26 August 2019

KEMARAHAN SEORANG HARIMAN

Juftazani

 

Dalam keadaan luka 
Yang belum sembuh total
Dia keluar lagi, melihat negeri hancur karena janji-janji
Yang tak pernah ditepati

 

Aku Hariman yang mengaum membangkitkan asa yang telah runtuh
Dari rongsokan UUD 1945 yang dihancurkan tukang batu 
Dari gunung Tianmen dan penyair Li Tai Po yang suka mabok itu
Kini ia mabok di negeriku 
Dan mengumandangkan syair-syair peperangan di zaman T’ang

 

Dengar, getaran jejak laparku yang mengerocok ratusan abad
Dari negeri kepulauan nusantara yang kenyang
Melewati kepedihan, lapar dan belenggu 
Kaki dan tanganku terus mereka ikat

 

Kalian, dari kuasa politik dan ekonomi yang menggurita 
Melilit seluruh pinggang hutan-hutanku yang kini tinggal kurus
Kalian Minta seekor rusa atau kuda akan kuberi 
Tapi bila kalian minta ringkik pedih anak-anak negeri di jalan terluka
Mengingatkanku dengan pertarungan panjang Cut Nyak Dien sampai 
Martha Christina Tiahahu di hutan-hutan Gunung Leuser dan Saparuda

 

Aku Hariman yang tak lagi peduli dengan keselamatan diriku
Ayo, bangkitkan semangat peperangan dari pahlawan bangsa
awas ! jangan bikin Hariman marah 
Satu persatu singa-singa lapar dari benua baru
Atau benua lama, akan kuterkam hidup-hidup

Hasil gambar untuk hARIMAN sIREGAR dan Malari

Untuk menghangatkan tubuhku yang lama dilaparkan dan ditikam 
Di seluruh tubuh yang kurus dan renta 
Tapi Tuhan belum berkehendak memanggilku pulang
Aku masih akan hidup berdasar catatanNya
Dari Lauh al-Mahfuz

 

Jangan bikin Hariman turun gelanggang 
Seribu jenderal tunggang-langgang lari dari medan pertempuran
kelak kalian (kuasa politik dan kuasa ekonomi) tiba juga saatnya merapuh
Tinggal senyap debu berterbangan 
Dan rakyat Indonesia adalah laut yang akan menjadi abadi
Walau digedor seribu serangan dan hantaman senjata

 

Aku adalah Hariman yang rindu memecah kesunyian 
Dari rendahnya pemahaman sejarah dan dangkalnya semangat meronta
Dari gurita-gurita yang menghisap dan merampas
Aku ingin menjadikan gurita-gurita gemuk dan kenyang, rakus  dan bengis itu
Menjadi cacing-cacing yang menggeliat dan menjerit di atas kepanasan
Api pergolakan Malari yang tak kenal jalan sunyi

 

Tangerang, Pagi 8 Februari 2019

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...