16 December 2017

Kiai Jalal atawa Nabi Khidir

Cerpen :  Humam S Chudhori

 

 

SEJAK merantau, Kaslani belum pernah sowan lagi ke guru ngajinya yang ada di daerah apabila mudik. Padahal setiap Lebaran ia pasti mudik. Entah kenapa ia baru ingat Kiai Jalal setelah kereta yang dinaikinya meninggalkan stasiun.

Konon, siapa berniat jahat kepada Kiai Jalal pasti sial. Pernah ada yang mencuri kambingnya. Maling yang masuk kandang tak bisa keluar. Padahal pintunya tak terkunci. Bahkan maling tak bisa berdiri.

Berita ini cepat tersebar. Orang berduyun-duyun datang. Masyarakat geram. Namun, tak ada yang berani masuk kandang. Takut seperti si pencuri. Hanya merangkak. Mereka hanya menonton lelaki yang merangkak ke sana-kemari di kandang.

Sejak kemarin Kiai Jalal pergi bersama istrinya. Entah ke mana. Yang pasti, malam tadi mereka tak ada di rumahnya.

Pagi itu, Kiai Jalal tiba di rumahnya pukul sepuluh. Lelaki berjanggut itu masuk kandang. Tanpa bicara apa pun ia menarik tangan sang pencuri, setelah sebelumnya mulut sang kiai komat-kamit. Ibarat ibu mengajari anak berdiri. Seketika itu maling bisa berdiri. Tidak mengembik lagi. Lelaki yang bermaksud jahat tersebut dituntun sang kiai keluar dari kandang.

Kiai Jalal tak menunjukkan kekesalannya. Meski menjadi korban pencurian.

Setelah keluar kandang ia berbicara, di depan orang-orang yang berkerumun, agar mereka tidak main hakim sendiri.

Kiai Jalal mengajak sang pencuri ke teras rumahnya. Menasihatinya. Memberi makan kepada lelaki berkulit legam itu.

**

"UNTUK apa?" tanya Kiai Jalal tatkala Kaslani minta ilmu kedigdayaan..

Kaslani diam.

Kenapa Pak Kiai punya ilmu semacam ini? tanyanya dalam batin.

"Tak usah Kamu cari yang aneh-aneh, Kas. Dulu, perlu. Apalagi zaman saya muda. Bukan untuk gagah-gagahan. Tetapi, agar tidak dipecundangi Londo atau antek-anteknya," ucap Kiai Jalal.

Kaslani masih diam.

"Mana mungkin kita bisa merdeka kalau tak ada yang punya ilmu semacam ini? Senjata kita hanya bambu runcing. Londo? Mereka pakai bedil. Bisa membunuh dari jarak jauh. Kalau bambu runcing, parang, atau belati? Ya, kalau tidak jarak dekat, mana bisa membunuh." Kiai Jalal menambahkan, "Cuma hal ini tak pernah tercatat sejarah. Yang kita tahu para pejuang melawan penjajah pakai bambu runcing. Padahal ada yang lebih berperan daripada bambu runcing."

"Maksud Pak Kiai?"

"Apa artinya bambu runcing jika tak ada 'isi'-nya. Lha wong yang dilawan orang pakai bedil. Paham kamu?"

Kaslani mengangguk.

**

SEBELUM merantau, Kaslani sowan ke rumah Kiai Jalal. Maksudnya hendak pamitan sekaligus mohon doa restu, agar cepat mendapat pekerjaan. Di luar dugaannya, ia diberi isim oleh guru ngajinya.

"Biar kamu tak lama menganggur," ujar sang kiai saat menyerahkan isim kepada Kaslani, "Barang ini harus kamu bawa saat melamar kerja."

Kaslani diam.

"Kalau kau anggap benda ini bisa memberi pekerjaan, kamu musyrik."

Kaslani masih diam.

"Jika orang punya pendidikan tetapi masih menganggur, artinya Allah belum menghendaki orang itu punya pekerjaan. Punya pekerjaan yang bagus bukan ditentukan tingginya pendidikan. Ijazah tidak menjadi jaminan kita mendapat pekerjaan. Pendidikan hanya salah satu persyaratan untuk mencari kerja," lanjut Kiai Jalal. "Demikian juga dengan isim ini, Kas."

Kaslani masih tetap diam.

Meski belum paham maksud Kiai Jalal. Kaslani tak berani menolak pemberian guru ngajinya. Menolak pemberian Kiai Jalal sama artinya tak mau direstui sang guru.

**

KETIKA Kaslani mengambil cuti dan mudik untuk kesekian kalinya. Lelaki yang masih membujang itu tak ingin tidak sowan ke rumah guru ngaji yang sudah pindah ke lain desa. Itu sebabnya setelah tiba di stasiun, ia langsung menuju ke rumah sang guru ngaji sebelum pulang ke rumah orang tuanya sendri. Ia takut lupa seperti pada waktu-waktu sebelumnya.

Sebelum sowan ke Kiai Jalal, Kaslani ke pasar. Maksudnya mencarikan oleh-oleh buat sang guru ngaji.

Di pasar, di depan sebuah toko sembako, Kaslani bertemu dengan Kiai Jalal.

"Sekarang kamu mau kemana, Kas?" tanya Kiai Jalal setelah mereka bercakap-cakap sebelumnya.

"Ke rumah Pak Kiai," jawab Kaslani.

"Kalau begitu, tolong sekalian bawakan belanjaan saya," ujar Kiai Jalal.

Rupa-rupanya Kiai Jalal sudah belanja di warung sembako itu. Barang-barang itu—beras sekarung, minyak goreng, telur, dan kerupuk udang—sedang dikemas oleh pelayan toko ketika Kaslani bercakap-cakap dengan guru agama itu..

**

NYI Ruqayah heran tatkala Kaslani datang membawa barang cukup banyak. Perempuan itu tahu kalau Kaslani tinggal di Jakarta. Sudah bertahun-tahun tidak pernah datang ke rumahnya.

"Dari mana kamu tahu jika nanti malam ada tahlilan?" tanya Nyi Ruqayah.

Tahlilan? Kaslani membatin. Siapa yang telah...?

"Belanjaan ini lebih dari cukup untuk acara nanti malam, Kas," Nyi Ruqayah membuyarkan pertanyaan dalam batin Kaslani.

Kaslani masih diam.

"Siapa yang kasih tahu kamu kalau nanti malam slametan seratus hari Bapak?" lanjut perempuan baya itu. "Bapakmu?"

Kaslani tetap diam.

Benarkah Pak Kiai sudah wafat? tanyanya dalam batin.

Tetapi, ia dititipi barang oleh guru ngajinya. Bahkan barang yang dititipkan itu masih tergeletak di serambi depan rumah Kiai Jalal setelah diturunkan dari becak.

Kaslani ingin menceritakan pertemuannya, beberapa saat sebelumnya, dengan Kiai Jalal di pasar. Namun, tiba-tiba ia seperti orang gagu. Kehilangan kosa kata.

Sementara itu, Nyi Ruqayah yakin sekali Kaslani sengaja berbelanja untuk keperluan selamatan almarhum suaminya.

Mungkinkah Kaslani merasa bersalah karena baru datang sekarang, hingga ia tak bisa menjawab pertanyaannya, pikir Nyi Ruqayah.

"Tidak apa-apa, Kas," lanjut Nyi Ruqayah, "jika Pak Kiai meninggal kamu tak melayat. Saya mengerti karena kamu sudah lama tinggal di Jakarta."

**

"APA benar Kiai Jalal sudah meninggal, Pak?" tanya Kaslani kepada ayahnya setelah tiba di rumah orang tuanya.

Rahmat mengangguk. "Bakda Isya nanti Bapak ke sana. Tahlilan. Memeringati seratus harinya."

"Tapi...."

"Maafkan Bapak, Kas," Rahmat memotong kalimat yang belum usai dilontarkan anaknya, "Bapak lupa mengabari kamu ketika guru ngaji kamu itu meninggal."

Kaslani diam.

Tapi, saya bertemu dengan beliau di pasar tadi. Bahkan beliau sempat titip barang belanjaan. Lantas siapa yang tadi bertemu saya? Saya yakin tidak salah lihat. Apakah yang tadi titip barang saudara kembar Pak Kiai? Tetapi Pak Kiai, kan, tak punya saudara kembar. Apa mungkin orang yang meninggal bisa hidup lagi? Atau yang saya temui tadi ilmu beliau yang menjelma dalam bentuk....

"Nanti malam kamu ikut tahlilan," ujar Rahmat membuyarkan pikiran anaknya.

"Tapi, Pak...." kembali Kaslani merasa tak sanggup melanjutkan kalimatnya.

"Saya tahu kamu capek. Tetapi ingat, bagaimanapun juga, beliau itu orang yang telah memberikan pengetahuan tentang bekal menuju akhirat," ujar Rahmat. "Mumpung kamu ada di sini."

Kaslani kembali terdiam.

"Apa yang bisa kamu lakukan, Kas, kalau tidak ikut mendoakan almarhum. Toh, kamu tidak mungkin lagi bisa berbuat sesuatu kepada beliau selain mendoakan beliau."

**

SEPANJANG perjalanan menuju Jakarta, Kaslani masih belum bisa memahami peristiwa yang dialami lima hari sebelumnya. Betapa tidak, orang sudah meninggal bisa menitip sesuatu. Kalau belum meninggal, mengapa pula di rumahnya diadakan tahlilan, memperingati kematiannya yang ke seratus hari.

Kaslani menceritakan peristiwa itu kepada penumpang kereta api yang duduk di sebelahnya—orang yang belum dikenalnya. Ia menceritakan semua peristiwa ganjil tersebut saat duduk di kereta api. Mulai dari bertemu dengan sang guru ngaji di pasar hingga menghadiri selamatan seratus hari wafatnya.

"Kejadian itu betul-betul saya alami, Pak," kata Kaslani saat melihat orang yang diajak bicara seperti tak percaya dengan ceritanya.

"Dialami atau tidak, hidup ini cuma mimpi. Coba Mas ingat-ingat peristiwa lain yang pernah Mas alami. Tak lebih dari sekadar mimpi yang sudah berlalu," ujar lelaki berkacamata tebal yang duduk di sebelah jendela kereta api.

Benarkah hidup hanya mimpi? Kenapa Kiai Jalal menitip sesuatu, bukan sekadar bertemu? Apakah ini yang disebut karomah? Kenapa pula saya tak bisa menceritakan yang saya alami kepada Bapak dan Nyi Ruqayah? Setumpuk pertanyaan menyergap pikiran Kaslani.

**

Di tempat kerjanya, Kaslani menceritakan peristiwa itu kepada teman-temannya. Namun, hampir semua temannya tak percaya dengan ceritanya. Cerita Kaslani dianggap mengada-ada. Menceritakan sesuatu yang tak pernah terjadi. Ia dianggap mengultuskan guru ngajinya, hingga bercerita yang aneh-aneh.

Saleh, satu-satunya teman Kaslani, yang dapat menerima ceritanya. Tetapi, lelaki berambut ikal itu yakin yang ditemui Kaslani bukan guru ngajinya, melainkan Nabi Khidir.

**

Malam ini Kaslani gelisah. Resah. Bingung. Hingga ia sulit memejamkan mata. Karena tak bisa memahami peristiwa yang dialami beberapa hari sebelumnya, tatkala ia pulang kampung.

"Beruntung kamu, Kas. Yang kamu temui itu Nabi Khidir. Beliau masih mungkin ditemui orang. Dan, beliau bisa berwujud siapa saja. Bukan cuma seperti almarhum guru ngaji kamu. Bahkan bisa seperti pengemis atau gelandangan. Tapi, jarang orang bisa paham kalau yang ditemui itu Nabi Khidir. Orang baru sadar setelah peristiwa berlalu," demikian kata Saleh yang masih terngiang di telinga Kaslani, siang tadi di kantin kantor.

Betulkah yang saya temui itu Nabi Khidir? Atau yang saya alami hanyalah mimpi seperti yang dikatakan bapak tua di kereta yang tahu-tahu lenyap seperti ditelan makhluk gaib? Seingatnya, setelah bercakap-cakap dengan bapak tua itu, ia terkantuk sejenak. Ketika ia membuka mata, lelaki itu sudah raib, tanpa pernah ia tahu. Jangan-jangan pak tua yang ngobrol dengannya juga Nabi Khidir? Kembali setumpuk pertanyaan memenuhi pikiran Kaslani.

***

(Jft/TribunJbr)

 

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...