abad ke-19 (sebagai contoh, ini adalah kasus pada beberapa dokumen yang dianggap berasal dari era Langobard). Kepada sumber-sumber tertulis ini harus ditambahkan bukti arkeologis yang penting. Sesungguhnya, arkeologi yang adalah sebuah ilmu yang hampir berusia 2 abad, telah mulai mengubah pemahaman kita mengenai Akhir Abad Kuno dan  Awal Abad Pertengahan. Sembari mempertanyakan kondisi-kondisi materil periode tersebut, penelitian yang dilakukan juga telah memunculkan sejumlah fakta yang mengejutkan bahkan menakjubkan. Salah satu yang teraneh adalah, sama sekali tidak ada sesuatupun yang ditemukan dari abad ke-7, 8 dan 9, baik di Eropa Barat, Byzantium Timur, atau dunia Islam. Dan tindakan penghilangan ini begitu komplet hingga bahkan artifak-artifak hidup sehari-hari pun tidak ditemukan. Sebagai contoh, orang-orang Anglo-Saxon di Inggris nampaknya berhenti memproduksi gerabah selama sekitar 300 tahun.(Jft/ACADEMIA)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...