24 August 2019

Kata Pram, Nulis itu ya Nulis saja. Ungkap Novelis AS Laksana

“Nulis Ya Nulis Saja.”

 

 

Pada tahun 1993, untuk pertama kalinya saya bertemu Pramudya Ananta Toer, penulis yang namanya sering saya dengar tetapi buku-bukunya dilarang beredar, seolah-olah orang akan segera menjadi setan begitu membaca karya-karyanya. Karena itu, mendapatkan buku-buku Pram juga menjadi semacam petualangan tersendiri yang mendebarkan.

Saya datang ke rumahnya di daerah Rawamangun waktu itu dan mewawancarainya untuk tabloid DeTIK. Itu wawancara yang sungguh merepotkan. Pertama karena pendengaran Pram sudah tidak peka. ”Telinga saya dipopor bedil,” katanya sambil menunjuk telinganya, saya lupa kiri atau kanan. Kedua, karena tiap beberapa saat, Pram melongok ke luar, menunjukkan isyarat khawatir setiap kali ada orang melintas di depan rumahnya, siapa tahu salah satu dari orang yang lalu lalang itu adalah intel yang sengaja nguping pembicaraan.

Jadi, ada dua hal yang saling bertabrakan pada saat itu. Agar Pram mendengar, saya harus bicara keras, dan pasti suara saya terdengar sampai ke jalanan. Tetapi, karena tiap saat Pram melongok keluar, saya harus merendahkan volume suara saya, dan akibatnya ia tidak mendengar. Kadang saya harus mengulang pertanyaan beberapa kali sampai Pram bisa mendengar, dan itu berarti orang yang kebetulan lewat di depan rumahnya pasti mendengar.

Setelah wawancara selesai, kami ngobrol-ngobrol sebentar dan saya menyampaikan pertanyaan yang paling ingin saya tanyakan kepadanya:

”Bagaimana cara menulis bagus?”

”Kalau mau nulis ya nulis saja,” katanya.

Jawaban itu sungguh memukau dan saya tidak sanggup mengajukan pertanyaan lain. Saya merasa bahwa itu jawaban yang paling pas untuk pertanyaan saya, dan saya mempercayai itu karena orang yang mengatakannya bernama Pramudya Ananta Toer. Kemudian saya pamit, dan itu rupanya juga pertemuan terakhir saya dengannya. Setelah itu saya tidak pernah ketemu lagi dengannya.

Sampai hari ini sudah beberapa kali saya mendengar pernyataan seperti itu disampaikan orang, dan sekarang saya merasa itu jawaban yang sangat menjemukan. Anda bisa melakukannya—nulis ya nulis saja—dan itu saran yang membesarkan hati pada mulanya, tetapi beberapa waktu kemudian anda mungkin akan putus asa karena tulisan anda hanya berputar-putar di situ-situ saja, tidak ada peningkatan teknik, tidak ada peningkatan kualitas, dan tidak ada kecakapan bertutur. Anda sendiri mungkin tetap kesulitan menulis setelah bertahun-tahun menyimpan keinginan menulis.

Tentu saja benar bahwa anda harus menulis ketika anda ingin menghasilkan tulisan. Namun, jika anda sekadar ”nulis ya nulis saja”, anda seperti pemain sepakbola yang memegang prinsip ”main ya main saja.”

Untuk menjadi pemain sepakbola yang baik, mula-mula anda harus mengenal peraturan permainan dan menguasai teknik bermain bola. Ketika anda tidak mengenal peraturan permainan entah sepakbola atau tenis atau bola basket atau yang lain-lainnya, mustahil anda menyukai cabang-cabang olahraga tersebut. Bermain setiap hari tanpa tahu peraturan permainan dan tanpa menguasai keterampilan teknis bermain bola, anda hanya akan berlari-larian di lapangan, tidak peduli pada penempatan posisi, dan menggasak bola ke arah mana saja anda menghadap.

Bermain dengan cara itu tentu bisa membuat anda sehat. Paru-paru anda kuat, tendangan anda semakin keras, dan anda lebih sanggup berlari. Namun, setelah beberapa waktu, anda mungkin tidak bisa menikmati permainan anda sendiri dan itu akan cepat membuat anda jemu. Orang memerlukan peningkatan dan itu hal yang tidak mungkin terjadi pada sepakbola kampung atau sepakbola jalanan. Benar bahwa banyak pemain besar memulai bermain bola di jalanan, tetapi mereka kemudian meningkatkan keterampilan dengan penguasaan berbagai kecakapan teknis yang dibutuhkan untuk bermain bola.

Jika mereka tidak meningkatkan diri, mereka akan terus bermain di jalanan, dan itu hanya permainan kanak-kanak yang tidak mungkin dipertahankan selamanya. Sehebat apa pun pemain bola kelas kampung, mereka tidak mungkin bisa dimainkan di level kompetisi besar. Mereka tidak memiliki kecakapan teknis, mereka tidak menguasai berbagai kecakapan yang dibutuhkan untuk menjadi pemain bola sungguhan. Mereka hanya tahu cara berlari dan menendang, dan itu adalah kecakapan kelas rendah yang memang hanya bisa dimainkan di lapangan kampung atau di tanah-tanah lapang.

Seperti itu juga dalam menulis. Dan sesungguhnya anda bisa membuat perumpamaan dengan cabang olahraga apa pun yang anda sukai, atau dengan kecakapan bersepeda, atau dengan keterampilan bertukang. Tetapi jangan membuat perumpamaan dengan keterampilan berenang. Anda tidak bisa mengatakan, ”Kalau mau berenang ya nyemplung saja.” Orang yang tidak memiliki kemampuan berenang bisa mati karam jika anda suruh nyemplung begitu saja di kolam yang dalam.

”Dia Penulis Hebat”

Anda bisa mengatakan dalam kalimat yang singkat: ”Dia penulis bagus,” atau ”Dia penulis hebat.” Dan apa yang menjadikan dia penulis bagus atau penulis hebat.

  1. Dia bisa menulis deskripsi dengan menarik; dia memiliki kecakapan menuliskan deskripsi.
  2. Dialog-dialognya sangat bagus; dengan kata lain, dia memiliki kecakapan menyusun dialog.
  3. Metaforanya dan perumpamaannya selalu cerdas dan segar; dengan kata lain ia memiliki kecakapan membuat metafora dan perumpamaan.
  4. Karakter-karakter dalam ceritanya selalu menakjubkan; dengan kata lain, ia memiliki kecakapan menciptakan karakter yang hidup dan meyakinkan.
  5. Pilihan katanya selalu kuat; dengan kata lain, ia memiliki kecakapan memilih kosakata.
  6. Ceritanya selalu menggetarkan; dengan kata lain, ia memiliki kecakapan bercerita. Ia memiliki kecakapan untuk mengatur plot.
  7. Imajinasinya sangat liar dan sungguh tak pernah terbayangkan; dengan kata lain, ia memiliki kecakapan berimajinasi.
  8. Setiap kalimatnya tidak pernah mubazir; dengan kata lain, ia memiliki kecakapan untuk bertutur secara efisien dalam tulisan-tulisannya.
  9. Ia mampu melukiskan segala sesuatu dalam detail yang menawan; dengan kata lain, ia memiliki kecakapan mengolah detail.
  10. Adegan-adegan dalam ceritanya betul-betul indah; dengan kata lain, ia memiliki kecakapan menciptakan adegan-adegan yang indah.
  11. Sudut penceritaannya selalu menarik; dengan kata lain, ia memiliki kecakapan memilih sudut penceritaan.
  12. Dan lain-lain.

Jadi, apa yang anda sebut dalam satu kata kalimat sederhana “dia penulis bagus” atau ”dia penulis hebat” itu sesungguhnya mengandung rincian semacam di atas. Dan itu serupa dengan pemain bola hebat yang jika kita bahas secara rinci akan muncul detail-detail sebagai berikut: ia memiliki kecakapan menggiring bola, menyerobot bola dari kaki lawan, menghindari jegalan, menyundul bola, mengecoh lawan, mengontrol bola dengan dada, menerima umpan, memilih posisi, dan sebagainya. Dan itu semua hasil dari ketekunannya melatih diri.

Seorang penulis hebat juga telah melatih dirinya untuk menguasai berbagai aspek detail yang diperlukan untuk cakap menulis. Dan, ketika sudah cakap, ia bisa mengoperasikan seluruh kecakapan itu tanpa perlu berpikir keras bagaimana caranya. Pramudya Ananta Toer sudah memiliki seluruh kecakapan yang diperlukan untuk menulis bagus, karena itu ia bisa dengan enteng mengatakan, ”Kalau mau nulis ya nulis saja.” Ia memang sudah tidak berpikir lagi bagaimana cara menulis bagus. Ia hanya perlu menjaga dirinya agar selalu ”punya cerita” untuk disampaikan kepada pembaca.

Lantas bagaimana dengan penulis non-fiksi?

Sama saja. Ia juga melatih diri untuk memiliki kecakapan memilih kata, menggunakan perumpamaan dan metafora, menuliskan deskripsi, menentukan sudut pandang, ia memiliki kecakapan untuk menyampaikan dalam cara berbeda, dan sebagainya. Seorang penulis non-fiksi yang baik semestinya juga mengenal dramaturgi, sehingga ia bisa menulis dalam aliran yang terus memancing orang untuk membaca dari awal sampai akhir. Penulis yang tidak peduli pada cara penyampaian biasanya akan menghasilkan artikel-artikel yang ”kering”.

Kenapa anda perlu membaca buku-buku teknik menulis
Sekarang, entah anda berminat menekuni penulisan sepenuhnya, atau hanya menulis untuk bersenang-senang, atau menulis untuk mendukung profesi utama anda, saya menyarankan anda untuk menguasai kecakapan menulis sesempurna yang anda bisa wujudkan. Saya pernah menyampaikan bahwa buku adalah alat pemasaran yang sangat efektif. Dan itu terbukti hingga sekarang. Level anda akan meningkat dibandingkan orang-orang lain yang di bidang yang sama dengan anda karena anda menulis buku dan mereka tidak. Publik selalu menganggap penulis buku adalah pakar.

Jika anda hanya menulis untuk bersenang-senang, anda akan semakin menikmati kesenangan anda jika anda terus meningkatkan kecakapan anda. Tanpa peningkatan, anda akan kehilangan gairah untuk bersenang-senang dengan menulis. Pada waktu pertama kali anda menyelesaikan tulisan dan menunjukkannya kepada teman-teman, mereka akan royal memberikan pujian sembari mendorong anda untuk terus menulis. Kemudian anda berpikir untuk mengikuti saran mereka. Kemudian, ketika anda terus berkutat dengan kesulitan meningkatkan diri, anda akan cepat merasa jemu. Dan anda akan segera memprotes diri sendiri: ”Untuk apa ini semua?”

Pada umumnya seperti itu. Maka jika anda sekarang punya minat menulis, dan anda peduli untuk meningkatkan kecakapan anda menulis, langkah pertama anda adalah menyediakan waktu untuk menulis dan memperkaya pengetahuan anda tentang penulisan. Saran saya tetap sama sampai hari ini: kuasai aspek-aspek paling mendasar, dan anda nanti bisa bersilat dengan gaya bebas ketika anda sudah cakap. Muhammad Ali memahami semua teknik bertinju secara benar dan bisa melakukannya. Namun, ia kemudian melanggar teknik baku untuk mendapatkan gaya bertinjunya sendiri yang sangat indah. Jadi, kuasai teknik baku dan pengetahuan-pengetahuan dasar tentang menulis, sehingga anda bisa membebaskan diri dari itu semua.

Beberapa hal tentang penulisan kreatif sudah saya tulis di buku Creative Writing: Tip dan Strategi untuk menulis Cerpen dan Novel, diterbitkan pertama kali oleh Mediakita tahun 2005. Karena sejumlah orang masih menanyakan buku tersebut, saya membuat versi ebook-nya dan bisa didownload gratis di http://as-laksana.blogspot.com (blog Ruang Berbagi) . Saya tidak akan mengulangi lagi dalam ebook ini apa yang sudah saya tulis di sana.

Sikap mental
Ini hal yang seingat saya nyaris tidak pernah disinggung dalam buku-buku penulisan. Padahal ia sangat penting. Anda tahu, dalam sebuah klub olahraga, semua orang mendapatkan latihan yang sama, dilatih oleh pelatih yang sama, dan menguasai kecakapan teknis yang sama. Pertanyaannya, kenapa hasilnya berbeda-beda?

Anda bisa menjawab bahwa di situlah pentingnya bakat. Tetapi saya tidak peduli dengan  bakat dan kita akan bicarakan hal itu nanti di bagian lain. Di luar urusan bakat, satu hal penting yang seringkali luput dibicarakan adalah sikap mental. ”Kau tidak bisa meningkatkan kecakapan menulis dengan mempertahankan sikap mental seorang pengemis,” kata saya pada seseorang yang selalu minta dikasihani.

Tentu saja Anda juga tidak bisa meningkatkan kecakapan menulis dengan mempertahankan sikap mental seorang yang cengeng. Anda tidak bisa meningkatkan kecakapan menulis dengan sikap mental seorang yang lembek. Anda tidak bisa meningkatkan kecakapan menulis dengan mengembangkan sikap mental pemalas.

Kebanyakan orang mengembangkan sikap mental secara tidak sadar. Mereka juga mengembangkan keyakinan (belief) secara tidak sadar, dan melakukan tindakan-tindakan tidak sadar untuk mewujudkan keyakinan tersebut. Sejumlah pengalaman di masa lalu berperan penting dalam ketidaksadaran orang mengembangkan keyakinan dan membangun sikap mental. Orang sering mengatakan, ”Pada situasi di bawah tekanan, setiap orang cenderung menampakkan watak aslinya.” Yang disebut ”watak asli”, anda tahu, selalu diwakili oleh ekspresi yang terjadi di luar kesadaran, ketika orang melakukannya tanpa berpikir.

Situasi menekan membuat orang tidak mampu berpikir, kesadarannya melumpuh, sehingga yang kemudian bekerja adalah ketidaksadaran.

Seorang juara, di bidang apa pun, pasti mengembangkan sikap mental yang berbeda dari seorang pecundang. Seorang juara terus-menerus mengembangkan sikap mental juara. Dalam situasi yang sangat menekan, ia tetap akan menampilkan sikap mental seorang juara. Seorang pecundang, kendati dibekali dengan teknik yang sangat memadai, cenderung mengembangkan gambaran mental yang buruk tentang dirinya sendiri. Dalam situasi menekan, ia mudah frustrasi dan putus asa.

Seorang atlet tidak mungkin menjadi juara selagi ia mempertahankan sikap mental pecundang, dan tidak tahu bagaimana menggunakan kesadarannya untuk mengembangkan sikap mental juara. Seorang pegawai yang meyakini bahwa ia bisa melakukan pekerjaannya secara optimum, tentu akan mendorong dirinya ke arah sana. Sementara pegawai dengan sikap mental sebaliknya akan membuat dirinya bekerja pas-pasan saja.

Seorang penulis yang mengembangkan sikap mental pecundang akan menekuni bidangnya dalam cara yang sangat berbeda dengan penulis yang mengembangkan sikap mental seorang penulis hebat. Dengan mengembangkan sikap mental juara, anda akan memiliki gairah untuk meningkatkan dirinya di level juara. Jika anda tidak tahu apakah anda berbakat menulis atau tidak, merasalah bahwa anda berbakat menulis.

Entah anda menekuni penulisan sebagai hobi, atau sebagai pekerjaan sambilan, atau sebagai profesi, saya meyakini bahwa anda perlu mampu melakukannya dalam cara seorang penulis mahir. Tanpa kemahiran, menulis akan menjadi hobi atau urusan yang menguras tenaga dan pikiran. Jika anda mahir melakukannya, anda akan mendapati banyak kegembiraan dengan menulis. Sebaliknya, anda akan selalu sengsara dengan urusan tulis-menulis ketika anda tidak tahu begaimana meningkatkan kemahiran.

Untuk menutup bagian ini, saya ingin mengingatkan bahwa untuk mendapatkan kemahiran menulis (yang menjadi tujuan anda), anda perlu menanamkan sikap mental seorang pembelajar yang berhasil. Seorang pembelajar yang berhasil selalu tahu apa yang harus dilakukan untuk menguasai kecakapan di bidang yang ia minati. Satu hal yang selalu ada pada para pembelajar yang berhasil, di bidang apa pun, mereka sama-sama menunjukkan gairah untuk mendapatkan hasil terbaik dari pembelajaran mereka, dan mereka tahu apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan diri.

Dan kenapa anda mahir menulis?

  1. Karena anda bekerja cepat. Anda mahir karena anda bekerja cepat.
  2. Karena anda menulis tanpa berpikir.
  3. Karena anda memahami teknik penulisan.
  4. Karena anda selalu punya cerita menarik untuk ditulis.
  5. Karena anda tahu bagaimana menghasilkan tulisan yang menarik
  6. Karena anda selalu tahu apa yang harus ditulis.
  7. Karena anda selalu menemukan gagasan untuk ditulis
  8. Karena anda bisa mengembangkan gagasan menjadi tulisan.
  9. Karena anda selalu punya plot yang menarik
  10. Karena jari-jari anda terlatih.
  11. Karena anda punya waktu menulis.
  12. Karena anda mengembangkan kecakapan menulis.
  13. Karena anda tahu apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan kecakapan menulis.
  14. Karena anda memahami aspek-aspek penting untuk menghasilkan tulisan yang menarik.

Saya ingin anda mengembangkan kepercayaan diri seperti itu. Setidaknya, anda menjadi seperti itu dalam imajinasi anda. Dan, anda tahu, dalam bidang apa saja, imajinasi selalu mendahului kenyataan. Kalaupun anda tidak percaya, keyakinan saya tentang hal itu tidak berubah. Sebagai orang yang cenderung mempelajari apa-apa secara otodidak, idola saya adalah Bambang Ekalaya, rakyat jelata dalam pewayangan, seorang pembelajar otodidak yang berlatih memanah tiap hari di depan patung Dorna yang ia bikin sendiri, dan membayangkan bahwa ia dilatih langsung oleh orang yang ia kagumi itu. Dan ia berhasil mencapai level tertinggi kecakapan memanah yang hanya dimiliki oleh Arjuna, yang memang dilatih langsung oleh Dorna.

(AS Laksana, Sastrawan dan Esais)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...