20 November 2018

Mengajar Anak Para TKI, 100 Guru Dikirim ke Malaysia

KONFRONTASI -  Sebanyak 100 guru dikirim ke Malaysia untuk mengajar di pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM) di wilayah Sabak, Kuching dan Serawak. Siswa-siswa di PKBM diisi oleh anak para tenaga kerja Indonesia (TKI) yang tersebar di 294 PKBM. Jumlah anak TKI di negeri jiran mencapai 28.000 siswa.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menjelaskan, Indonesia memiliki 155 jenjang sekolah dasar (SD) dan 139 jenjang sekolah menengah pertama (SMP) di Malaysia. Menurut dia, mengirim guru ke PKBM sebagai bentuk tanggung jawab pemerintah untuk menjamin terpenuhinya hak-hak anak Indonesia mendapatkan layanan pendidikan bermutu. Mereka dikirim Jumat pekan lalu.

PKBM merupakan lembaga pendidikan nonformal yang diprakarsai dan dikelola masyarakat sebagai upaya memenuhi kebutuhan pendidikan para anak TKI di Malaysia. Para guru itu akan melayani pendidikan selama dua tahun. Mereka merupakan para guru profesional yang memiliki sertifikat pendidik dari pemerintah Indonesia dengan kompetensi meliputi pedagogi, kepribadian, sosial, dan profesinalisme.

"Hal ini merupakan bentuk kehadiran negara dalam mencerdaskan anak bangsa di manapun mereka berada.  Para guru harus proaktif mencari siswa bagi PKBM karena kondisi di sana jauh berbeda dengan kondisi sekolah di kota-kota besar di Indonesia yang sebagian besar jumlah pelamar atau calon siswa lebih banyak daripada yang diterima," kata Muhadjir di Kantor Kemendikbud, Jakarta, Senin 5 November 2018.

Ia mengatakan, para guru juga dituntut mampu menggali potensi anak-anak Indonesia. Ia menegaskan, tidak boleh ada ketimpangan kualitas pendidikan di antara PKBM. Menurut dia, sejak program pengiriman guru dilakukan pada 2006, saat ini masih ada sekitar 100.000 anak-anak Indonesia yang belum terlayani pendidikan.

“Ini tanggung jawab yang besar dalam membawa nama Indonesia sekaligus pengabdian. Guru adalah wajah dari negara Indonesia yang akan berada di Malaysia. Pemerintah baru bisa melayani sekitar 28.000, sekarang mau dinaikkan sampai 50.000 targetnya,” tutur Muhadjir.

Dibutuhkan kesabaran ekstra

Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Dasar, Kemendikbud Praptono mengatakan, kegiatan belajar mengajar di lokasi penempatan harus tetap berjalan meskipun pendukung delapan standar nasional pendidikan tidak tersedia sepenuhnya. Sarana prasarana yang terbatas, kelebihan jam kerja, dan lainnya menjadi tantangan yang harus dipecahkan para guru. 

“Semoga anak-anak Indonesia di Malaysia bisa terlayani pendidikannya dan meraih masa depan yang lebih baik sehingga melalui pendidikan akan memutus rantai kemiskinan dan kebodohan,” ucapnya.

Diah Rizki Hutaminingsih, guru yang pernah bertugas di Malaysia mengatakan, anak-anak Indonesia memiliki potensi besar. Namun kesempatan mereka memperoleh pendidikan belum terpenuhi dengan baik. “Semoga anak-anak Indonesia di Malaysia bisa kembali ke Indonesia menjadi individu yang bermartabat bagi negaranya,” kata Diah.

Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Kota Kinabalu Malaysia Khrisna Djelani menjelaskan, hampir seluruh anak-anak Indonesia yang akan diajar guru-guru itu lahir dan tumbuh besar di Malaysia. Selain itu, perbedaan usia dalam satu rombongan belajar sangat beragam atau tidak sesuai dengan usia di jenjang pendidikan yang seharusnya sehingga perlu lebih sabar. “Masyarakat setempat menganggap guru sebagai manusia super yang tahu segalanya. Jangan mudah putus asa, setidaknya bisa menjadi panutan,” katanya.

Ia mengatakan, TKI di Malaysia mencapai 2,7 juta orang. Untuk menampung para anak TKI, pemerintah memiliki Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL) dan Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK) serta 294 PKBM. Sekolah-sekolah itu melayani pendidikan berbagai jenjang. Khusus jenjang SMK hanya ada di SIKK dengan program keahlian jasa boga dan perhotelan. "PKBM hanya melayani jenjang SD dan SMP saja," ujarnya.(Jft/PR)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...