27 March 2019

KAPAN KITA KEMBALI MESRA SEPERTI DULU?

Juftazani

 

Kita selalu berciuman, berpelukan

Tidak ada waktu saat itu siang atau malam, kau memelukkan dalam keabadian

Aku memakai jubah kemuliaan dan cintamu sempurna

Betapa aku mencintamu, hari-hariku penuh bahagia,  haru

Dalam dekapan yang tiada duanya

Sempurna dalam cinta, abadi dalam kasih

Aku terpesona akan  sayangmu yang tak pernah  terbayang

Namun  tiba-tiba kau membangunkanku

Kau ucapkan dengan penuh mesra dan cinta yang dalam padaku:

Wahai kekasihku yang  abadi, sudah sadarkah kamu

Aku ini penciptamu dan kau adalah ciptaanku

Dengan penuh anggukan  mendalam

Dengan doa yang tertekuk di kedalaman hati ini

aku menjawab penuh mesra;

ya, engkaulah kekasihku

selesai kau mengucapkan Alastu birabbikum

dan aku menjawab mesra: Bala (Iya, engkaulah kekasihku yang abadi)

engkau menjauh, engkau menyeretku dari ‘arsymu, lalu melewati kursimu

engkau terus menyeretku ke tempat paling rendah

dan kusadari inilah tempat yang hina, muspra, semu berubah-ubah tiada kepastian

engkau menyeretku dan menyeretku  melewati tujuh lapis langit

akhirnya aku terhenti seusai  perjalanan sangat panjang  dan melelahkan

inikah bumi yang selalu kau bisikkan dengan mesra saat kau peluk-erat  aku?

saat itu aku baru tersadar dan menjerit:

o kekasih, bagaimana ini?

aku kini  telanjang dan sendiri

tiada belaian cintamu dan tak ada peluk cium seperti dulu

begitu hangat dan abadi, kini hanya kehangatan dan keabadian yang semu

dari seorang ibu yang memelukku

tiada terbayangkan, bagaimana engkau mencintaiku

aku lahir telanjang dan tiada hangatnya cintamu

aku menjerit:

Selamatkan aku!

Oh selamatkan aku

Aku mengarungi hidup ini hanya sendiri tanpa peluk ciummu,

Tiada kehangatan cintamu

Aku yang telanjang dan jauh darimu

Berilah aku selembar pakaian kemuliaanmu untuk kukenakan

Penghangat diriku yang menggigil

 

 

Selamatkan aku o kekasihku,

Betapa  kondisiku kini sungguh hina

Berhari-hari air mataku berjatuhan bagai hujan yang tiada akan pernah berhenti

Mataku sembab dan aku ingin kembali berpelukan

Merasakan ciuman yang sungguh hangat dan menggetarkan seperti dulu

Aku nyaman dengan mengucap namamu bertrilyun kali atau tiada terhitung

Hingga aku nyaman bersamamu, aku bahagia di sampingmu

Tapi kini semua tak mungkin

Karena kita sekarang berjauhan

Dari ‘arsymu yang tiada batas dan sungguh sangat luas

Kau pisahkan aku melewati kursimu yang juga tak mampu kuduga luasnya

Lalu aku melewati tujuh lapis langit dan sampailah aku di bumi

O betapa kecilnya aku

Hamba yang hina , hamba yang tiada berarti

Inilah baru aku menyadari betapa rendah dan hinanya diriku

Tanpa kasih  dan jubah rasa sayang dari  kebesaran dan kemuliaanmu

Aku hanya barang bekas yan tiada berarti

Dibuang ke laut dan hilang tiada jejak

 Aku kini ingin kekal dalam jejak dan pelukan mesramu

Aku baru tahu bahwa setelah keterpisahan ini

Aku akan pulang kembali kepadamu

Ya kekasih, beri dan persiapkanlah aku bekal untuk berjumpa denganmu

Menghadap detik yang tak kutahu

Kapan engkau memanggilku dengan mesra dan pelukan lembutmu yang kuingat

Penuh kehangatan

Di azali yang semua telah hilang dalam memoriku

O kekasih, aku menangis ingin bertemu

Rindu dan selalu rindu ingin bersamamu lagi

Dalam pelukan abadi.

 

 

Jumat, 22 Februari 2019

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...