15 December 2019

Mahasiswa Indonesia di Vladivostok Rusia Siap Mengabdi sesudah tamat Studi

VLADIVOSTOK,RUSIA-Udara dingin menusuk tak mampu mencegah kegembiraan 9 mahasiswa Indonesia yang tengah menuntut ilmu di Vladivostok memenuhi undangan dinner Dubes Djauhari Oratmangun di restoran Hanuri di tepian laut Amur, Vladivostok yang airnya masih membeku.

“Yang penting harus ada nasinya, pak, kangen soalnya,” canda Agnes, mahasiswi program S2 Fakultas Hukum pada Far Eastern Federal University (FEFU), saat menjawab telepon Dubes Djauhari yang mengundang seluruh mahasiswa Indonesia untuk makan malam bersama.

Jumlah mahasiswa Indonesia di Vladivostok tidaklah banyak, hanya 9 orang saja, sangat kontras dibanding ratusan mahasiswa dari Vietnam atau Tiongkok misalnya. Para generasi muda Indonesia tersebut adalah Agnes Harvelian yang kuliah di Fakultas Hukum, Ananta Rilo Pambudi dan Benny Saputra (Hubungan Internasional); Kevin Irwanto (Fak. IT); Rujal Maldini Ichsan (Perkapalan); Ferdinandus (Bahasa); Andre Pawira (Nuklir dan Termo Fisika); Aty Agustinawaty (Hukum); dan Albert Muhamad (Politik). Kesemuanya baru setahunan lebih saja kuliah di FEFU melalui jalur beasiswa Pusat Kebudayaan Rusia. FEFU sendiri merupakan salah satu universitas terbaik di Rusia yang berdiri tahun 1899. Universitas ini sempat ditutup pada akhir tahun 1930-an pada masa Joseph Stalin, namun dibuka kembali pada tahun 1956, dua tahun setelah kunjungan Nikita Khrushchev ke Vladivostok.

Fasilitas yang tersedia di FEFU sangat mendukung kegiatan belajar mengajar. Bahkan kampus baru FEFU di Pulau Russky, dibangun pemerintahan Presiden Putin dalam rangka penyelenggaraan KTT APEC 2012. Pulau Rusky sendiri merupakan salah satu pulau terdekat dengan kota Vladivostok, yang disambungkan dengan jembatan sepanjang 3100 meter.

Menilik wajah-waja ceria para generasi muda ini, nampaknya tidak ada hambatan berarti bagi mereka selama menuntut ilmu di negara beruang merah ini.

“Di sini kami memperoleh berbagai kemudahan, pak, misalnya harga makanan atau transportasi sangat murah. Asrama kami pun lebih mirip apartemen, cukup mewah, sewanya hanya 3000 rubel (sekitar US$ 50) perbulan,” ujar Andre Prawira, mahasiswa jurusan Nuklir dan Termo Fisika. “Lingkungan belajar juga kondusif, fasilitas komplit, betah deh pak,” lanjutnya yang diamini rekan-rekannya.

Selain kesembilan mahasiswa Indonesia, dalam makan malam turut hadir 2 mahasiswi warga Rusia, Margarita dan Yulia, yang menekuni studi mengenai Indonesia di FEFU. Kecintaan kepada Indonesia bahkan ditunjukan Margarita yang bersedia disunting Albert Muhamad, mahasiswa Fakultas Ilmu Politik FEFU, sebagai istri.  

Dubes Djauhari yang sejak 25 hingga 28 Maret 2015 berada di Vladivostok dalam rangka pertemuan bisnis dengan pengusaha setempat dan penjajakan pendirian “House of Indonesia” di Vladivostok, berpesan agar para mahasiswa sebagai generasi penerus tidak terbuai dengan fasilitas dan kemudahan yang didapatkan selama pendidikan. Sebaliknya para mahasiswa agar tetap giat belajar, pantang menyerah dan bila tiba waktunya nanti agar kembali ke tanah air guna membangun bangsa dan negara. Petuah Dubes Djauhari disanggupi dilaksanakan para mahasiswa dan mereka siap kembali ke tanah air setelah menyelesaikan studi di Rusia.

Keesokan siang (27/3) Dubes RI yang didampingi Konsul Kehormatan Maria Chuprina dan Atase Perdagangan Heryono Hari P. melakukan kunjungan ke kampus Primorsky State Academy of Agriculture (PSAA) dan diterima Rektor PSAA, Andrey Komin. Selama pertemuan, Rektor PSAA menjelaskan struktur akademi dan disiplin ilmu yang dipelajari di PSAA. Kedua pihak juga membahas prospek kerjasama PSAA dengan lembaga pendidikan sejenis di Indonesia. 

Sebagai pamungkas kunjungan, Dubes Djauhari didaulat memberikan sambutan dalam forum ilmiah tahunan mahasiswa SPAA “Youth Innovation – The Development of Agriculture” dimana Dubes mempresentasikan mengenai Indonesia dihadapan hadirin. (Sumber: KBRI Moskow dan Kampus PSAA )

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...