22 August 2019

Mengapa Wartawan Jepang Itu Menangis Kenang Kisah bersama Megawati?

JAKARTA- Tomohiko Otsuka menangis saat peluncuran buku Presiden kelima RI Megawati Soekarnoputri yang berjudul Catatan Wartawan: Menangis dan Tertawa Bersama Rakyat di Gedung Arsip Nasional, Jakarta, Rabu (23/3/2016) malam.

Otsuka merupakan salah seorang koresponden sebuah surat kabar asal Jepang yang pernah meliput kegiatan Ketua Umum PDI Perjuangan itu di masa Orde Baru.

Otsuka tiba di Tanah Air pada 1994. Tak ada persoalan berarti selama ia menjalankan tugas korespondensinya. Hingga pada akhirnya tahun 1997 terjadi sebuah aksi demonstrasi besar di kawasan Gambir, Jakarta Pusat.

Layaknya wartawan lokal maupun koresponden asing pada umumnya, Otsuka ditugaskan untuk meliput aksi demonstrasi tersebut oleh kantornya. Ia pun bergegas ke lokasi demonstrasi.

"Saya diminta ke sana untuk ambil foto. Saya tidak tahu berdiri dimana, harus ikut siapa. Tapi, tiba-tiba polisi (yang) lihat saya, pukul saya," kenang Otsuka.

Momen pemukulan tersebut rupanya terekam kamera salah seorang koresponden asing dari CNN.

"Seluruh dunia tahu bahwa saya korban. Dan, next day saya dikenal sebagai korban," selorohnya.

Rupanya, peristiwa yang tersiar itu dilihat oleh Megawati. Megawati lantas memberikan kesempatan kepada Otsuka untuk wawancara khusus. Sebab, pada saat itu dirinya memang diminta oleh kantornya untuk mencari kesempatan mewawancarai Megawati secara khusus.

Hampir setiap hari Otsuka bertemu dengan Mega. Rupanya, kedekatan dirinya dengan Mega dipantau secara intensif oleh petugas intelijen.

"Hari-hari bersama Ibu, orang intel kirim saya ancaman," kenang dia.

Tak hanya dirinya, Mega pun mendapat ancaman serupa. Sebagai orang asing yang tinggal di negeri orang, mendapat ancaman seperti itu tentu mudah bagi Otsuka untuk meniggalkan Indonesia demi alasan keamanan.

"Saya bisa saja kembali ke Jepang. Tapi bagaimana dengan Ibu? Saya sedih Ibu dapat ancaman," tuturnya sembari tersedu-sedu.

Kedekatan Otsuka juga diakui oleh Megawati yang turut hadir dalam kegiatan peluncuran buku itu.

"Otsuka ini aneh. Begitu kenal maunya ikut terus," kata Mega.

Otsuka yang saat itu baru tiga tahun tinggal di Indonesia rupanya kerap membuat Mega tertawa. Terutama, ketika dia sedang mewawancarainya.

Sebab, meski menggunakan Bahasa Indonesia dalam setiap wawancaranya, namun aksen Jepang yang dimiliki Otsuka masih sangat kental. Penggunaan aksen itu lah yang kerap kali kurang dimengerti oleh anak buah Mega.

"Maaf ya, bukan maksud menghina. Kadang tidak bisa dibedakan antara L, dan ell. Kalau ngomong selalu terbalik-balik," kata dia.

"Saya selalu bilang ke dia, Otsuka kalau ikut saya Bahasa Indonesianya harus betul. Nanti anak buah saya pada enggak ngerti," seloroh putri proklamator, Bung Karno itu.

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...