23 May 2019

Irama dalam Puisi Perempuan di Ladang Jagung karya Fendi Kachonk

Oleh Yuli Nugrahani*

Dalam puisi terdapat unsur-unsur yang membentuknya. Unsur dalam, adalah unsur yang melekat dalam puisi. Pertama, Tema dan Pokok pikiran. Ada banyak tema beragam yang bisa kita angkat untuk puisi. Yang pernah dikumpulkan oleh Komunitas Kampoeng Jerami (komunitas penulis yang bermarkas di Sumenep dan juga punya aktifitas di grup Facebook) secara rutin membuat agenda Putute, puisi tema tertentu. Yang sudah pernah dibukukan adalah tema Hujan dan HAM. Hujan dan Hak Asasi Manusia adalah tema-tema keseharian yang bisa didapat di sekeliling kita. Dari tema besar itu, setiap penyair memilih pokok pikiran yang berbeda-beda sesuai sudut pandangnya. Saya mengambil May day, hari untuk buruh sebagai satu pokok pikiran dari tema HAM. Yang lain mengambil tentang Munir, Marsinah, perempuan, anak jalanan dan sebagainya. Itulah bahan pertama dalam rencana membuat puisi.

Kedua, Rasa. Inilah bagian dari yang tak bisa lepas dari penyair. Dia mempunyai rasa yang muncul dari hati tentang tema yang sudah dipikirkan (atau dialami, atau dirasakan, atau diperbincangkan, atau dibaca dsb). Gembira, sedih, marah, bingung, galau, murung, kecewa dan sebagainya. Ada banyak ragam rasa.

Ketiga, Nada. Rasa itulah yang kemudian menentukan nada dari puisi itu. Jika dia gembira, maka optimis yang muncul. Jika sedih, dia akan menunjukkan alasan-alasan kesedihan. Jika dia marah, nada proteslah yang akan muncul. Dan sebagainya.

Keempat, Tujuan/pesan. Ini muncul dengan pikiran bahwa puisi yang dibuat akan dibaca oleh seseorang. Mungkin juga pembacanya adalah dirinya sendiri. Di situlah akan muncul tujuan atau pesan dari puisi itu. Bisa ditangkap berbeda-beda, tapi penulis selalu mengharapkan pesan itu tersampaikan pada pembacanya.

Sedang unsur luar, yaitu alat untuk menampilkan puisi adalah diksi, kata yang tepat dan selaras (dalam penggunaannya) untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu (seperti yang diharapkan) sesuai imaji (hasil panca indera). Ada banyak kata, tapi bagi penyair, selalu ada kata khusus yang dapat mewakili pengalaman puitiknya yang istimewa.

Kedua, imaji yaitu segala hal yang dapat dibayangkan secara imajinatif saat menemui kata dalam puisi. Inilah pengalaman yang akan didapatkan oleh seseorang saat membaca sebuah puisi. Menjadi permenungan, refleksi dan sentuhan. Bukan sebuah petunjuk seperti tulisan prosa atau jurnalistik yang jelas dalam rincian kata, tapi sentuhan lembut yang langsung menyergap dalam hati saat membacanya.

Ketiga, majas atau gaya bahasa, adalah ungkapan-ungkapan khas yang muncul karena hendak mengkonkretkan imajinasi. Tak seperti prosa yang bisa mengungkapkan langsung imajinya, para penyair akan memakai hal yang berbeda untuk makna yang ingin disampaikan. Ada banyak majas seperti metafora, personifikasi, hiperbola, dan sebagainya. Karena majas inilah, imaji itu akan hidup. Hujan akan punya kaki. Rambut bisa jadi pelangi. Atau sebuah pertemuan bisa menjelma lautan.

Dan terakhir, ritme atau irama yaitu kesan bunyi yang teratur dan melodius karena permainan kata dalam puisi. Permainan bunyi ini ditimbulkan karena huruf vokal dan konsonan yang digunakan oleh penyair dan membuatnya indah saat kita baca atau deklamasikan. Seperti sebuah musik, itulah puisi yang mengunakan irama yang tepat.

            Dengan melihat seluruh unsur itu, saya tertarik melihat satu puisi yang saya baca saat peluncuran buku Antologi Puisi Titik Temu terbitan Komunitas Kampoeng Jerami tahun 2014 dalam Belungguk Sastra yang diadakan oleh Kedai Proses di Taman Budaya Bengkulu, Jumat, 17 April 2015. Para sahabat saya paham saya selalu kesulitan membaca puisi. Saya selalu bilang lebih suka membaca cerita pendek (cerpen) karangan saya sendiri daripada membaca puisi.

Tapi untuk peluncuran Titik Temu, tidak mungkin saya membaca cerpen, jadi saya mengambil puisi secara acak dari buku ini. Saya mengenali seluruh puisi yang ada di dalamnya karena saya menjadi editor untuk Titik Temu dan dalam beberapa minggu menggeluti setiap puisi yang ada di dalamnya. Pilihan saya jatuh pada puisi-puisi yang bercerita seperti karya Korrie Layun Rampan, atau beberapa karya Fendi Kachonk, atau puisi saya sendiri.

Puisi-puisi Korrie yang unik menggoda untuk dibaca, tapi tanpa persiapan yang lama, pasti akan membuat grogi. Puisi yang saya buat, ah, tidak sanggup saya membacanya. Terlalu dekat dengan dengan hati dan emosi. Saya pasti tak akan bisa membacanya dengan kendali penuh tanpa persiapan yang serius. Nah, puisi Fendi, itulah pilihan yang tepat. Mengapa? Silakan baca dulu puisi itu :

 

Perempuan di Ladang Jagung

 

Ia tak lagi datang ke ladang jagung, di belakang danau. Dulu tempatnya menyepih segala sedih jadi benih bijian yang ia tanam. Hembusan angin serta kicau burung sangat akrab kala senja menitipkan pesan malam untuk segera merapikan mimpi yang belum pulang ke peraduan.

 

Anaknya, mata yang setengah sadar berbinar dari balik pohon kedondong, di mana hujan mencecap kerinduan ranting yang kini juga seperti malaikat kecil. Tumbuh menjadi sulbi pada kisah sepanjang jalan menuju hari yang begitu cepat tanpa menyisakan cerita kecuali kenangan.

 

“Segeralah tidur sebelum sirene itu kau dengar, nak! Akan ada gambar purnama dalam mimpi, sedang televisi akan mengajakmu lupa pada masa dan tanggal dari orang tua yang memberimu nama.“

 

Ia kalungkan tangan ke leher, mengeja atap kamar, kecupan kecil di kening masih membekas, dalam kekalutan detik jam yang memburu dadanya. Lubang-lubang yang serupa tebing saat malam melalui tepian kisah di ujung batas. Antara rindu dan pergi. Antara cinta dan kepiluan.

 

Tibalah, pada wajah di dinding yang tersenyum. Hidung yang tak mancung juga tak sebaliknya, senyum yang begitu mahal dan krah baju yang dibiarkan tak rapi. Ia mengalunkan hujan, suling lembah memantul dari tebing jiwanya. Sedang jagung di lumbung makin tipis, setahun dalam duka, sebulan penuh siksa, sehari anak-anaknya ada di atas piring menari-nari.

 

“Ladang jagung, kekasihku, anak-anak yang belum tahu menunjuk matahari juga masa depannya, nanti mau jadi apa?”

 

Moncek, 201014.

 

            Saya dapat mengurai seluruh unsur-unsurnya menurut cara pandang saya. Tapi saya hanya ingin mengungkapkan alasan puisi inilah yang saya baca di Taman Budaya Bengkulu itu. Yaitu, bahwa puisi Perempuan di Ladang Jagung ini mempunyai irama yang indah, yang melekat selalu indah tak peduli siapapun yang membacanya. Bunyi yang digunakan oleh Fendi bisa jadi tidak teratur, tapi setiap orang dapat menangkap melodi dalam puisi ini tertata dalam kata-kata yang dituliskan oleh Fendi.

 

Anaknya, mata yang setengah sadar berbinar dari balik pohon kedondong, di mana hujan mencecap kerinduan ranting yang kini juga seperti malaikat kecil. Tumbuh menjadi sulbi pada kisah sepanjang jalan menuju hari yang begitu cepat tanpa menyisakan cerita kecuali kenangan.

 

Vokal bersaut-sautan dengan konsonan, membentuk kalimat-kalimat yang mengalir. Bukan hanya saya, siapapun pasti dapat membacanya dalam aliran yang tepat bagi ekspresi puisi ini. Puisi ini sudah menyediakan dirinya tanpa harus susah payah digarap oleh pembacanya. Fendi membiarkan kalimat-kalimat itu bersambung begitu saja, dan itulah aliran dalam puisi ini.

Melodi yang menanjak dan kemudian menghendak menjadi klimaks muncul dalam bait ini :

 

Tibalah, pada wajah di dinding yang tersenyum. Hidung yang tak mancung juga tak sebaliknya, senyum yang begitu mahal dan krah baju yang dibiarkan tak rapi. Ia mengalunkan hujan, suling lembah memantul dari tebing jiwanya. Sedang jagung di lumbung makin tipis, setahun dalam duka, sebulan penuh siksa, sehari anak-anaknya ada di atas piring menari-nari

 

Seperti bait-bait yang lain, lantunan kata, sekali lagi tidak memiliki bunyi teratur walau muncul juga dalam beberapa kata seperti hidung, mancung, jagung, dan lumbung, atau  duka, siksa dan ada. Fendi mengalirkan melodi yang mengalirkan emosi pembacanya. Secara otomatis, kalimat-kalimat itu menemukan tekanannya dan alirannya akan sampai pada ekspresi pembaca.

Saya bilang, itulah puisi yang memiliki iramanya karena penyusunan kata yang tepat berdasarkan vokal maupun konsonan dalam kata itu. Secara utuh dalam pembacaannya, saya merasakan dibantu secara penuh oleh puisi ini sendiri. Dialah yang ingin dibaca. Dan seperti musik, dia mengiringi saya saat membacanya. Jika puisi ini disiapkan pembacaannya dalam waktu yang lebih lama, tentulah sang pembacanya akan merasuk lebih dalam lagi, karena setiap dia ulang puisi ini lewat lisan yang lantang, musik itu pun semakin tertabuh berdentang tanpa harus dinyanyikan.***

 

*Cerpenis dan penyair Lampung, editor Antologi Puisi Titik Temu, Komunitas Kampoeng Jerami 2014)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...