23 November 2017

Hati-hati, Para Orang Tua Jangan Berikan Anak pada Penitipan Ataupun Pengasuh

KONFRONTASI -  Syekh Yusri hafidzahullah Ta’ala wa ra’ah dalam khutbah Jum’atnya menjelaskan bahwa sangat disayangkan sekali apabila anak kita dibiarkan untuk tumbuh dan berkembang ditempat penitipan anak ataupun bersama dengan pengasuhnya (baby sister).

Dimana anak kita akan lebih dekat kepada pengasuhnya dibandingkan dengan orang tuanya sendiri, padahal anak-anak adalah orang yang paling butuh terhadap kasih sayang dan senyuman orang tuanya.

Kejauhan seperti inilah yang bisa menjadikan anak-anak tidak terkontrol, sehingga bisa terjerumus kepada perilaku-perilaku penyimpangan, kecanduan dengan sesuatu yang haram, serta menjadikan mereka memiliki rasa kesenjangan dalam bersosial.

Seorang ibu hendaknya adalah orang yang pertama kali dilihat oleh anak-anak sepulang mereka dari sekolah, bukanlah orang lain, agar anak bisa merasakan rahmah kasih sayangnya.

Manusia bukanlah hewan yang hanya cukup dengan materi saja, akan tetapi dirinya lebih banyak membutuhkan sesuatu yang bukan materi.

“Masyarakat yang baik adalah masyarakat yang terdapat didalamnya keluarga yang baik, anak-anak yang shalihah, ibu yang selalu memberikan waktunya untuk anak dan keluarga, bapak yang bekerja mencari rizki halal”.

Orangtua yang memberikan pengajaran dan tarbiyah kepada anak-anak, mengajak mereka ke majelis dzikir, berziarah kepada para wali dan orang-orang shaleh, agar mereka tumbuh dengan penuh cinta kepada orang-orang shaleh sehingga memiliki angan untuk bisa menjadi seperti mereka.

Syekh Yusri menambahkan bahwa apabila kita sebagai orang tua mampu menjalankan semua itu, maka kita tidak perlu untuk memperbaiki kementrian pendidikan.

Baginda Nabi SAW mengajarkan kepada kita untuk mendudukkan anak-anak dengan orang-orang dewasa, seperti halnya kisahnya Abdullah bin Abbas RA.

Ketika baginda sedang bersama parasahabatnya, disitu juga diikut sertakan Abdullah bin Abbas yang ketika itu masih kecil dan duduk di samping kanan baginda. Sedangkan disebelah kiri baginda adalah para pembesar sahabatnya. 

Lalu disuguhkanlah minuman untuk baginda, dan setelah meminumnya baginda bertanya kepada Ibnu Abbas, apakah boleh memberikan bekas minumnya itu kepada para pembesar sahabat yang berada disebelah kirinya.

Secara sunnahnya, yang berhak untuk mendapatkannya adalah yang berada disebelah kanan baginda, yaitu Ibnu Abbas RA. Lantas diapun berkata:

“لاَ وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ لاَ أُوثِرُ بِنَصِيبِى مِنْكَ أَحَدًا”

Artinya: “Wallahi tidak ya Rasulallah, saya tidakakan itsar (mendahulukan orang lain) bagianku darimu kepada siapapun”(HR, Bukhari).

Baginda Nabi SAW mengajarkan kepada dirinya tentang bagaimana didalam mengambil sebuah keputusan dihadapan orang besar, sehingga dirinya merasa telah dewasa dan sudah matang.

Tidaklah setiap kali ada tamu orangtuanya, kemudian anak-anak disuruh pergi dan tidak boleh duduk bersama dengan mereka.

Tentunya hal ini ketika tidak membicarakan hal yang sifatnya resmi ataupun hal penting lainnya. Wallahu A’lam. (Jft/Aktual)

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...