24 April 2017

Ini Empat 4 Tragedi Genosida Paling Mengerikan Di Indonesia

KONFRONTASI -  Dimata dunia, semua orang sudah tahu kalau masyarakat Indonesia sangat ramah dan semua orangpun tahu kalau masyarakat Indonesia dapat hidup saling menghargai meski punya banyak perbedaan. Hanya saja sepertinya image tersebut perlahan mulai luntur hanya gara-gara Pilkada.

Sebagai salah satu penggiat di dunia maya, Anda pastinya sudah tahu bagaimana panasnya suasana Pilkada Ibukota yang sampai mematik gesekan di berbagai kalangan. Bahkan sampai ada yang menyerukan peperangan.

Pastinya terdengar aneh saat ada seseorang yang meminta peperangan terjadi ditengah-tengah kehidupan kita yang jauh lebih menginginkan kedamaian. Hanya saja sejarah kita sendiri tidak bisa berbohong, karena nyatanya apa yang kita raih sekarang ini memang berangkat dari peperangan. Bahkan sejarah mencatat, setidaknya ada 4 tragedi genosida di Indonesia yang sempat membuat Indonesia jadi penuh dengan abu anyir darah dan duka yang mendalam.

Tragedi Geger Pacinan Dimata dunia, semua orang sudah tahu kalau masyarakat Indonesia sangat ramah dan semua orangpun tahu kalau masyarakat Indonesia dapat hidup saling menghargai meski punya banyak perbedaan. Hanya saja sepertinya image tersebut perlahan mulai luntur hanya gara-gara Pilkada.

Sebagai salah satu penggiat di dunia maya, Anda pastinya sudah tahu bagaimana panasnya suasana Pilkada Ibukota yang sampai mematik gesekan di berbagai kalangan. Bahkan sampai ada yang menyerukan peperangan.

Pastinya terdengar aneh saat ada seseorang yang meminta peperangan terjadi ditengah-tengah kehidupan kita yang jauh lebih menginginkan kedamaian. Hanya saja sejarah kita sendiri tidak bisa berbohong, karena nyatanya apa yang kita raih sekarang ini memang berangkat dari peperangan. Bahkan sejarah mencatat, setidaknya ada 4 tragedi genosida di Indonesia yang sempat membuat Indonesia jadi penuh dengan abu anyir darah dan duka yang mendalam.

Tragedi Geger Pacinan Jalan Raya Pos yang menghubungkan Anyer sampai Panarukan, yang mungkin Anda lewati setiap hari adalah jalan raya terpanjang di Indonesia. Namun itu juga berbanding lurus dengan tragedinya selama pembangunan.

Para prosesnya pembangunan Jalan ini memang sangat prestisius karena berhasil menghubungkan dari ujung barat Pulau Jawa sampai ke ujung timur. Namun dibalik prestasinya terdapat duka yang mendalam bagi penduduk asli Indonesia. Tercatat sekitar 12 ribu penduduk pribumi yang tewas. Mereka yang tewas memang tidak melakukan kejahatan, namun pada masanya sistem kerja romusa membuat penduduk pribumi tidak mendapatkan apa-apa. Mereka hanya diberi makan seadanya dan mereka pun harus disiksa agar mau kerja. Sampai akhirnya banyak penduduk pribumi yang sakit-sakitan, tapi bukannya diberi istirahat mereka justru dibunuh dan cepat dibuang agar tidak memicu amarah pekerja lainnya.

Tragedi Westerling Kita semua tahu jika 17 Agustus 1945 adalah hari Kemerdekaan bagi Indonesia. Tapi pada prosesnya itu tidak langsung diterima dengan mudah oleh para penjajah. Terbukti salah satu komandan Belanda Raymond Pierre Paul Westerling justru memerintahkan untuk membantai penduduk pribumi. Tepatnya di Sulawesi Selatan pada Desember 1946 sampai Februari 1947.

Tragedi ini dikenal sebagai pembantaian Westerling. Menurut kisahnya, Raymond melakukan operasi militer Counter Insurgency alias penumpasan pemberontak. Awalnya operasi ini dilakukan untuk meminimalisir adanya pemberontak dan menghukum para pelaku kriminal. Namun lama kelamaan berubah menjadi pembantaian massal. Dari tiga tahap pembantaian yang dilakukan, total korban yang dilaporkan sekitar 40 ribu jiwa. Namun itu tidak dapat dipastikan karena keberingasan Raymond meluas sampai daerah-daerah lain di Sulawesi Selatan.

Tragedi 1965-1966

Selepas merdeka bukan berarti Indonesia langsung hidup dengan damai. Masih terjadi satu tragedi genosida lainnya yang justru dilakukan oleh sesama pribumi yang bahkan menelah hingga lebih dari setengah juta jiwa. Tragedi ini dikenal sebagaiTragedi Pembantaian PKI.

Seperti dilansir dari Wikipedia, tragedi ini bermula ketika terjadi perpecahan antar Jenderal di Kubu Angkatan Darat. Dimana beredar isu jika Dewan Jenderal ingin melakukan kudeta pada Soekarno. Hal tersebut membuat perwira-perwira Angkatan Darat yang mendukung kebijakan sosialisme Soekarno melakukan manuver untuk menjemput 7 Jenderal untuk dihadapkan pada Soekarno. Tapi para prosesnya 3 dari 7 Jenderal tersebut sudah dalam kondisi anumerta. Soeharto dpercaya sebagai dalang tragedi ini karena tanpa penyelidikan langsung menuduh jika PKI-lah yang menjadi dalang atas tewasnya para Jenderal, dan sejak saat itu konflik pun makin meluas hingga ke masyarakat. Semua orang yang dituduh PKI, diculik, disiksa, diperkosa secara bergiliran dan ribuan orang dibantai sampai tewas. Dari laporan yang disebutkan ke Pengadilan Internasional, tragedi ini katanya hanya menelan 78 ribu korban, namun nyatanta jumlah korban yang dibuang, di masukkan ke kamp konsentrasi bahkan sampai dikubur massal justru lebih dari itu.

Berkaca dari 4 tragedi tersebut, kita tentunya tidak ingin kembali ke masa-masa mengerikan itu. Dimana tanah air tercinta penuh dengan merahnya darah dan putihnya tulang-tulang yang terkubur tak sempurna. Karena itu mari kita jaga semua perbedaan kita,
saling menghargai tanpa harus mengedepankan keinginan diri sendiri tentunya jauh lebih baik.(Juft/Viva)

Category: 

loading...

Berita Terkait

Baca juga


Loading...