24 August 2019

Membaca Karya Penyair Warih Subekti, "Puisi Pendek Buat Sitor Situmorang"

Oleh : Aris Setyo Wibwo*)

Puisi Pendek Buat Sitor Situmorang

Bunga di dalam vas terbuat dari batu
mengeras dan layu

Meski agak merasa terganggu dengan kata ‘Buat’ yang digunakan pada judul puisi penyair Warih Subekti ini, tetapi hal itu tidak mengurangi esensi dari isi puisinya yang terbilang pendek dalam penulisan namun panjang dalam penceritaan.
Mengapa kata ‘Buat’ yang digunakan dan tidak dipilih kata ‘Untuk’ pada penulisan judul puisi ini? Seperti biasa, pertanyaan selalu mengawali dari setiap upaya untuk menemukan sesuatu. Dimana, kapan, mengapa, bagaimana, apa, siapa, dan masih banyak kata tanya lain yang bisa digunakan sebagai pelecut dalam melakukan pencarian.

Ketika kata ‘Buat’ yang dipilih sang penyair pada judul puisinya, hal itu akan mengingatkan kita dengan kata ‘Buat’ yang biasa juga kita lisankan dalam perbincangan sehari-hari. Kata ‘Membuat, membuatkan, dibuat, dibuatkan, dan pembuatan’ berasal dari satu kata dasar yang sama, yakni buat. Jika ditelusuri dari makna kata dasarnya, kata 'Buat' yang notabene merupakan kata kerja bisa diartikan sebagai upaya agar sesuatu terjadi, terbentuk, atau terwujud, sehingga ketika mendapatkan imbuhan me-, me-kan, di, di-kan, dan pe-an, maka semua kata baru yang terbentuk tersebut akan mengarah pada satu hal, yakni suatu upaya demi tercipta, terjadi, terbentuk, atau terwujud sesuatu tanpa meninggalkan makna kata dasar ‘buat’ sebagai sari utama terbentuknya kata-kata berimbuhan tersebut.

Apakah pemilihan kata yang digunakan dalam judul puisi ini bisa disebut sebagai kekeliruan?
Ada 2 jawaban dengan alasan berbeda yang bisa dikemukakan untuk menanggapi pertanyaan di atas. Jawaban pertama, diksi/ kata yang dipilih oleh sang penyair kurang tepat karena judul ‘Puisi Pendek Buat Sitor Situmorang’ sama sekali tidak menyiratkan makna bahwa isi puisi tersebut merupakan upaya mencipta, menjadikan, membentuk, mau pun mewujudkan sosok seorang Sitor Situmorang sebagai subjek puisi (dalam perkembangan ilmu pendidikan, manusia tidak boleh lagi disebut sebagai objek) ‘Menjadi’ sesuatu yang baru, tetapi lebih mengarah pada lukisan mengenai seorang Sitor Situmorang.

Jawaban kedua, bisa saja pemilihan kata ‘Buat’ dalam judul puisi tersebut bisa dibenarkan meski alasan yang mendasarinya relatif lemah. Bahasa seperti halnya budaya selalu mengalami perubahan. Begitu pun dengan kata ‘Buat’ yang dalam perbincangan sehari-hari jamak digunakan menjadi pengganti kata ‘Untuk’. Jika dasar terjalinnya komunikasi adalah bisa diterimanya pemahaman yang sama antara komunikan dengan komunikator, maka pemilihan kata ‘Buat’ dalam judul puisi ini pun bisa dibenarkan karena pembaca juga akan melazimkannya meski jika ditinjau dari kaidah berbahasa yang baik dan benar akan terasa sedikit memaksakan diri. Sama halnya ketika membuat sebuah analogi, apakah makan dengan kaki merupakan sesuatu yang benar?

Jika dasar yang digunakan adalah hakikat makan, yakni tersampaikannya makanan ke dalam mulut dan menelannya ke dalam lambung, maka hal itu bisa dibenarkan. Tetapi jika dasar yang digunakan juga menyertakan sudut pandang etika, maka jelas hal semacam itu akan ditolak. Tentu saja analogi yang sedang kita bahas adalah cara makan orang normal dan bukan seseorang yang memiliki disabilitas tertentu.
Lantas bagaimana jika hal tersebut dikaitkan dengan lisensia poetika yang seringkali diartikan secara sederhana sebagai kebebasan penyair?

Jika pisau analisa ini yang kita gunakan, maka kita akan menemukan retorika-retorika tanpa ujung seperti halnya memperdebatkan apakah kata ‘penis’ dan ‘vagina’ harus pula disebut dan dilarang dalam rangkaian aturan pada UU Anti Pornografi. Untuk menyederhanakan pembahasan, pembaca bisa menilai sendiri kata ‘Buat’ pada judul dengan kata ‘terbuat’ pada baris pertama isi puisi. Apakah makna 2 kata tersebut berdekatan dengan kata dasarnya, ataukah jauh terpisah seperti halnya kata ‘bisa’ yang berarti dapat dan ‘bisa’ yang berarti racun?
Terlepas dari kata ‘Buat’ pada judulnya, isi puisi ini sangat menarik untuk diselami. Begitu pun ketika kita menyelami diksi dari setiap kata yang digunakan. Pada baris pertama tertulis ‘Bunga di dalam vas terbuat dari batu’. Bisakah kita membayangkan kata ‘Bunga’ itu melayang-layang di dalam benak? Meski ada banyak warna (kuning, hijau, putih, dan warna lain), tetapi ketika kita membayangkannya, saya merasa yakin bahwa warna merah yang akan mendominasi pikiran banyak orang ketika sang penyair menyebut kata ‘Bunga’ dalam puisinya, dan membayangkan bahwa bunga tersebut beraroma harum meski tidak selamanya setiap bunga beraroma seperti itu. Hal itu tidak terlepas dari sifat warna merah yang memang lebih mudah menarik perhatian dibandingkan warna lain, lebih mudah melekat dan juga lebih mudah diambil kembali dari dalam ingatan ketika otak melakukan memory recall.

Dari kata ‘Bunga’ pada puisi ini seolah kita juga diingatkan kembali bahwa selain kemampuan merekam dan menganalisa yang berbeda, otak manusia ternyata juga memiliki suatu sistem kerja objektif yang bisa digeneralisir. Hal itulah yang kemudian memunculkan cabang ilmu baru setelah psikologi, yakni ilmu mengenai psikologi massa yang mempelajari perilaku kejiwaan kelompok manusia.
Ramuan yang ‘pas’ begitu terasa ketika kita menyelam lebih dalam pada baris pertama puisi ini. Ketika sang penyair menulis kalimat ‘Bunga di dalam vas terbuat dari batu’, kata ‘vas’ dan ‘batu’ menjadi 2 kata benda yang kemudian memberi gambaran kepada pembaca mengenai tempat dan asal mula ‘Bunga’ atau Sitor Situmorang yang dimaksud dalam puisi ini. Sitor Situmorang dalam puisi ini diibaratkan sebagai bunga berwarna merah dan beraroma harum, tetapi ia terpenjara di dalam vas. Meski ‘Vas’ dapat dimaknai sebagai penjara bagi ‘Bunga’, tetapi ‘Vas’ juga dapat dimaknai sebagai tempat untuk ‘memajang’. Apakah yang dimaksud penyair Warih Subekti adalah Sitor Situmorang ibarat sesuatu yang diletakan di etalase seperti halnya bunga yang dipenjara sekaligus dipajang agar bisa dinikmati keindahannya?
Diksi ‘Batu’ pada baris pertama puisi ini pun akan membuat kita semakin berpikir. Jika ‘bunga’ terbuat dari ‘batu’, bukankah adanya bunga tersebut karena diukir oleh orang lain dan tidak tumbuh dengan sendirinya? Ataukah ‘batu’ yang dimaksud adalah sifat dari subjek yang ingin diungkap dalam puisi ini? Sifat yang keras, tidak goyah, dan sebagainya? Ataukah ia adalah bunga dari batu yang bening seperti akik dan permata?

Jika kita mencermati kalimat berikutnya (mengeras dan layu), sepertinya yang dimaksud sang penyair dalam puisi ini adalah sifat keras batu tersebut. Tetapi mengapa sang penyair menggunakan kata ‘mengeras’ dan bukan ‘keras’? Jika menggunakan kata ‘keras’, maka kita akan tahu bahwa itulah sifat asalnya, tetapi ketika penyair menggunakan kata ‘mengeras’, maka pembaca akan menangkap pesan bahwa ada proses yang menjadi sebab ‘keras’-nya batu tersebut. Lantas mengapa di penghujung puisi sang penyair memilih kata ‘layu’? Adakah sesuatu yang tersembunyi sehingga terpilih kata yang justru berlawan dengan kata sebelumnya, seolah dua kata itu sengaja ingin dibenturkan?
Tidak akan pernah ditemukan jawaban jika pembaca hanya membaca puisi ini tanpa berusaha mencari tahu mengenai latar belakang dilahirkannya karya ini. Lantas apakah kita bisa menjustifikasi bahwa puisi ini gelap?

Tidak! Puisi ini ibarat cahaya sekaligus bayangan. Untuk mengetahui kesungguhan dari sesuatu yang ingin diungkap tidak cukup dengan hanya melihat sinarnya, tetapi mengikuti ke mana ia menuju dan kepada siapa ia menerpa. Penyair Warih Subekti berhasil memantik pembaca untuk mengetahui lebih jauh tentang apa, siapa, dan bagaimana sesungguhnya yang ‘telah’ dan ‘sedang’ dilakukan dan dialami subjek dalam puisinya, karena pada hal itulah puisi ini sedang menuntun kita.

Salam
 

*) Aris Setyo Wibowo, seorang penyair tergabung dalam Group Kumandang Sastra, saat ini rajin melakukan telaah puisi. (K)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...