18 July 2019

Paradoks Harapan

Oleh:  Reza A.A Wattimena

 

 

Manusia memang mahluk yang berharap. Hidupnya didorong oleh harapan. Orang bisa bangun tidur, dan kemudian siap beraktivitas, juga karena punya harapan akan hidup yang lebih baik. Ketika kesulitan menerpa, harapan pula yang mampu menyelamatkan manusia.

Namun, harapan juga memiliki paradoks. Ia tidak hanya daya dorong kehidupan, tetapi juga sumber kehancuran, terutama harapan yang tak terwujud. Ketika harapan besar terhempas oleh gejolak kehidupan, patah hati, kebencian dan konflik adalah buahnya. Ini terjadi di banyak tingkat, mulai dari tingkat pribadi sampai dengan hubungan antar bangsa.

Yang diperlukan disini adalah kejernihan di dalam memahami harapan. Darimana datangnya harapan? Apa inti dari harapan? Bagaimana mengelola harapan, supaya ia bisa menjadi daya dorong kehidupan, dan bukan sumber kekecewaan?

Harapan: Ciptaan Masyarakat

Sedari kecil, kita hidup di dalam lingkungan sosial. Kita menjalani pendidikan di dalam sekolah yang didirikan oleh masyarakat. Kita menelan, seringkali tanpa sikap kritis, apa yang diajarkan. Kita pun mempercayai dan menghidupi nilai-nilai yang ada di masyarakat kita.

Segala pola pikir dan pola perilaku yang kita punya adalah bentukan masyarakat kita. Perubahan tentu mungkin. Namun, itu seperti menambah program baru di program yang sudah ada sebelumnya. Yang terbentuk adalah semacam percampuran antara nilai-nilai lama dan nilai-nilai baru.

Harapan juga sama. Ia adalah bentukan lingkungan sosial kita. Orang yang lahir di keluarga pedagang cenderung berharap menjadi pedagang besar. Orang yang lahir di keluarga akademisi pun cenderung berharap menjadi seorang pemikir besar. Harapan, pendek kata, adalah hasil dari programming sosial.

Jika orang tak menyadari ini, dan mengira harapan yang ia punya adalah harapannya sendiri, maka ia akan terjebak dalam ilusi. Ia mengira dirinya bebas, padahal tetap terpenjara di dalam dunia sosial. Ia hidup seperti robot, tunduk pada pengakuan dan penolakan dari dunia sosial. Hidup seperti ini amat rentan pada kekecewaan, patah hati, stress, depresi dan konflik.

Mengelola Harapan

Jika harapan adalah “sampah” dari lingkungan sosial, maka pilihlah sampah yang baik. Ada empat hal yang kiranya bisa dilakukan. Pertama, dari semua harapan yang ada, pilihlah harapan yang bergerak melampaui kepentingan diri kita semata. Pilihlah dan hiduplah dengan harapan yang mampu membawa kebaikan tidak hanya untuk hidup manusia, tetapi untuk alam semesta.

Dua, kita juga mesti paham dengan keadaan. Jangan memiliki harapan yang terlalu tinggi, cukup bisa berguna untuk banyak orang, dan bisa diwujudkan dengan kerja sama. Tentu saja, kita juga perlu meningkatkan kemampuan, supaya harapan kita bisa menjangkau kebaikan yang lebih tinggi dan lebih luas. Itulah gunanya belajar untuk pengembangan diri, yakni supaya kemampuan kita untuk mewujudkan harapan bisa meningkat.

Tiga, harapan seringkali terhempas di tengah jalan, walaupun harapan itu baik dan cukup realistis. Disini diperlukan kesabaran. Dalam arti ini, kesabaran adalah kemampuan untuk bertahan mengejar harapan, walaupun beragam tantangan datang menghadang. Tanpa kesabaran, harapan apapun tak akan terwujud, walaupun didukung oleh kecerdasan dan modal yang besar.

 

Empat, walaupun begitu, kita tetap harus tahu, kapan harus berhenti berharap. Berhenti disini bukanlah tanda kekalahan, melainkan tanda kebijaksanaan. Apa yang punya awal haruslah memiliki akhir. Inilah hukum alam semesta yang tak tergoyahkan.

Paradoks harapan adalah ciri dari harapan itu sendiri. Ia bisa dihindari, asal orang bisa berharap dengan sadar, yakni sadar akan kenyataan dan keterbatasan, tanpa jatuh ke dalam sikap putus asa. Harapan lahir dari hubungan dengan lingkungan sosial yang ada. Ia bisa memenjara, tetapi juga bisa membebaskan, jika dikelola dengan tepat.

Reza A.A Wattimena adalah seorang peneliti, Tinggal di Jakarta

(Jft/RumahFilsafat)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...