17 November 2019

Nama Wirawangsa, Sosok Besar Sejarah Peradaban Sukapura (Tasikmalaya)

KONFRONTASI  -  Sejak Jum'at 19 Juli 2019 lalu, kemeriahan mewarnai Peringatan Hari Jadi ke-387 Kabupaten Tasikmalaya yang digelar hingga Minggu, 28 Juli 2019 mendatang.

Peringatan Hari Jadi yang dikemas dengan aneka pertunjukan bertajuk Tasik Motekar 2019 dengan tema "Mulasara Babad Wirawangsa" ini, terpusat di area Gedung Bupati Tasikmalaya, Jalan Bojong Koneng, Kecamatan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya.

Menariknya, nama Wirawangsa diangkat menjadi ikon acara. Wirawangsa sendiri merupakan sosok pendiri sekaligus Bupati Tasikmalaya ketika masih bernama Sukapura dan sosok besar di balik sejarah awal peradaban Sukapura.

Dalam Sejarah Babon Leluhur Sukapura karya R Soelaeman Anggapradja tahun 1967, Wirawangsa merupakan putra pertama Dalem Wiraha yang menikah dengan putri dari Dalem Sukakerta (Sekarang Sukaraja, Kabupaten Tasikmalaya) dari keturunan Imbanagara Ciamis.

Dia diangkat Sultan Agung Mataram atas jasanya menumpas pemberontak Dipati Ukur di Priangan. Atas jasanya itu, Wirawangsa diberi gelar Raden Tumenggung Wira Dadaha sebagai Bupati Sukapura pertama yang membawahi 12 kewedanaan dan 300 desa.

Penobatan Wirawangsa sebagai Bupati Sukapura dikukuhkan melalui surat keputusan Sultan Agung Mataram yang isinya kira-kira "Surat ini dari Sultan Agung Mataram ditujukan kepada Wirawangsa yang telah setia pada Sultan, maka diangkat menjadi Menteri Agung Bupati Sukapura".

Dalam surat juga disebutkan, Wirawangsa membawahi 12 kawedanaan dan 300 desa dan diberi kemerdekaan sesuai keturunannya. Namun, Wirawangsa tidak diperbolehkan bertindak semaunya ke wilayah Banten dan Cirebon karena Banten dan Cirebon juga telah berjasa menjalankan hukuman mati pada Dipati Ukur.

Surat tersebut ditulis Sultan Agung Mataram yang disaksikan tujuh pejabat dengan nama penulisnya Nitisastra.

Lantas siapa Dipati Ukur? Dalam Buku Ceritera Dipati Ukur: Karya Sastra Sejarah Sunda (1982) yang ditulis Edi S Ekadjati, Dipati Ukur dipandang berbeda dengan bupati-bupati lainnya di Priangan. Edi mengelompokkan menjadi 8 versi, yakni Galuh, Sukapura, Sumedang, Bandung, Talaga, Banten, Mataram, dan Batavia.

Dalam versi Galuh, Sukapura, Sumedang, Banten, dan Mataram, Dipati Ukur dikatakan sebagai pemberontak Mataram. Sementara versi Bandung, Dipati Ukur dikatakan pada mulanya patuh kepada Mataram, namun memberontak ketika mendengar kabar bahwa ada utusan Mataram yang berbuat tidak senonoh kepada istrinya.

Namun, ada juga yang menyatakan bahwa Dipati Ukur gagal tugas mengepung VOC Batavia dan tidak melapor ke Mataram hingga akhirnya dianggap memberontak.

Karena memberontak itulah, Wirawangsa turut menumpas pasukan Dipati Ukur hingga berhasil dan mendapat hadiah sebagai Bupati Sukapura dari Sultan Agung Mataram.

Terlepas dari kisah di atas, sosok Wirawangsa pun diceritakan dalam Buku Peringatan berdirinya 300 Tahun Tasikmalaya dan 25 Tahun Pemerintahan Bupati Raden Arya Wiratanoeningrat yang terbit tahun 1933.

Dalam buku itu disebutkan bahwa Wirawangsa merupakan pejabat termashur yang sabar, tapi gagah berani. Dia pun dikenal memegang kesucian dan kesetiaan pada Sultan Agung Mataram serta sangat dicintai rakyatnya karena berhasil menangkap Dipati Ukur.

Atas kesetiaanya itu, selain diberi jabatan Bupati, segala penghasilan Wirawangsa hingga tujuh turunannya tak perlu disetorkan ke Mataram. Bahkan, Sultan Agung Mataram pun menganggap Wirawangsa sebagai orang tua.

Tidak disebutkan berapa lama Wirawangsa menjadi Bupati, meski bukti bekas pemerintahannya ada di Leuwiloa, Sukaraja.

Hanya saja, setelah wafat dengan meninggalkan 28 anak, jabatan Bupati Sukapura selanjutnya didapuk oleh putra ketiganya, yakni Djajamenggala yang memakai gelar Raden Tumenggung Wira Dadaha kedua. Wira artinya prajurit dan Dadaha adalah pemberani atau prajurit pemberani.(Jft/SindoNews)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...