22 August 2019

Generasi Pendiri Angkatan Puisi Esai, Siapakah Mereka?

Oleh: Denny JA

Setiap genre seni, sebagaimana setiap ideologi, sebagaimana setiap negara, punya generasi pendiri. Mereka adalah bapak dan ibu, tuan dan puan, yang ikut melahirkan, menyebarkan dan mematangkan sebuah penanda zaman.

Memang benar setiap penciptaan sebuah genre, lahirnya ideologi, kemerdekaan sebuah negara selalu dimulai oleh satu orang atau segelintir orang. Namun sebuah genre, ideologi, ataupun negara hanya bisa tumbuh dan berkembang, jika memiliki generasi pendiri. Mereka lazim disebut the founding fathers and mothers, para tuan dan puan sebuah penanda.

Generasi pendiri ini tak hanya bersama memproduksi karya baru (seni), gagasan baru (ideologi), atau negara baru (politik). Tapi mereka pula bersama merespon rongrongan, kecaman, dan ancaman para pendukung status quo: genre lama (seni), gagasan lama (ideologi), dan negara penjajah/kolonial (politik).

Dalam sejarah peradaban, penjaga status status quo jarang sekali  rela berbagi tempat dengan pendatang atau unsur baru. Baik dalam genre, apalagi dalam politik, sudah menjadi hukum besi, para penjaga status quo gusar.

Situasi lebih parah jika mereka menganggap sesuatu yang baru itu ancaman, merusak konvensi, dan kurang ajar terhadap pakem lama.  Ini sejenis murtad budaya.

Sudah lazim dalam sejarah, para penjaga status quo akan menyerang, menyalipkan, menembak, memasukkan ke dalam penjara higga membuat petisi. Membuat petisi memang gerakan paling minimal yang bisa dilakukan para penjaga status quo di era demokrasi.

Karena itu, sebuah genre, ideologi atau negara mustahil bisa berdiri dan bertahan lama jika hanya ditopang oleh satu atau segelintir orang. Hukum besinya: genre, ideologi dan negara membutuhkan lapisan generasi pendiri.

Berbahagialah mereka yang dalam hidupnya tak hanya berkarya dan berjuang. Namun mereka berjumpa dalam satu momen, sebuah ikhtiar, yang akhirnya mereka akan dikenang sebagai generasi pendiri sebuah penanda zamannya. Sekecil apapun, para pendiri ini perlu diapresiasi karena mereka berikhtiar, mengambil risiko meletakkan batu bata bagi dinding baru sebuah zaman.

Siapakah generasi pendiri, bapak dan ibu, tuan dan puan, Angkatan Puisi Esai, yang lahir di tahun 2018? Lebih dari  170 penyair, penulis, jurnalis, aktivis, pemikir dan pekerja ini adalah founding fathers dan mothersnya. Mereka ada, berkarya dari Aceh hingga Papua.

Siapakah mereka?

-000-

Pada tulisan sebelumnya, “Lahirnya Genre Baru: Angkatan Puisi Esai,” sudah saya urai syarat kelahiran sebuah genre dalam sastra. Dalam “cultural studies,” riset mengenai genre menjadi topik sendiri.

Kumpulan jurnal ilmiah JSOR dapat menjadi indikator. Ia adalah perpustakaan digital, berdiri tahun 1995,  menampung sekitar 2000 jurnal ilmiah dari seluruh dunia. Sejak menjadi mahasiswa S3 di Amerika Serikat, JSTOR sudah menjadi kebutuhan selayaknya makan dan minum.

Jika ketik pada kolom pencarian “genre” dan “literature,” akan tampil 2723 riset dan tulisan yang pernah dipublikasi soal itu saja. Perdebatan akademik mengenai apa itu sastra, definisi sastra, jenis genre, sudah jauh meninggalkan pakem yang dibuat Plato dan Aristoteles 2500 tahun lalu.

Dalam tulisan sebelumnya, saya mengutip riset yang dikerjakan seorang ahli teori genre. Ia adalah Profesor David Fishelov. Keahliannya di  bidang comparative literature. Saya mengutip hasil risetnya soal kelahiran sebuah genre dalam sastra. Makalahnya berjudul: the Birth of a Genre, dimuat dalam European Jurnal of English Studies, April 1999.

Dua elemen yang dijadikan indikator kelahiran genre baru: the momen of birth, dan the secondary forms of generic production. Saya sudah analisi betapa puisi esai memenuhi dua syarat itu untuk disebut genre baru.

Cukup kuat argumen untuk menyatakan ini. Hadirnya 70 buku puisi esai sejak 2012-2018, banyaknya jumlah penulis puisi esai sekitar 250 orang, menyebarnya para penulis dari Aceh hingga Papua, terdapat empat benang merah dalam bentuk puisi esai, adanya kebaruan minimal dalam bentuk dan isi, meledaknya puisi esai sebagai pembicaraan komunitas sastra lima tahun terakhir, mengarah pada klaim itu.

Ibarat MC di pentas, sah ia berkata. Tuan dan puan, sambutlah  sebuah angkatan baru dalam puisi indonesia: Angkatan Puisi Esai.

Dalam esai ini saya melangkah lebih jauh, siapakah generasi pendiri, para tuan dan puan, bapak dan ibu yang patut dikenang sebagai the first generation atau the founding fathers (mothers) dari angkatan puisi esai? Siapakah mereka dari Aceh hingga Papua?

-000-

Bapak dan ibu pendiri negara Indonesia dikenang sejumlah 68 orang. Yang paling menonjol Soekarno, Hatta, dan Syahrir. Bapak dan ibu pendiri Amerika Serikat ditetapkan 130 orang. Yang sangat dikenal Benjamin Franklin, George Washington, dan Thomas Jefferson.

Lebih dari 170 tokoh yang layak disebut sebagai founding fathers dan mothers angkatan puisi esai. Sebagian besar dari mereka menulis puisi esai. Sebagian menjadi akademisi yang ikut menumbuhkan puisi esai.

Perlu dibuat sebuah buku untuk menuliskan nama mereka semua. Namun dalam tulisan singkat ini, saya hanya menyebut beberap saja yang ada di semua pulau: Sumatera, Jawa sampai Bali, Sulawesi, Kalimantan hingga Papua.

Mereka yang termasuk generasi pendiri piisi esai, yang menulis puisi esai, dari pulau sumatra antara lain Fatin Hamama, D. kemalawati, Bambang Irawan, Anwar Putra Bayu, Anto Narasoma, Heri Mulyadi, Endri Kalianda, Isbedy Stiawan, yang disebut Paus Satra Lampung. Banyak lagi nama lain yang akan dituliskan di buku.

Dari Pula Jawa hingga Bali, antara lain Ahmad Gaus, Saefuddin Simon, Peri Sandi Huizche, Rissa Churria, Anick HT, Exan Zen, Satrio Arismunandar, Elza Peldi Taher, Monica Anggi Puspita, Handri TM, Gunoto Saparie, Sulis Bambang, Kamerad Kanjeng, Isti Nugroho, Genthong HSA, Muhammad Tahir Alwi, Ni Made Dwi Ari Jayanti. Banyak lagi lainnya dari Jawa hingga Bali yang akan dicantumkan dalam buku.

Ada 25 tokoh generasi pendiri dari lima provinsi dipulau Kalimantan. Antara lain; Muhammad Thobroni, Urotul Aliyah, Pradono, Sarifuddin Kojeh. Hadir 30 tokoh pendiri puisi esai di pulau Sulawesi. Diantaranya adalah Uniawati, Wa Ode Nur Iman, Hamri Manoppo, Pitres Sombowadile, Syuman Saeha, Subriadi, Idwar Anwar. Banyak lagi lainnya yang akan ditulis lengkap dalam buku.

Tak ketinggalan Papua dan Papua Barat muncul pula 10 tokoh generasi pendiri puisi esai. Mereka antara lain: FX Purnomo, Ida Iriyanti, Alfonsina Samber, Rasid Woretma, Wimpi Moom. Nama yang lengkap segera muncul di buku khusus.

Tak semua generasi pendiri puisi esai menuliskan puisi esai. Ada pula para akademisi, penyair, kritikus, penulis yang ikut berkeringat merawat, memganalisa dan mengembangkannya. Tiga nama ini adalah mereka yang berdarah-darah dikecam sini dan sana, namun bertahan dengan apa yang mereka kerjakan.

Agus Sarjono, Jamal D Rahman, Berthold Damshauser, dengan Jurnal Sajak, selama tiga tahun tekun menyelenggarakan lomba puisi esai. Dari tangan mereka lahir sekitar 16 buku puisi esai. Itu saringan dari total ribuan puisi esai yang dikirim dari Aceh hingga Papua, sejak 2013-2016.

Fatin Hamama, selain sebagai penulis puisi esai, ia pula menjadi “king maker” dan “queen maker” bagi lahirnya para pendiri generasi puisi esai. Bersama Fatin Hamama, hadir Nia Samsihono, Sastri Sunarti Sweeney dan Monica Anggi Puspita. Saya menyebut mereka  “Empat Dara,” lebih banyak dari film terkenal “Tiga Dara.”

Di tangan empat dara ini segera terhidang 34 buku puisi esai dari 34 provinsi. Atas nama pribadi, tanpa melibatkan lembaga negara manapun, tanpa dana sepersenpun dari APBN, APBD, tanpa bantuan dana asing atau perusahaan rokok, mereka bahu membawa membuat karya kolosal.  Ini sepenuhnya kerja civil society: Dari Rakyat, Oleh Rakyat, dan Untuk Rakyat.

Perlu disinggung Narudin Pituin. Ia orang pertama yang secara serius membaca sekitar 40 buku puisi esai yang sudah terbit terdiri dari sekitar 200 puisi esai. Risetnya sudah pula terbit menjadi buku.

Jika dilacak nama dan latar para pendiri angkatan puisi esai, mereka sangat beragam. Bukan hanya penyair karir, tapi terdapat pula penulis, jurnalis, dosen, aktivis, dan peneliti. Ini memang sesuai dengan nilai utama puisi esai dengan slogan “Yang Bukan Penyair Boleh Ambil Bagian.”

Puisi perlu dikembalikan pada masyarakatnya. Selama ini bukan khalayak luas yang meninggalkan puisi, tapi penyairnya terlebih dahulu meninggalkan masyarakat. Itulah yang tergambar dalam debat puisi internasional untuk menjelaskan mengapa puisi berhenti menjadi agen perubahan sebuah zaman.

Review yang dibuat Dana Gioia (1992): “Can Poetry Matter?” Berkisah tentang puisi yang ditinggal publik. Jhon Barr (2006) melengkapi argumen itu dalam makalahnya yang terkenal “American Poetry in the New Century.”

Puisi esai sejak kelahirannya, yang didahului oleh riset dan survei, memang diikhtiarkan untuk itu: mengembalikan puisi ke tengah gelanggang. Tak hanya penyair karir, siapapun perlu dilibatkan menulis puisi. Kepak sayap pertama sebuah cita cita sosial adalah niat. Setelah niat dikorbarkan, tercapai atau tidak, berhasil atau tidak, itu sebuah perjuangan.

Hadirnya yang “bukan penyair” sebagaimana pengertian konvensional memang bagian yang disengaja dan sentral dalam gerakan puisi esai.

-000-

Setelah merumuskan apa dan siapa generasi pendiri Angkatan Puisi Esai, bagaimana dengan saya?  

Saya dianggap membuat karya buku puisi esai yang pertama, Atas Nama Cinta (2012), merumuskan konsep puisi esai, menuliskan platformnya, mendisain gerakannya, sekaligus menjadi entrepreneur bagi tumbuhnya puisi esai? Juga saya menjadi  samsak tempat para penjaga status quo melampiaskan tinju betubi- tubi kemarahannya?

Saya meihat diri saya hanyalah seorang pejalan budaya, yang menyenangi banyak bidang.

Saya hidup dari menulis sejak mahasiswa tumbuh menjadi peneliti, berkembang menjadi konsultan politik, mendambakan financial freedom sebagai pengusaha, menyelami dunia spiritual, ikut menulis lagu, membuat film layar lebar. Kereta hidup membawa saya tiba tiba sampai di stasiun sastra.

Saya hanyalah salah satu dari the founding fathers dan mothers angkatan puisi esai ini. Tak ada niat lain di hati, kecuali ini dilakukan agar kebun puisi semakin beragam tumbuh bunga. Satu di antara bunga itu adalah bunga puisi esai.

Saya teringat cuplikan puisi Chairil Anwar yang sejak mahasiswa saya tempel di dinding kamar tidur.  “Sekali Berarti. Sudah itu Mati.”

Pada dasarnya instink paling purba manusia memang mencari makna. Psikolog, filsuf dan pemikir Victor Frankl menyebutnya: Will to meaning. Aktif di sini dan sana, menciptakan ini dan itu, pada dasarnya perjalanan individu menemukan makna.

Ketika para kreator mencari makna, berjuang untuk itu, bersinerji dengan kreator lain, lahirlah peradaban.***

Januari 2018

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...