25 May 2017

Komunitas Lima Gunung Gelar Festival Tradisi Jawa Tengah

KONFRONTASI-Seniman petani Komunitas Lima Gunung Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Kamis (8/5) malam, mementaskan secara urut-urutan, antara lain tabuhan musik truntung, tarian Topeng Saujana, Gupolo Gunung, Kukilo Gunung, Kembang Kanoman Hip Hop, dan Soreng, sedangkan pamungkas pertunjukkan berupa wayang kontemporer "Wayang Gunung".

"Ayo kita senang-senang," begitu ucapan Eko "Pebo" Supendi mengajak anggota kelompok seniman Sapu Jagat Squad Kota Surakarta, seraya beranjak mendekati tempat pementasan tarian kontemporer desa, suguhan Komunitas Lima Gunung.

Pergelaran dalam rangkaian Festival dan Pameran Seni Tradisi Jawa Tengah (6-8 Mei 2014) itu, di pendopo Taman Budaya Surakarta. Hari terakhir rangkaian kegiatan itu, secara khusus, menampilkan kesenian kontemporer desa yang diolah Komunitas Lima Gunung yang meliputi kawasan Gunung Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh, dalam tajuk "Maneges Tradisi".

Puluhan anggota kelompok Sapu Jagat Squad pimpinan Pebo itu, masing-masing berpakaian serba warna hitam dan menabuh truntung.

Truntung adalah alat musik semacam terbang kecil, dipukul dengan sebilah bambu, sebagai pengiring utama tarian tradisional Soreng. Soreng, satu tarian tradisional yang hidup dalam masyarakat desa-desa di kawasan Gunung Merbabu.

Berbagai sajian secara urut-urutan tarian kontemporer desa itu, terlihat mendapat apresiasi dari penonton yang antara lain pengajar Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta Joko Aswoyo, pemimpin Padepokan Lemah Putih Karanganyar Suprapto Suryodarmo, para mahasiswa ISI Surakarta, dan kalangan seniman kota setempat.

Saat sajian nomor terakhir, sejumlah petugas Taman Budaya Surakara dan pegiat Komunitas Lima Gunung membagikan puluhan kentongan kepada penonton dan kemudian mengajak mereka untuk terlibat menggetarkan pendopo dalam pergelaran tersebut.

Mereka kemudian memukul kentongan-kentongan, menyertai tabuhan musik truntung dan alat lainnya, berupa kempul, kendang, drum, bedug kontemporer oleh para seniman petani Komunitas Lima Gunung.

Selama belasan tahun terakhir, Komunitas Lima Gunung mengembangkan musik truntung untuk pengiring dinamisasi kesenian rakyat mereka, terutama Soreng. Ritme musik truntung yang dinamis, menghentak, dan melopat-lompat, seakan wujud dari kekuatan pribadi-pribadi masyarakat lima gunung yang setiap hari bergelut dengan alam dan lahan pertanian sayuran mereka.

Beragam gerak tarian kontemporer desa, seperti Topeng Saujana, Gupolo Gunung, Kukilo Gunung, Kembang Kanoman Hip Hop, dan Soreng pun, tak lepas dari spirit masyarakat lima gunung dalam mengarungi kehidupan bersama alamnya.

Tarian Topeng Saujana gambaran aneka serangga yang sesungguhnya menjadi bagian kehidupan pertanian yang harus tetap dijaga kehidupannya, Gupolo Gunung terinspirasi oleh peran patung Gupala sebagai penjaga candi atau rumah dari marabahaya.

Selain itu, tarian Kukilo Gunung menggambarkan kekayaan burung yang hingga saat ini masih dijumpai hidup bebas di alam gunung, Kembang Kanoman Hip Hop paduan gerak gemulai perempuan dengan tarian modern --hip hop, dan Soreng menggambarkan latihan keprajuritan Aryo Penangsang (Adipati Jipang).

"Berbagai tarian kontemporer desa-desa kami di lima gunung itu, berjiwa desa. Mungkin bukan soal baik dan buruk tarian, tetapi hasil olahan kami menjadi karya-karya tari itu, kami nikmati sebagai tarian yang menjadi bagian dari kekuatan dasar kehidupan kami di desa dan gunung," kata Ketua Komunitas Lima Gunung Supadi Haryanto usai pergelaran.

Selama ini, anggota komunitasnya yang sebagian besar kalangan petani gunung "maneges" atas tradisi budaya, kesenian, dan kehidupan harian mereka.

Direktur Eksekutif Bentara Budaya Hariadi Saptono melalui Harian Kompas, 17 Desember 2013, menuliskan pengertian "maneges" sebagai usaha secara terus-menerus berefleksi, merumuskan diri, dan mencari jalan keluar atas berbagai tantangan. Tulisan itu, pula terkait dengan pergelaran kesenian, pameran seni rupa, dan dialog kebudayaan "Maneges Gunung" yang diusung Komunitas Lima Gunung di Bentara Budaya Jakarta, akhir tahun lalu.

Pebo dan kawan-kawannya di kelompok Sapu Jagat Squad Kota Surakarta rupanya meraih inspirasi sajian "Maneges Tradisi" itu, dari irama musik truntung. Mereka pun kemudian "nimbrung", berkolaborasi dengan para seniman petani Komunitas Lima Gunung, dalam pergelaran, Kamis (8/5) hingga menjelang tengah malam itu.

Melalui ritme tabuhan truntung berpadu bunyi kentongan, mereka kemudian membawa para penonton, beranjak dari pendopo pementasan "Maneges Tradisi" menuju depan Galeri Seni Rupa, kompleks Taman Budaya Surakarta, tempat pementasan "Wayang Gunung" durasi pendek oleh dalang Ki Gendut dari Kota Solo.

"Wayang Gunung" karya seorang petinggi Komunitas Lima Gunung, Sujono, berupa bermacam karakter serangga yang hidup di kawasan desa dan gunung tempat tinggalnya di antara Merapi dan Merbabu, di Dusun Keron, Desa Krogowanan, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang.

Sejumlah nomor irama truntung mereka unggah lagi di tempat itu. Pebo dan kawan-kawannya mengemas juga sajian musik itu dengan cuplikan gerakan sederhana tarian kontemporer desa. Mereka juga memadukan tabuhan truntung dengan suguhan sejumlah tembang dan beberapa gerakan tarian hip hop.

Tepuk tangan penonton dan wajah-wajah riang mereka, ketika pesan dari sajian "Maneges Tradisi", seakan tertangkap di ujung irama truntung. (rim/ant)

Category: 

loading...


News Feed

Loading...