18 September 2019

Johnny Tjia dari Ambon, Selamatkan Bahasa Ibu dan Membawanya ke Pendidikan

AMBON-Sepintas, buku pelajaran berwarna putih itu tampak seperti buku pelajaran Bahasa Indonesia pada umumnya. Setiap halaman diisi dengan gambar binatang, barang, atau buah-buahan. Di bawah gambar tersebut tertulis nama-namanya. Akan tetapi, ketika diamati, nama-nama tersebut tidak ditulis dalam bahasa Indonesia, tetapi bahasa Melayu Ambon.

Misalnya, di halaman bergambar seekor kepiting, tertulis "katang".

"Buku-buku tersebut sengaja ditulis dengan bahasa ibu karena pada usia emas anak-anak, hal terpenting yang harus mereka lakukan adalah belajar mengonstruksikan lingkungan. Cara terefektif adalah menggunakan bahasa ibu," kata Johnny Tjia (50), ahli bahasa dari Yayasan Sulinama dan Manajer Program PAUD Berbasis Bahasa Ibu di Maluku Tengah, ketika ditemui di Jakarta.

Ia menerangkan bahwa di Tanah Air, jumlah penduduk yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu, yakni bahasa yang pertama mereka kenal, maksimal hanya 10 persen. Sisanya, menggunakan sejumlah bahasa dan dialek daerah. Jadi, orang-orang Indonesia umumnya mengonstruksikan diri, lingkungan, nilai-nilai moral, dan spiritual pertama kali dengan bahasa ibu mereka.

Akan tetapi, begitu anak Indonesia memasuki sekolah dasar (SD), mereka langsung dipaksa untuk menggunakan bahasa Indonesia. Padahal, bagi sebagian besar anak-anak tersebut, bahasa nasional sama sekali belum pernah mereka dengar, apalagi gunakan.

"Ini mengakibatkan kemampuan verbal mereka terhambat. Selain itu, juga mengganggu perkembangan mental anak dalam mengenal diri dan lingkungan," tutur Johnny yang juga pernah meneliti bahasa Dayak Mualang.

Di sekolah-sekolah dasar, umumnya anak-anak kelas rendah (kelas I hingga II SD) cenderung tidak menjawab ketika ditanya. Hal ini disebabkan kemampuan anak mengekspresikan pendapatnya. Jadi, meski mereka memahami pertanyaan dari guru, kosakata mereka masih terbatas dalam hal mengekspresikan pendapat. Ada pula anak yang sama sekali tidak mengerti.

Putra guru Bahasa Mandarin ini mengungkapkan, melatih anak untuk nyaman berekspresi dan menyusun kalimat yang baik, meski dalam bahasa ibu, jauh lebih penting daripada penguasaan bahasa Indonesia. Bahasa nasional bisa mulai dipelajari sejak anak duduk di kelas III SD. Pasalnya, pada saat itu, anak sudah memahami lingkungan dan bisa mengonstruksikan pemikiran mereka.

Logika

Bahasa tidak hanya merupakan metode berkomunikasi antarmanusia, tetapi juga cerminan dari logika seseorang. Oleh karena itu, apabila tidak dipelajari dengan baik, praktis memengaruhi cara seseorang berpikir dan menghambat kemampuan untuk bertutur secara logis. Bagi anak-anak yang tumbuh tidak berbahasa Indonesia, bahasa nasional hendaknya dipelajari menggunakan pendekatan seperti mempelajari bahasa asing.

"Kalau logika dengan bahasa ibu sudah mantap, akan mudah untuk belajar bahasa Indonesia. Kalau tidak, penguasaan bahasa ibu, bahasa Indonesia, bahkan bahasa asing akan setengah-setengah, bahkan kacau-balau," kata Johnny serius.

Selain itu, pendekatan ini bagaikan sekali dayung dua pulau terlewati. Di satu sisi anak-anak bisa belajar dengan optimal, di sisi lain bahasa ibu ikut dilestarikan.

Salah satu tujuan utamanya pula adalah mengenalkan nilai-nilai moral universal kepada anak dengan menggunakan bahasa yang mereka pahami.

"Kalau konsep Pancasila dan undang-undang dasar pertama kali mereka pahami dengan bahasa ibu, tentu dampak ke mereka lebih mendalam," tuturnya.

Ia menyampaikan pemikiran tersebut kepada salah satu lembaga swadaya masyarakat (LSM) di Papua pada 2009. Akan tetapi, idenya dianggap terlalu baru dan radikal sehingga mereka belum berani untuk menerima. Tidak patah arang, doktor linguistik dari Universitas Leiden, Belanda, ini mendekati LSM lain, yakni Yayasan Sulinama. Ide Johnny disambut baik oleh mereka. Pada 2010, PAUD berbasis bahasa ibu pertama berdiri di Ambon.

Merumuskan ejaan

Inisiatif tersebut disambut baik masyarakat Ambon. Pekerjaan tidak sekadar mendirikan PAUD, tetapi juga menentukan ejaan yang digunakan. Oleh karena itu, Johnny dan Yayasan Sulinama duduk bersama masyarakat setempat untuk menerjemahkan bahasa lisan ke dalam tulisan.

"Tata bahasa dan sistem bunyi benar-benar diperhatikan. Baru setelah itu bisa dituangkan ke dalam kata-kata berabjad Latin," tutur ayah dua anak ini.

Kebetulan, bahasa Melayu Ambon, Nuaulu, dan Bobat sudah memiliki kamus ejaan sehingga upaya untuk mendirikan PAUD yang menggunakan bahasa tersebut relatif lebih mudah.

Johnny bersama Yayasan Sulinama pun turut membina guru-guru PAUD agar memahami ilmu pedagogis untuk setiap mata pelajaran. Oleh karena itu, PAUD-PAUD yang sudah ada di masyarakat betul-betul diseleksi sebelum diterima ke dalam jaringan PAUD berbahasa ibu tersebut.

Hasilnya, pada 2011, jumlahnya bertambah menjadi 10 PAUD dan pada 2015 berkembang lagi menjadi 33 PAUD.

Kandungan pembelajarannya juga dipastikan mengandung konten lokal. Pasalnya, anak-anak di Indonesia timur tidak memahami ekspresi budaya para penduduk di Indonesia bagian barat. Jadi, bentuk pembelajarannya menggunakan hal-hal yang ada di sekitar mereka. Misalnya, bagi anak-anak yang hidup di wilayah pedesaan, belajar mengonstruksi lingkungan dengan kalimat "ekor biawak panjang, sementara ekor cicak pendek".

"Yang paling penting adalah kami tidak mengajar bahasa ibu di PAUD seperti layaknya belajar

baca, tulis, dan hitung di sekolah. Kami menggunakan bahasa ibu sebagai kendaraan untuk pembelajaran," ujarnya menutup pembicaraan. (Kompas)

Biodata Johnny Tjia

Lahir: Obi, Maluku Utara, 13 Maret 1965

Pendidikan:

- Doktor Linguistik (PhD) dari University of Leiden, Belanda

- Master Interdisipliner dari Universitas Leiden

- Master of Arts (MA) University of Oregon,USA (Fulbright scholarship)

- Sarjana Sastra Rusia Universitas Padjadjaran

- Istri: Linda Saleh (48), Anak : Dua

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...