18 February 2018

Peradaban Butuh Penggerak dan Kaum Demokrat

Puisi - Puisi Esai Prov. Maluku dan Prov. Kalteng

Oleh: Denny JA


Ucapan Friedrich Ebert kembali dikenang Tak hanya untuk soal demokrasi, ucapan Friedrich itu relevan pula untuk isu peradaban. Juga relevan untuk dunia puisi.

Para ahli berdebat variabel apa yang penting agar sebuah negara otoriter bertransisi menjadi negara demokrasi? Variabel apa pula yang membuat transisi demokrasi itu terkonsolidasi makin kokoh, tidak kembali menjadi sistem otoriter?

Sebagian memberikan data. Mereka menunjukkan pentingnya variabel pertumbuhan ekonomi. Negara yang makmur secara ekonomi akan melahirkan kebutuhan baru: politik dan kebebasan. Demokrasipun dihadirkan.

Namun data menunjukkan lain. Singapura yang maju secara ekonomi tak kunjung menjadi negara demokrasi penuh.

Sebagian memberikan fakta. Mereka tekankan pentingnya peran kultur. Demokrasi membutuhkan kultur liberal dunia barat. Tanpa kultur itu demokrasi tak bisa hadir karena semata menjadi aturan formal yang dipaksakan. Ini menjelaskan kasus Singapura.

Namun ada fakta lain. Tak hanya di Barat, tapi juga di negara Asia seperti Korea Selatan dan Taiwan, demokrasi hadir. Pada negara Asia itu, yang dominan bukan kultur liberal barat.

Apa bedanya Singapura (tak demokratis) dan Korsel (demokratis)? Aneka teori yang merujuk pada variabel makro: ekonomi, kultur, pendidikan, hadirnya industri tak bisa menjelaskan.

Ucapan Friedrich Ebert kembali dikutip. Ujarnya, demokrasi juga butuh kaum demokrat. Yap, Demokrasi membutuhkan Kaum Demokrat. Peran penting individu yang punya pengaruh kini diutamakan, tak hanya variabel sistem makro.

Di Korsel hadir elit dan pemimpin yang secara sadar memilih dan memperjuangkan demokrasi. Di Singapura, tidak!

Peran manusia yang meyakini demokrasi, para pemimpin, pejuang, media yang percaya pada demokrasi menjadi variabel penting. Mereka berperan mengggerakkan, mencipta, mempengaruhi, bahkan merekayasa agar demokrasi diterima.

Disamping para penggerak yang menumbuhkan demokrasi, diperlukan pula audience, jumlah populasi yang cukup, untuk mendukung demokrasi. Populasi kaum demokrat adalah publik biasa. Mereka tak masuk dalam kategori penggerak yang sangat berpengaruh. Mereka adalah user, pemakai, yang memilih demokrasi dibanding sistem lainnya.

Apa yang dikatakan Friedrich bisa diterapkan pada peradaban umumnya. Juga relevan untuk dunia puisi. Kita memerlukan para penggerak dan sejumlah besar kaum demokrat.

-000-

Sebuah gagasan, idelogi, juga genre puisi, perlu seorang penggerak. Perlu ada craftmanship, seseorang atau lapisan pejuang yang mencipta, lalu mempengaruhi, bahkan ikut merekayasa agar gagasan baru itu meluas.

Gagasan baru, ideologi, juga genre puisi, juga membutuhkan kaum demokrat. Mereka populasi yang bersikap demokratis atas gagasan baru. Mereka tak harus bersetuju atau menjadi pemeluk teguh gagasan itu. Mereka boleh tak setuju tapi sepenuhnya mereka bersikap demokratis.

Kaum demokrat adalah mereka yang menghargai perbedaan, mendukung perlunya sikap agree to disagree: bersepakat untuk beda tapi hidup berdampingan.

Genre puisi esai bisa pula dipahami melalui kerangka itu. Ada penggagas dan penggerak yang membuat puisi esai semakin banyak ditulis. Sampai tahun 2017, sudah terbit 40 buku puisi esai, ditulis oleh sekitar 100 penulis, penyair, peneliti, jurnalis dari Aceh hingga Papua.

Tahun 2018, puisi esai itu melangkah lebih jauh. Penggagas dan penggerak kini membuat puisi esai itu dituliskan di setiap provinsi. Masing masing provinsi menuliskan lima kisah batin, luka, jeritan, harapan, kisah rakyat dalam puisi esai.

Tentu saja hadirnya buku puisi esai itu tidak alamiah. Terbitnya buku puisi esai itu tidak diserahkan secara apa adanya. Tapi ada penggagas, penggerak, yang ikut menciptakan, merekayasa, membuatnya terjadi, dengan mengerahkan segala sumber daya.

Para penggerak mengerahkan segala kemampuan apapun yang diizinkan oleh konstitusi, hukum nasional dan prinsip hak asasi manusia.

Ini dimungkinkan pula karena hadirnya para demokrat yang cukup banyak di luar sana. Mereka juga para penyair, penulis, seniman, kreator yang agree to disagree. Mereka tak harus setuju baik dengan puisi esai ataupun klaim puisi esai sebagai genre baru atau angkatan baru.

Tapi mereka bisa menerima gerakan itu sebagai bagian dari kebebasan opini dan kebebasan berorganisasi. Itu kebebasan yang diperjuangkan bersama ketika menumbangkan Orde Baru. Hak itu dijamin konstitusi. Ia bagian hak asasi. Why not?

Ketika kebebasan hadir, keragaman opini anak kandungnya. Yang pro dan yang kontra hanyalah adik dan kakak dalam keluarga besar demokrasi.

Untuk kasus puisi esai, tentu tetap hadir kaum lain, yang segenap cara menentang dan berupaya agar gerakan puisi esai itu gagal. Besar kemungkinan gerakan mereka gagal karena alasan di bawah ini.

Pertama, jumlah kaum yang pro lebih banyak dibanding mereka. Cukup kita lihat petisi yang mereka buat.

Yang menanda tangani petisi untuk gagalkan program puisi esai ini sebanyak masih jauh di bawah 5000 orang. Dibandingkan populasi Indonesia yang 250 juta, jumlah mereka hanya 0,002 persen saja.

Sementara mereka yang tak peduli dengan petisi penggagalan itu tentu sisanya, sebanyak 99,998 persen. Oleh pembulatan matematika bahkan angka itu bisa disederhanakan menjadi 100 persen.

Terlalu jauh jumlahnya antara mereka yang mendukung petisi dengan mereka yang tak peduli: 0,002 persen verus 99,998 persen.

Di antara mereka yang tak peduli pasti ada mereka yang tak tahu petisi ini, ada juga yang tahu tapi tak peduli karena menghargai kebebasan opini dan organisasi sejauh tak ada hukum yang dilanggar. Kaum demokrat ada dalam barisan 99,998 persen itu.

Kedua, para penggerak puisi esai ini memang membawa sebuah ikhtiar budaya. Mereka menjadi fasilitator bagi penyair dan penulis daerah untuk berkarya. Mereka angkat kisah daerah.

Tak ada dana pemerintah yang digunakan. Tak ada unsur melawan hukum nasional. Penggerak dimotivasi oleh visi besar. Program ini bahkan membantu gerakan literasi pemerintah tanpa sepersen dana APBN, APBD. Juga tanpa sedikitpun campur tangan lembaga pemerintah sebagai institusi.

Sebagian penulis puisi esai meyakini mereka  lahir sebagai generasi yang beruntung. Ini era ketika sejarah ditulis ulang. Ekonomi, politik, media di era ini menghasilkan banyak hal baru. Mereka juga bertekad puisi harus pula lahirkan hal baru.

Mereka melihat puisi esai. Sekecil apapun, secara keseluruhan, puisi esai tetap ada diferensiasi. Mereka ingin dikenang tak hanya melanjutkan masa silam, tapi juga berikhtiar membuat genre baru. Berhasil atau tidak, itu perjuangan.

Ikhtiar budaya ini sesuai dengan zamannya. Panitia sudah membatasi hanya 170 penyair, penulis saja yang diajak. Namun semakin banyak  dan jauh lebih banyak yang ingin turut serta. Di beberapa provinsi, yang tadinya dibatasi hanya lima penyair, terpaksa dibuat enam karena sulitnya mengeliminasi.

Penggerak itu punya semua kelengkapan untuk membuat gerakan puisi esai nasional berhasil.

Dengan dua alasan di atas, petisi yang ingin menggagalkan program nasional puisi esai hanya akan menjadi catatan kaki saja. Jika kisah penciptaan 170 puisi esai ini akan dituliskan dalam bentuk puisi esai, petisi ini bisa menjadi catatan kaki bagi puisi esai itu.

Itulah ironisnya.  Petisi ini sangat tak setuju dengan klaim puisi esai genre baru karena adanya catatan kaki. Namun dalam penulisan sejarah puisi esai nanti, justru kehadiran mereka, lahirnya petisi kontra itu, akan menjadi catatan kaki saja.


-000-

Semalam saya membaca 10 puisi esai dari provinsi Maluku dan Kalimantan Tengah. Sudah 20 provinsi @5 sampai 6 puisi esai yang sudah saya baca dan siap terbit. Dengan masuknya provinsi Maluku dan Kalimatan Tengah, sudah siap total 22 provinsi.

Dari segi prosentase, 22 Provinsi dari 34 provinsi, itu berarti sudah lebih dari 60 persen provinsi yang selesai. Sudah lebih dari 60 persen yang siap publikasi.

Saya kembali terpana akan kaya dan luasnya isu sosial di Indonesia. Seperti yang sudah saya kerjakan terhadap 20 provinsi lain, saya sampaikan pula isi singkat dari aneka puisi esai tersebut.


PROV Maluku

1. Rizky Umahuk: Maluku dalam Bayangan Nenek Luhu

Puisi ini berangkat dari Konflik horisontal di Maluku paska reformasi tahun 1999-2002. Pembelahan agama Islam dan Kristen dan matinya banyak penduduk akibat konflik itu, meninggalkan luka mendalam.

Untuk kembali membangun kebersamaan, kisah rakyat mengenai Nenek Luhu kembali diriwayatkan. Itu kisah mengenai kebersamaan dan setia kawan. Bagi Maluku paska konflik, spirit nenek Luhu kembali dibutuhkan.

2. Stefy Thenu: Satu Darah, Maluku

Ada satu masa di Maluku dikenal gerakan politik bernama RMS (Republik Maluku Selatan). Para pemimpin RMS dikisahkan ingin mendirikan negara yang terpisah dari NKRI.

Mereka dikalahkan. Sebagian mengungsi hidup di Belanda. Puisi ini mengisahkan pejuang RMS yang sudah 60 tahun hidup di pengasingan, negri Belanda. Di usia yang sangat tua, ia rindukan Maluku. Betapa ia ingin dimakamkan di negeri kelahiran.

3. Rudy Rahabeat: Benarlah Katong Semua Bersaudara?

Di Maluku dikenal Pela Gedong. Ini aliansi masyarakat lintas agama yang hidup rukun, saling menghormati. Didukung pula oleh lagu yang populer “dari Ujung Halmahera sampai Tenggara Jauh, Katong samua basudara. Nusa Ina, Katong semua dari sana.

Melalui aneka kisah, diriwayatkan kembali bhineka tunggal Ika di Maluku. Semua mata terbelalak ketika lahir konflik primordial yang membelah Maluku. Itu konflik sangat berdarah tahun 1999-2002. Konflik itu memberikan gambaran Maluku yang berbeda.

4. Weldemina Yudit Tiwery: Natal 1999, Curahan Hati Gadis Kayeli

Desa Kayeli berada jauh dari Ambon. Ia hadir  di kabupaten kecil yang didominasi Muslim. Penduduk Kristen minoritas di sana.

Entah apa yang menjadi sebab. Desa yang damai itu, selama ini jauh dari pertikaian politik. Satu ketika, suasana berbeda. Desa ini terkena pula imbas rusuh antar penganut agama 1999-2002.

Seorang gadis asal kayeli menceritakan kisah Natal yang menegangkan di era itu.

5. Denny Tulaseket: Janganlah Lagi Ambon Manise Terkoyak

Kota Ambon menyimpan sisi lain dari konflik primordial 1992-2002. Konflik tak hanya terjadi di era itu. Dalam konflik berdarah, banyak penduduk yang mengungsi dari Ambon keluar.

Era normalpun  tiba. Banyak pengungsi pulang ke kampung halaman. Terjadi konflik jenis lain. Rumah para pengungsi itu sudah ditempati oleh aneka pihak. Terjadi pula konflik antara pengungsi yang pulang kampung versus penduduk yang menempati rumah mereka.

PROV Kalteng

1. Imam Qalyubi: Jerit Kahayan

Sungai Kahayan di Kalimantan Tengah, awalnya adalah seperti ibu bagi Suku Dayak Ngaji. Sungai ini denyut nadi bagi kebutuhan pangan.

Zamanpun berubah. Di era kolonial, para penjajah menjadikan sungai tempat lalu lalang. Spirit penjajahan mulai merusak aura sungai.

Di era pembangunan, aneka bahan kimiawi tambang sumber daya alam mengotori sungai. Bisnis kelapa sawit juga menjadi predator air mendangkalkan sungai.

Puisi ini mengkisahkan drama manusia di seputar sungai Kahayan yang terus berubah. Sungai Kahayan yang dulu, sebagai ibu bagi sekitarnya, kembali dirindukan.

2. Lukman Juhara: Jejak Sumigran, Jejak Transmigran

Ini kisah para transmigran di Kalimantan Tengah. Mereka membuka lahan untuk hidup menjinakkan hutan buas. Fasilitas pemerintah sangat minim.

Sebagian pergi tinggalkan wilayah transmigrasi itu kembali ke tanah asalnya. Sebagian memilih cara kerja di kota walau tak pasti.  Yg menetap sebagai imigran acapkali pula dituduh penyebab kebakaran hutan.

Namun satu tokoh ini tetap bertahan. Ia tak hanya survive. Tapi ia juga setia sebagai transmigran, membangun kampung. Juga ia mencari segala cara agar lingkungan hidup tetap lestari.

3. Elis Setiadi: Airmata Literasi

Tanjung Perawan daerah sangat terpincil di Kalimantan Tengah. Mencapai wilayah ini perlu menelusuri sungai. Seorang polisi air membuka pondok baca di wilayah terpincil. Penduduk terpencil perlu terus bertambah pengetahuan.  

Seseorang subyek yang di dalam puisi disebut aku, menjadi saksi perjuangan polisi air itu membangun semakin banyak rumah bacaan di daerah terpencil. Ia terharu, teteskan air mata, melihat seorang polisi air dedikasikan diri.

4. Mohammad Alimulhuda: Pledoi.

Isu keadilan mencuat untuk kasus penduduk setempat melawan para pemodal besar kelapa sawit. Rakyat kecil dibawa ke pengadilan untuk dihukum. Ia dituduh mengambil alih traktor dan merusak fasilitas kelapa sawir.

Ia mempertahankan sikapnya di pengadilan. Banyak yang diungkap dalam pledoi. Rakyat kecil dihukum hanya karena obrak obrik lahan kelapa sawit. Sementara itu pemodal besar dan  orang upahan melenggang kangkung padahal membakar hutan untuk lahan kelapa sawit.

5. Noor Hadi: Senja di Bumi Tambun Bungai.

Ini kisah seorang tokoh yang merantau ke kota Palangka Raya. Ia ikut meluaskan lahan dengan menebang pohon. Ia bangun lingkungan dengan harapan.

Namun ia kemudian menghadapi masalah baru. Kota yang ia singgahi memberinya masalah, tak seindah mimpi semula.

-000-

Selesai sudah 22 provinsi. Tak sabar saya menunggu 12 provinsi sisa. Setelah itu ada pertemuan nasional 170 penyair dan penulis. Ini pertemuan yang unik karena 34 provinsi akan membawa 34 buku yang mereka lahirkan bersama.

Benarkah telah lahir genre baru puisi esai? Benarkah telah lahir angkatan puisi esai?

Fakta menunjukkan telah dan akan hadir 70 buku puisi esai. Fakta menunjukkan 250 penyair, penulis, jurnalis, peneliti, dosen, aktivis mengekspresikan puisi esai dari Aceh hingga Papua, di seluruh provinsi.

Fakta menunjukkan luas dan beragamnya isu sosial yang ditulis dalam ratusan puisi esai itu. Fakta menunjukkan sebagai satu kesatuan, tetap ada diferensiasi puisi esai dibanding puisi sebelumnya.

Opini atau debat pro dan kontra atas gerakan puisi esai tak lagi penting. Fakta itu yang bicara.

Dan kaum demokrat, seperti yang disinggung di awal tulisan punya sikap. Mereka selain menyetui prinsip “agree to disagree,” juga lebih memilih fakta ketimbang opini.

Faktapun terhidang terang benderang. Mengikuti istilah gaul, fakta lahirnya 70 buku puisi esai itu “massif, sistematis dan terstruktur.”*

Feb 2018

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...