18 June 2019

MENGGAMBAR HIDUP DENGAN TINTA KEYAKINAN Esai Apresiatif Atas Puisi Kelak Bila Kau Pulang Karya Fendi Kachonk

                                                                      Oleh Moh. Ghufron Cholid*)

 

Siang ini saya berhadapan dengan puisi Fendi Kachonk di Taman Baca Arena Pon Nyonar yang merupakan taman baca yang ia bangun dengan perasaan cinta, memalingkan segala mata dari kebutaan membaca, Fendi yang semakin karib dengan dunia sosialnya namun tak lupa memajukan masyarakatnya dengan kecintaan membaca.

 

Kelak Bila Kau Pulang saya memposisikan diri sebagai seorang yang sedang merantau dan mencoba mendengarkan suara rindu yang bergema dari penuturan Fendi. Saya mencoba mendengar dengan khidmat kerinduan yang disampaikan seorang kawan, semacam panggilan kembali ke masa lampau ketika semangat mengejar layang-layang putus, atau sekedar menikmati teduh persawahan, atau sekedar mengintimi hijau pegunungan dan keramahan orang Madura, beserta cara hidupnya yang bisa saya anggap puisi terindah, menjemput nasib tidak hanya menjadi  penunggu keajaiban.

 

Kelak bila kau pulang, kembali Fendi seakan menegaskan bahwa telah dipersiapkan sebuah kejutan bila saya pulang, namun saya mencoba menetap, merasakan aroma rindu yang kian lekaat. Saya seakan menikmati aroma tembakau dari tanah rantau, menikmati asin garam dan segala kebersahaajaan orang Madura, yang menjadikan harga diri lebih mahal daripada nyawa, yang menjadikan hidup mengungkit kebaikan adalah hal yang paling pantang untuk diucapkan, kebaikan hanya berharga untuk disimpan dan tak perlu diceritakan pada khalayak sebab itu hanya menyayat duka yang lebih menganga.

 

Anddhap asor yang begitu mendarah daging, yang menganggap segala manusia sebagai saudara yang menganggap tamu adalah raja yang harus dilayani sepenuh jiwa, yang menganggap persaudaraaan lebih daripada harta benda yang dimiliki, yang menjadikan membalas kebaikan orang lain sebagai udara kehidupan, betapa teduhnya hidup yang penuh kenangan dan Fendi terus saya meyakinkan saya dengan berkata Kelak Bila Kau Pulang.

 

Kini saya mulai mendengarkan Fendi dan mulai mengakrabi suara kerinduan, saya mulai membuka mata hati dan telinga waktu untuk menyempatkan diri memasuki kejutan yang telah dipersiapkan.   

 

Aku rapikan kamarmu, selimut, bantal serta kasur

untuk kau rebah dengan posisi sesukamu

biar tenang dan tidur pulas menikmati lelahmu

aku berjaga di sampingmu dengan kunikmati payahmu

nyamuk nakal aku usir, mimpimu akan indah, semoga

 

Adalah suatu hal yang sangat wajar memperlakukan keakraban atau orang istimewa dengan begitu istimewa, adalah bentuk yang manusiawi menyiapkan segala keperluan untuk menyambut sebuah kehadiran yang istimewa, kehadiran yang begitu ditunggu dengan gempita, Fendi seakan membuka suara hatinya dengan bahasa yang mengintimi jiwa, dengan suara yang lahir dari keseharian, tanpa harus memperindah bahasa, ya Fendi menghadirkan suara hatinya deengan begitu polos beserta keluguannya, hal ini bisa dipahami karena Fendi tak mau terlalu bertele-tele dalam menyampaikan risalah hatinya, maka tak ditemukan majas yang menyilaukan mata dalam suara hatinya yang pertama. Fendi memposisikan dirinya sebagai pemberi rasa aman kepada seorang yang dianggap istimewa di hari kepulangannya.

 

Di bait kedua, Fendi tak sekedar menawarkan kepulangan dengan hanya menyuguhkan suatu hal yang wajar dilakukan seperti merapikan kamar, melengkapi segala aksesoris yang ada di dalamnya, menjaga agar tak digigit nyamuk. Di bait kedua Fendi menampilkan diri sebagai sosok yang tegas untuk memperoleh perhatiaan yang lebih, agar yang silau dengan tanah rantau, segera berpaling dan menggunakan mata rindu untuk menaatap kampung halaman, marilah kita simak ungkapan Fendi di bait keduanya,

 

Kelak, saat kau bangun dan memelukku, di suatu pagi

kuingin mengucapkan ini, selamat pagi, mimpi apa semalam?

kau mungkin akan bercerita, bahwa mimpi indah

anak-anak bermain di kali tanpa baju

perempuan-perempuan menanam biji jagung

dan hujan membuat kita berteduh di gubuk tua

aku dengan manis tersenyum dan berkata, itu sudah tiada

 

Fendi berusaha meyakinkan bahwa akan ada kemesraan yang akan diperbuat, kemesraan yang barangkali gombal namun cukup menghibur jiwa, Fendi akan memberikan ruang yang lebih banyak untuk bercerita kepada seseorang yang dianggap istimewa, bercerita tentang mimpi yang hadir semalam, dalam bahasa basa-basi untuk lebih membuat nyaman, Fendi mulai berkelakar dan menduga mimpi yang dialami rekannya, tentang kehidupan indah masa lalu yang dirasanya semakin asing di masa kini, ada kerinduan akan waktu yang berganti rupan namun kerinduan tersebut tak ditemui dalam dunia nyata yang dialami karena mungkin cuaca hati yang telah berubah dan kemaauan yang telah berganti serta kesibukan hidup yang terlalu menyita waktu.

 

Ya, Fendi mencoba mengunkan kembali ingatan yang telah lama terkubur oleh ianya telah dipalingkan silau masa depan, Fendi mencoba membuka cadar masa lalu sekedar mengingatkan bahwa masa lalu pernah dialami dengan begitu riang. Kenganan yang begitu akrab dengan permainan dan perjuangan perempuan yang berani meninggalkan baju kegengsiannya demi menumbuhkan rasa berbakti pada tanah kelahiran, tentang perempuan-perempuan yang begitu ceria menanam biji jagung, ya, Fendi berusaha menggambar wajah perempuan-perempuan desa, yang demi berbakti rela menanggalkan baju idealismenya, tak menghiraukan riuh cacimaki, perempuan-perempuan yang begitu istimewa lebih menyukai menanam biji jagung daripada berpakaian pesta atau berdandan berlebihan hanya untuk memperkenalkan kecantikan luarnya.  

 

Di bait ketiga Fendi mulai merayu lebih intim, saya seakan diiming-imingi kemesraan hidup yang damai di desa dengan segala keindahaan alamnya agar saya tertarik untuk segera pulang, saya terdiam, dan saya mulai mendengarkan suara kerinduan Fendi dengan lebih intim, mendengarkan kerinduan hatinya yang ia gambarkan di bait ketiganya,

 

Kelak, setelah kita selesai mandi dan sarapan pagi

aku ajak kau berjalan ke tepian lereng bukit

di mana dulu kita bertemu dengan sejumlah burung

yang riang mendendang suburnya bumi di desa kita

dan mungkin kau ingat, pertama kali saat embun menetes di kaki

pertama itu pula, keningmu basah dengan bibirku

 

Fendi semakin giat membuka lembar demi lembaran ingatan sekedar memastikan saya segera pulang kampung, inilah yang saya rasakan selaku pembaca, dengan bahasa sehari-hari yang penuh keluguan dan penuh kejujuran, saya mencoba mengerti bahwa Fendi ingin menyampaikan kehidupan di desa tak kalah indahnya dengan kehidupan di perantauan, kehidupan di desa selalu menawarkan penyegaran ingatan tentang hidup yang masih sangat alamiah, hidup yang masih belum tersentuh ragam kepentingan.

 

Saya memperlakukan diri saya sebagai tokoh yang istimewa dalam puisi ini, saya memaklumi usaha keras Fendi untuk mengingatkan saya denngan bahasa yang lembut bahwa pulang ke kampung halaman adalah kebaahagiaan yang lain, yang akan menawarkan kedewasaan hidup, menwarkan kreativitas. Penawaran yang menggiurkan sangat teraasa mulai dari bait pertama hingga bait ketiga. Namun Fendi pun menyadari terlalu memberi penawaran yang menjanjikan kurang begitu baik untuk keberlangsungan hidup yang lebih mapan di masa depan, di samping itu sama halnya terlalu mendekati dan menganggap anak kecil yang bisa pulang hanya dengan iming-iming kehidupan yang menarik di kampung halaman, oleh karena itu di bait keempat Fendi seakan hadir dengan rupa yang lain, Fendi melakukan komunikasi kompensasi yakni segala kemewahan tersebut bisa diperoleh hanya ketika mau pulang namun jika tak tertarik boleh menolaknya, marilah kita simak ketegasan Fendi dalam menggambarkan pandangannya,

 

Tapi, aku tak ingin memaksamu mengingat semuanya

benturan keras di otakmu terlalu banyak kisah dan tragedi

rambutmu masih menguap asap-asap serupa cerobong pabrik

dengan sabar, aku akan kembali mengeringkan air matamu

untuk kembali bebas menjadi burung-burung terbang

semoga sangkarku ini, kelak akan membawamu pulang

 

Di sinilah watak asli penyair dapat kita ketaahui secara tegas, di sinilah kita sebagai pembaca diajak untuk memiliki kedewasaan dalam menyikapi hidup, bahwa yang menentukan berhasil tidaknya hidup seseorang ditentukan bagaimana seseorang mengambil keputasan dalam hidupnya, saya pun teringat dengan hadits Qudsi, Sesungguhnya Aku menurut prasangka hambaKu, barangkali inilah yang hendak ditunjukkan Fendi diakhir puisinya, Fendi seakan berucap tugasku hanya memberi tawaran keputusan final tetap ada padamu sebab kau yang akan menjalani hidup dengan segala pilihanmu, berikut saya posting utuh puisi Fendi Kachonk, penyair muda Madura,     

 

KELAK BILA KAU PULANG

 

Aku rapikan kamarmu, selimut, bantal serta kasur

untuk kau rebah dengan posisi sesukamu

biar tenang dan tidur pulas menikmati lelahmu

aku berjaga di sampingmu dengan kunikmati payahmu

nyamuk nakal aku usir, mimpimu akan indah, semoga

 

Kelak, saat kau bangun dan memelukku, di suatu pagi

kuingin mengucapkan ini, selamat pagi, mimpi apa semalam?

kau mungkin akan bercerita, bahwa mimpi indah

anak-anak bermain di kali tanpa baju

perempuan-perempuan menanam biji jagung

dan hujan membuat kita berteduh di gubuk tua

aku dengan manis tersenyum dan berkata, itu sudah tiada

 

Kelak, setelah kita selesai mandi dan sarapan pagi

aku ajak kau berjalan ke tepian lereng bukit

di mana dulu kita bertemu dengan sejumlah burung

yang riang mendendang suburnya bumi di desa kita

dan mungkin kau ingat, pertama kali saat embun menetes di kaki

pertama itu pula, keningmu basah dengan bibirku

 

Tapi, aku tak ingin memaksamu mengingat semuanya

benturan keras di otakmu terlalu banyak kisah dan tragedi

rambutmu masih menguap asap-asap serupa cerobong pabrik

dengan sabar, aku akan kembali mengeringkan air matamu

untuk kembali bebas menjadi burung-burung terbang

semoga sangkarku ini, kelak akan membawamu pulang

 

Rusir, 08 Sept 2013

 

Kesimpulan

    Pada hakikatnya manusia hanya bebas merencanakan segala sesuatu yang terbaik dalam hidup, memberikan tawaran-tawaran yang menggiurkan pada orang lain namun yang paling menentukan adalah bagaimana cara kita menyikapi permasalahan.

 

    Fendi dalam puisinya KELAK BILA KAU PULANG, dalam bait pertama hingga bait ketiga menggambarkan usaha yang maksimal untuk memanggil seorang yang istimewa pulang dengan segala iming-iming kenyamanan hidup namun di bait keempat Fendi memposisikan diri sebaagai sosok yang tegas, bahwa masa depan ditentukan oleh pilihan yang telah diambil dengan penuh keyakinan dengan berpedoman pada hadits Qudsi, Sesungguhnya Aku menurut prasangka hambaKu.

Moncek, 27 Mei 2014

- Moch. Ghufron Cholid, Penyair saat ini tinggal dan berkarya di Madura, puisi-puisinya tersebar di beberapa antologi di dalam dan di luar Negeri. (war)

 

                                                                                                                                            

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...