21 February 2019

KEMARAHAN SEORANG HARIMAN (2

 

Juftazani

 

—tak ada yang menarik dari kekuasaan yang pongah,
tak ada yang mulia dari pemimpin yang pikun.
Para kerbau berlari dan berpidato,
tapi kami pasti tak hirau.
Sebab, kami manusia yang punya kuasa untuk berubah—

(Hariman Siregar)

 

 

Aku mencurigai kedatangan Kakuei Tanaka

Ini tikus got dari Timur yang rakus dan mengerat apa saja

Yang mereka dapatkan dari tanah, bumi, air, udara dan lautku

Ini bentuk protesku atas kekuatiran dominasi modal asing di negeriku:

Mengapa para ahli menganalisa sepak-terjangku sedemikian jauh

Aku membela kedaulatan negeri, rakyat dan bangsa di depan bangsa asing

Para petinggi membungkuk-bungkuk dan bersedekap menghormati tikus got

Yang mengenakan dasi dan senyum lebar

Hanya sekedar basa-basi untuk mengeruk kekayaan negeriku

Dan menjajah ekonomi rakyat negeriku

 

 

Aku mencurigai Soeharto, para jenderal yang bersilat lidah

Di depan wartawan

Hanya untuk mendapat cap sebagai pahlawan dalam menumpas

Demonstrasi Malari

Yang pecah menjadi Malapetaka

Mereka menjual bangsaku, negeriku, kedaulatan negeriku

Persis seperti sebagian raja-raja bersujud sembah kepada Meneer VOC

Yang congkaknya setengah mampus

Kerusuhan yang diwarnai pencurian, pembakaran dan terbunuhnya para demonstran

Dan juga rakyat tak berdosa

Aksi yang terpisah dari gerakan Malari

Ada upaya meneriaki copet oleh copet

Kini para ‘hoaker’ meneriaki ‘hoaks’ kepada kubu saingannya

Dan aneh sekali bangsa ini

Bermental “Lempar batu sembunyi tangan”

Hariman bersama rekan-rekan mahasiswa dituding sebagai ‘otak’  kerusuhan

 Aku  menolak sebagai penyebab dalam kerusuhan

Yang jadi simbol perlawanan Terhebat Pertama

Terhadap kekuasaan bapak-bapak Orde Baru

Bereskan tikus-tikus yang selalu jadi ancaman bangsa

Yang menggerogoti segala kekayaan, harga, wibawa dan kehormatan bangsa

‘Freeport” adalah salah satu contoh

Kehormatan, harga diri, wibawa dan kehormatan bangsa

Sudah diinjak-injak di bawah kaki kapitalis dan bangsa lain

Bertahun yang menghinakanku dan anak-anak muda yang mencintai Negara

,Kemerdekaan, kebangsaan dan kehormatan

Di tengah percaturan politik dunia yang makin carut marut

Kini jiwa dan mentalitas bangsa ini

Lebih carut marut dengan menyodorkan simbol-simbol yang menipu

“Nawacita” yang  meneruskan cita-cita Soekarno “Trisakti”

Rezim Jokowi menjanjikan “berdaulat dalam politik, mandiri secara ekonomi,

Berkepribadian dalam kebudayaan”

Tapi 260 juta anak bangsa disodorkan “pepesan kosong”

Persis seperti Belanda minta tanah, lantas merampas udara, air dan segala isi bumi

Yang mereka kuasai, eksploitasi (injak) dengan semena-mena

Semua kini hanya tinggal janji-janji

Dan kedaulatan Negara tinggal diserahkan kepada penjajah berwajah baru

Dalam peta kolonialisme dunia zaman Mukidi

Meninggalkan zaman “Ramadi”

Hasil gambar untuk Hariman SIregar

 

Ini catatan psiko-politik:

Permasalahan bangsa-bangsa terjajah

selalu memunculkan mentalitas orang-orang ambtenar plus

Membungkuk-bungkuk

kepada status quo, kuasa oligarki dan raja tak tahu diri

Hariman memilih berpaling muka dan lebih mencintai rakyat kecil tertindas

Langka sekali pribadi  yang memiliki nurani sekaligus pemberani

Hanya orang-orang pemberani dan berhati nurani yang bersih dan nekat selalu menyempal

Yang dapat mewarisi “gerak-gerikmu, Hariman

 

 

 

Tangerang, Pagi, 11 Februari 2019

 
 
 
Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...