22 January 2017

Kelompok Kreatifitas Difabel di Bandung, Bikin Tangan dan Kaki Palsu

KONFRONTASI -  Kelompok Kreativitas Difabel di Bandung Jawa Barat membuat kaki dan tangan palsu untuk membantu sesama difabel. Dari hasil penjualan produk, mereka menyisihkan keuntungan untuk para difabel tak mampu. Bagaimana mereka bertahan?

Didin Prasetyo (29) tampak sibuk menghaluskan sebuah kaki palsu yang dibuatnya bersama dengan rekan sesama difabel di bengkel Kelompok Kreativitas Difabel di daerah Kiara Condong, Bandung.

Didin, yang merupakan salah satu difabel asal Banjarnegara Jawa Tengah, tinggal di bengkel sejak dua tahun lalu dan terlibat dalam pembuatan kaki dan tangan palsu.

"Intinya mah senanglah, senang walaupun fisik kurang masih bisa berbagi dengan orang yang sesama. Banggalah senang karena masih bisa kepake, terus di samping itu membantu juga yang tadinya aktivitasnya kurang, yang tadinya tidak bisa bekerja (jadi) bisa kerja, jadi ada kesenangan tersendirilah," kara Didin.

Cedera di tulang ekor yang dialaminya sejak enam tahun lalu, membuat Didin harus berjongkok ketika berjalan.

Sementara itu, Ribut Setiawan yang duduk di dekat Didin tengah mencoba sebuah lengan palsu buatan bengkel KKD.

Laki-laki asal Solo, Jawa Tengah berusia 27 tahun itu kehilangan tangan kirinya sejak masih SMA akibat salah penanganan pada luka patah tulangnya, sehingga menyebabkan infeksi dan harus diamputasi.
Dia langsung tertarik bergabung dengan KKD sejak lima tahun lalu karena diajak salah satu pendirinya. Lagi pula di daerah asalnya, dia sulit mencari pekerjaan.

"Awalnya diajak sama Indra, lalu tertarik daripada diam di rumah. Kalau di daerah saya ini cari kerja susah, pernah cari kerjaan di pabrik tapi ya susah. (Di sini) cuma ngelem, ngamplas, karena kalau pegang mesin bahaya."

Selain bisa bekerja, Ribut mengatakan rekan-rekan di KKD juga membantunya untuk menghilangkan rasa minder yang dialami sejak tangannya diamputasi. Di sini pun, dia ikut memberikan motivasi pada difabel lain.

"Seneng bisa membantu sesama difabel, kalau ada pasien ke sini dikasih motivasi biar nggak nge-down. Enak di sini orangnya enak-enak. Ada yang diemaja mba, nggak ngomong, terus dikasih motivasi oleh anak-anak, becanda. Ya akhirnya tumbuh semangat sedikit demi sedikit. Di sini dikasih motivasi tetapi ya nggak tau di luar ya. Disuruh jangan minder yang lebih parah ada tetapi dia tetap semangat."

Subsidi silang

Kelompok Kreativitas Difabel di Bandung didirikan oleh Anwar Permana (40 tahun), Indra Semedi, dan Iwan Ridwan serta seorang mantan tenaga pemasaran tangan palsu Yusuf Suhara atau Jon, pada 2009 lalu.

Anwar mengatakan ide pembuatan kaki dan tangan palsu ini tercetus karena mahalnya harga alat bantu bagi difabel di pasaran yang mencapai lebih dari Rp20 juta. Lalu, mereka pun melakukan uji coba selama satu tahun untuk membuat kaki dan tangan palsu dengan berbagai bahan yang harganya terjangkau.

"Pertama itu kita coba-coba dari bahan PVC. Bahan dari PVC itu waktu itu kendalanya mudah pecah, dingin, kalau udah retak udah(tidak bisa diperbaiki). Setelah itu pake aluminium. Kita bukannya nggak mau nirukayak bahan pabrikan itu karena (menggunakan bahan baku ) nylon dan fiber, (tetapi) dari lingkungan kita itu yang membutuhkan tangan dan kaki palsu itu dari menengah ke bawah," jelas Anwar.

Untuk membuat produknya, KKD juga membuat sendiri berbagai komponen, antara lain engsel dan bearing menggunakan bahan baku daur ulang, dari bekas menara. Tetapi, meski harga murah, Anwar menjamin kualitas kaki dan tangan palsu buatan KKD tak kalah dengan produk buatan pabrik.

Dalam menjual produknya, KKD juga menerapkan sistem subsidi silang, jelas Anwar."Kita dari KKD sendiri kita bikin subsidi silang ini, kita carinya 3-4 keluar kaki (penjualan) kita bisa menyisihkan satu kaki palsu, karena dari banyak yang datang ke KKD sendiri bukannya beli tapi pengen gratis," jelas Anwar.

Sejak 2010 lalu, KKD telah membagikan lebih dari 200 kaki palsu bagi difabel yang membutuhkan. Bagaimanapun, menurut Anwar pemberian tangan ataupun kaki palsu gratis ini, tergantung dari banyaknya penjualan.(Juft/BBC)

 

Category: 

loading...
loading...

BACA JUGA:      

Loading...