28 February 2020

Ini Beberapa Sumbangsih PT Pembangunan Jaya Ancol, untuk Dunia Pendidikan

KONFRONTASI - Sebagai bentuk apresiasi dan kontribusi bagi dunia pendidikan di Indonesia, destinasi wisata Ancol mempersembahkan Kartu Prestasi Ancol bagi siswa-siswi berprestasi.

Tepatnya pada Sabtu, (13/5/2017) bertempat di Treasure Land Dunia Fantasi Ancol, General Manager Dunia Fantasi Ancol John Ramos Butar-Butar menyerahkan Kartu Prestasi Ancol bagi 32 siswa-siswi pemenang Kompetisi Matematika Nalaria Realistik se-Indonesia.

Dengan memperoleh kartu tersebut, ke 32 siswa-siswi ini mendapatkan akses masuk gratis selama setahun penuh untuk menikmati 32 wahana permainan di Dunia Fantasi serta pentas prestasi yang merupakan tempat khusus yang didisain bagi para pelajar untuk bisa belajar di sela-sela rekreasi mereka di Dufan.

Selain sebagai akses masuk ke Dufan, siswa-siswi pemegang kartu prestasi juga akan mendapatkan akses masuk gratis setahun penuh ke sejumlah sarana rekreasi di Ancol seperti Seaworld, Atlantis, dan Gelanggang Samudra.

“Kami sangat mengapresiasi pelajar yang berprestasi. Jadi pelajar berprestasi kami berikan Kartu Prestasi Ancol. Anak-anak akan bebas selama satu tahun ke Seaworld, Dufan, Taman Impian, Atlantis, Samudra. Ini bentuk apresiasi kami. Kami ingin anak-anak ini punya jiwa yang sehat , jangan dipaksa belajar terus, butuh rekreasi,” kata Ramos di tengah-tengah acara pemberian reward bagi 32 siswa-siswi berprestasi dari Klinik Pendidikan MIPA (KPM).

Adapun KPM merupakan sebuah lembaga pendidikan nonprofit yang digagas oleh Ridwan Hasan Saputra. KPM menyediakan bimbingan belajar dengan biaya seiklasnya, sesuai kemampuan orang tua siswa. KPM menyediakan bimbingan belajar bagi siswa-siswi mulai dari kelas I hingga kelas IX.

Selain memberi bimbingan untuk mata pelajaran MIPA, saat ini KPM melebarkan sayapnya untuk mengajarkan kemampuan lain bagi anak didiknya.

“Sekarang sudah berkembaang, Kita buka bahasa Inggris, Bahas Arab, pencak silat, taekwondo, dan melukis,” kata Ridwan.

Didirikan di Bogor untuk pertama kalinya pada 16 April 2001, saat ini KPM telah memiliki banyak cabang di berbagai kota/kabupaten baik di dalam maupun di luar pulau Jawa.

Hingga kini, KPM sudah mendidik puluhan ribu murid yang menorehkan prestasi di bidang sains, khususnya matematika, baik di tingkat nasional mauppun internasional.

Salah satunya adalah Ahmad Romy Zahran, pelajar kelas IX SMPN Cibinong yang menjadi penerima Kartu Prestasi Ancol secara simbolis dari Ramos.

Dalam Kompetisi Matematika Nalaria Realistik yang diikuti Romy kali ini, siswa yang sudah bergabung dengan KPM sejak kelas III SD tersebut berhasil menjadi juara umum dan menyabet medali emas.

Selain lomba di tingkat Nasional, Romy juga sudah beberapa kali berpartisipasi dalam lomba sejenis di tingkat internasional seperti di Singapura, Rumania, dan Thailand. Dia pun berhasil menyabet medali perunggu di setiap perlombaan tersebut.

Selain untuk siswa-siswi KPM, kartu Prestasi Ancol juga telah diberikan kepada ribuan siswa berprestasi lainnya sejak 2002 lalu.

Adapun syarat untuk mendapatkan kartu ini adalah, siswa harus mendaftarkan diri di Ancol dengan menunjukkan raport yang menyatakan bahwa mereka adalah juara di kelasnya.

Selain menawarkan akses masuk gratis bagi siswa berprestasi, orang tua siswa juga akan mendapatkan potongan biaya akses masuk sebesar 30%.

SEKOLAH RAKYAT ANCOL

Di samping kartu prestasi, Ancol juga mewujudkan kontribusinya di dunia pendidikan melalui Sekolah Rakyat Ancol (SRA).

SRA diperuntukkan bagi siswa-siswi yang bertempat tinggal di sekitar Ancol atau Jakarta Utara dan tidak mampu untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang Sekolah Menengah Pertama.

Menurut Ramos, sekolah ini sudah ada sejak 2005 lalu dan telah meluluskan lebih dari 250 siswa SMP.

“Jadi, Sekolah Rakyat Ancol kami bentuk sudah lama. Ini adalah program Corporate Social Responsibility kami. Dulu kami adakan sekolah rakyat ini banyak mengalami hambatan karena yang kami ajak untuk sekolah ini adalah anak-anak yang bekerja membantu orang tuanya mencari uang, sehingga tidak sekolah,” kata Ramos menceritakan asal mula berdirinya sekolah ini.

Bahkan pada awal berdirinya sekolah ini, kata Ramos, tak jarang pihaknya memberi honor kepada anak-anak didiknya untuk bisa disetorkan ke orang tuanya. Namun, sekarang, orang tua siswa sudah lebih menyadari pentingnya pendidikan bagi anak-anak mereka

“Dulu kami sangat sulit untuk mengajak mereka sekolah. Kami siapkan sekolahnya, kami siapkan bajunya, bukunya, tapi mereka masih bertentangan karena disuruh untuk cari uang,” katanya.

Ramos menambahkan, kendati saat ini, SRA hanya menyediakan pendidian gratis bagi siswa siswi tak mampu di tingkap SMP, ke depan, pihaknya berencana melakukan pengembangan agar tetap bisa mengakomodasi kebutuhan pendidikan bagi siswa tidak mampu di level yang lebih tinggi lagi seperti Sekolah Menengah Atas.(Juft/Bisnis)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...