18 February 2018

Duka Nestapa di Negeri Kaya Raya

Oleh: Marlin Dinamikanto*

Dulu sekali, tanah ini milik Tuhan
Nenek moyangku bebas bertanam
Mencari ikan di pinggiran sungai yang jernih
Memanen lebah di pohon-pohon tinggi menjulang
Tak pernah takut polisi datang, mengusir kami yang dituduh
menggarap tanah milik perkebunan

Dulu, enam puluh delapan tahun silam
Kakekku menyekolahkan anaknya ke Pulau Jawa
Hanya dengan lada yang dipanen dari sekitar rumah
Ayahku di perantauan hidup berkecukupan
Uang kuliah dibayar penuh – bulanan lancar
Bahkan dibelikan sepeda paling mahal di zamannya
Sehingga ayahku tampak bergaya setiap ngapel
Idaman hatinya – Ibuku yang asli orang Jawa

Dulu, tiga puluh tahun yang lalu
Suasana kampung halaman berubah pilu
Lada dan karet dibabat habis pengusaha kelapa sawit
Ganti rugi sepuluh rupiah per meter jelas penghinaan
Tapi uwak-uwak kami tak bisa berbuat apa-apa
Selain menyerah kepada nasib buruk yang menimpanya

Akhirnya, uwak-uwak kami dan tetangganya
Menjadi buruh di tanah milik Tuhan
yang kalian sebut tanah milik perkebunan

Sekarang ini, jangankan menyekolahkan anak ke Pulau Jawa
Para sepupu di Sumatera yang saya datangi setiap liburan
Tak mampu lagi menyekolahkan anaknya – di tengah slogan
Pendidikan gratis yang merata ke seluruh negara
Sebab mereka tak mampu lagi membiayai kebutuhan
Ongkos mobil, seragam, sepatu dan tas sekolahnya

Terlebih saat ditemukan tambang batubara
Yang mestinya barang Tuhan dibagi rata
Tapi mereka hanya kebagian jalanan becek berlubang
adalah neraka di setiap musim penghujan
Atau debu truk tronton di musim kemarau yang gersang

Mereka tak bisa apa-apa – selain mengelus dada
Terima nasib menjadi penerima kartu santunan pemerintah
Di negeri tropis yang sesungguhnya kaya raya

Nanti, apa yang terjadi bila penguasa
Hanya pentingkan royalti untuk diri sendiri
Sedangkan tanah yang subur dan kaya raya
Memberikan kehidupan layak hingga ayahku sarjana
Dari kakek yang hanya petani karet dan lada
Akan menjadi ironi yang meluka
Ingatan kami para anak cucunya

Kini kekayaan itu entah kemana larinya
Setelah lada dan karet berganti kelapa sawit
Milik perkebunan yang entah siapa pula orangnya
Hanya sedikit menyisakan untuk upah pekerja
Yang dulunya tuan di negeri kaya raya
Sekarang paria – ironi yang meluka

Terus apa yang tersisa?
Selain duka nestapa sepanjang masa

Martupat, 9 Februari 2018

*) Puisi di atas akan saya bacakan dalam acara "Temu Kangen Aktivis 1980-an 1990-an pada 25 Februari 2018 di Jakarta. Sekaligus sebagai pesan kepada kawan-kawan aktiVis yang sedang atau hendak berkuasa.

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...