18 January 2020

"Ngupil" Aktivitas Berbahaya yang Mengasyikan, Ketahui 4 Hal Ini

KONFRONTASI - Sebagian besar dari kita pasti pernah melakukannya. Tidak hanya saat kecil, remaja, tapi sampai dewasa, dan tidak jarang merasa malu ketika tertangkap basah orang lain saat sedang ngupil.

Ada banyak alasan mengapa kita memasukan jemari ke lubang hidung. Ada yang sekadar menggaruk karena gatal di bagian dalam, atau mengorek kerak ingus yang melekat di dinding lubang hidung.

Pertanyaannya, apakah ngupil -- atau memasukan jemari ke lubang hidung sesuatu yang buruk?

Istilah medis untuk aktivitas ngupil adalah rhinotillexomania. Penelitian ilmiah sistematis pertama terhadap kebiasaan ini digelar tahun 1995 oleh sepasang peneliti AS; Thompson dan Jefferson.

Keduanya mengirim selebaran survei melalui pos ke 1.000 warga Dane Country, Wisconsin, AS. Hanya 254 yang menjawab. Dari jumlah itu, 91 persen mengaku ngupil setiap hari, 1,2 persen ngupil setiap jam.

Yang mengejutkan dua orang mengaku ngupil sampai mengganggu palung septum, jaringan tipis yang memisahkan lubang hidung kiri dan kanan.

Memang ini bukan survei sempurna, karena hanya seperempat dari 1.000 responden yang menjawab. Namun survei sudah untuk membuktikan bahwa ngupil adalah tabu, tapi dipraktekan secara luas.
Ngupil, mungkin lebih tepatnya mengorek hidung, adalah aktivitas berbahaya yang mengasyikan. Dalam beberapa kasus ekstrem, ngupil dapat menyebabkan masalah serius.

Studi literatus medis yang dilakukan Andrade dan Srihari menemukan seorang ahli bedah tidak melakukan operasi hidung pasiennya dengan sempurna, karena kebiasaan si pasien terus mengorek hidung sampai ke septum. Akibatnya, luka pasca operasi tidak pernah benar-benar sembuh.

Ada seorang wanita usia 53 tahun terbiasa ngupil ekstrem sampai mengalami kerusakan septum, dan mengukir lubang ke sinus.

Ada pula seorang pria usia 29 tahun yang menggabungkan dua keasyikan berbahaya sekaligus; membetot bulu (trichotillomania) degan ngupil (rhinotillexomania), dan menghasilkan istilah kedokteran baru untuk menyebut dua aktivitas bersamaan ini, yaitu rhinotrichotillomania.

Sang pria membetot bulu hidung, dengan harapan lepas. Hidung sang pria akan terlihat meradang. Untuk mengobati peradangan, sang pria menerapkan solusi yang membuat hidungnya berwarna ungu, dan dia merasa lebih santai.

Dokter menggambarkan kegiatan ini sebagai menifestasi gangguan dismorfik tubuh, yang kadang-kadang dianggap obsesif kompulsif.
Mungkin bijaksana jika hanya sesekali ngupil, menggigit kuku, atau menarik bulu hidung. Kita akan selalu merasa nyaman setelah melakukannya, tapi hidung Anda sebenarnya tidak aman.

Penelitian tahun 2006 oleh sejumlah peneliti Belanda membuktikan aktivitas ngupil cenderung membantu penyebaran infeksi bakteri. Peneliti juga menemukan aktivitas ngupil, mengorek telinga, dan tenggorokan, cenderung membawa bakteri Staphylococcus aureus.

Peneliti membandingkan hidung mereka yang jarang ngupil dengan yang sering ngupil. Nyaris tidak ada bakteri Staphylococcus aureus di hidung orang jarang ngupil, tapi bejibun di orang yang sering ngupil.

Jadi, ngupil punya risiko. Namun, mengapa kita cenderung menyebut aktivitas ngupil orang lain sebagai kegiatan menjijikan, sedangkan kita juga melakukannya?

Tidak ada jawaban atas semua itu. Kalau pun ada, tidak berlebihan jika kita baca tulisan Tom tafford. Bahwa kita ngupil karena kita punya hidung. Lebih ekstrem lagi, karena hidung mudah dijangkau dengan jari.

Ada pula yang mengatakan ngupil mungkin hanya bukti kemalasan. Artinya, setelah semua aktivitas selesai dilakukan, ngupil adalah pilihan bersantai.

Andrade dan Srihari membuka mata dunia tentang ngupil. Keduanya mendapat hadiah Ig Nobel Prize tahun 2001.

Ingat Ig Nobel Prize, bukan Nobel Prize atau Hadiah Nobel. Ig Nobel Prize, adalah parodi Nobel Prize yang diselenggarakan setiap awal Oktober, diberikan kepada sepuluh peneliti ilmiah untuk temuan tidak biasa dan sepele. Tujuannya, membuat orang tertawa dan menghormati prestasi konyol tapi penting.(Juft/Inlh)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...