17 September 2019

Dimanakah Alamatmu, Wahai Cinta? Puisi Juftazani

Juftazani

1
Dimanakah kau berada wahai cinta
Seekor angsa menanyakan alamatmu
Aku yang tercelup dalam gaya aksi
akan terlihat gaya reaksi sama besarnya
dalam arah yang berlawanan
Engkau ada di langit, aku di bumi
Bawalah aku pergi, telanjang dan sendiri
Dengarlah ketukan-ketukan hari
seperti ketukan garputala
menggugah genta di alam ruhani
seekor angsa yang hina ini berenang di arus dingin sendiri
aku rindu jiwa di sebuah perapian yang sunyi

2
Dimanakah kau berada o cinta
Keindahan hati keindahan abadi
Aku yang tertelan dalam gravitasi bumi
tak terbebaskan dari gaya tiada ketergantungan
Sifat, perbuatan dan hakikatMu yang azali
aku rindu
seperti rindunya nyala hati
atau gelora besi yang mencari panas
agar berubah menjadi sebilah pedang
untuk memutus keterpisahan kita yang sangat jauh
aku terus berenang di arus dingin lautanMu
mencari istana intuisi

3
dimanakah letak istana intuisiMu yang abadi
cahaya di atas cahaya menyinari alam ruhani
akal-akal yang terbagi
hanya kesatuan cahaya-cahaya
menyebabkan alam semesta menari-nari

4
Dimanakah kau berada wahai cinta
Sang angsa mengadakan perjalanan menujuMu di atas air
menurut para ilmuan, Cahaya terbesar
berasal dari bintang terbesar alam semesta
tidak, bintang terbesar memiliki kebergantungan
aku ingin cahaya yang tak memiliki ketergantungan, Dia sendiri
ketika terpantul di atas air yang tenang
tak bias, seperti sebuah tongkat yang patah
aku jalani pengembaraan ke rumahMu terlalu payah
limpahan ilmu yang menetes ke relung jiwa
seperti tetesan-tetesan cahaya
bagai rumus indeks bias mutlak
menitis ke ceruk jiwa
akulah sang angsa yang mengagumi kebesaranMu
menangis sepanjang hari
aku mengagumi kebesaranMu
menyelami hakikat pembiasan dan pemantulan
menangisi kerinduanku untuk pulang saat ini
tapi cahaya rindu terus berpijar
seperti berpijarnya bintang tsurayya
Tak sedetikpun Kau berkejap
menyambut kedatanganku
Aku ingin menyaksikan cahaya
membakar seluruh alam semesta
Lalu setiap jiwa menari. berlagu dalam sekali
alangkah hina diri ini,
tiada berdaya seekor angsa
Sendiri berenang di arus sunyi

5
Dimanakah kau wahai cinta
cahayaMu melenyapkan segala yang tampak
kini hanya Kau yang terlihat menyingsingkan lengan bajunya
dan terus bekerja
kasihan orang yang kosong dari api cinta
dengan bibir berbusa berkata Tuhan tidak pernah bekerja

6
Dimanakah kau berada wahai cinta
Di langit-langit yang teramat tinggi di atas sana
menerobos galaksi demi galaksi
Atau di tengah lautan semesta
Aku bisa selalu nyaman di sisiMu o Ilahi
angsa yang kesepian hanya berharap
Berjumpa denganMu
kuingin menatap wajahMu yang teramat rupawan itu
Lihatlah jiwaku, sebuah ceruk yang gelap
hanya bisa diterangi cahayaMu
cahaya yang teramat lembut dan meneduhkan kalbu

 

Tangerang, 8 September 2019

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...
Senin, 16 Sep 2019 - 20:09
Senin, 16 Sep 2019 - 20:05
Senin, 16 Sep 2019 - 19:59
Senin, 16 Sep 2019 - 19:57
Senin, 16 Sep 2019 - 19:53
Senin, 16 Sep 2019 - 19:46
Senin, 16 Sep 2019 - 19:44
Senin, 16 Sep 2019 - 19:41
Senin, 16 Sep 2019 - 19:39
Senin, 16 Sep 2019 - 19:37
Senin, 16 Sep 2019 - 19:35
Senin, 16 Sep 2019 - 19:32