20 November 2019

Ekstase 149

sepanjang rawa berlumpur
kutatap esensi dan eksistensiku yang hina
hitam, kotor dan bau
ketika aku dihina manusia
sadar aku
esensi dan eksistensiku
lumpur hitam di rawa-rawa
diaduk dengan cahaya, angin, air
aku dishalat (tegak) kan allah
maka aku harus menshalat( menegak) kan
allah dalam tubuh dan ruhku

 

sepanjang rawa berlumpur
kusaksikan allah mengangkat martabatku
para malaikat menyanyikan:
“engkau makhluk paling mulia!”
nyanyian itu kudengar nyata
saat manusia terlelap semua
aku tahajjudkan ruhku
menyujudi lumpur di rawa-rawa
seperti para malaikat menyujudi adam
sebagai penghormatan teramat agung
kepada pencipta

 

sepanjang rawa berlumpur
aku menangisi hakikatku
yang tiada berharga
tapi juga kutangisi kebesaranmu
yang tak pernah mampu kupahami
dengan tubuh penuh lumpur hina
pantaskah aku berkata:
“kekasih kepadamu?”
o tuhanku
betapa agung
cintamu kepadaku!

 

Ciputat, 9-10-2005

___________________________

Oleh: Juftazani

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...