25 May 2019

De Atjeh-oorlog : Djihad en Koloniaal Machtsvertoon – 95

Episode 95
Fragmen Kedua
Perempuan-Perempuan Berani  Di Medan Pertempuran  Aceh


Dilemma paling hebat terjadi pada seorang perempuan adalah, ketika ia dijodohkan dengan lelaki yang tak dicintainya, tetapi ia mengikuti saja apa kata orang tua yang menjodohkannya, sehingga batinnya tersiksa dan merana yang akhirnya menimbulkan perpecahan dan bercerai.

Cut Meutia, perempuan yang digambarkan oleh penulis paling gres dan produktif di zaman kaphe-kaphe Belanda, HC Zentgraaf sebagai perempuan yang bukan hanya cantik (Waarin de naam van het mooie in zich met Meutia niet alleen vanwege haar mooie gezicht , maar een mooie vorm van het lichaam aan hen), tetapi juga memiliki bentuk tubuh yang indah dan menggetarkan bagi yang melihat.  “Cut Meutia was echt een engel”, Cut Meutia benar-benar seorang bidadari.

Lahir di Keuroetoe, Pirak, sebuah wilayah di Aceh Utara pada titimangsa 1870, Cut Meutia adalah putri dari Teuku Ben Daud Pirak dan ibu bernama Cut Jah. Pasangan ini mempunyai 5 anak, Teuku Cut Beurahim,  Teuku Muhammadsyah, Teuku Cut Hasan dan Teuku Muhammad Ali dan  Cut Meutia satu-satunya perempuan dari 5 anak pasangan Teuku Ben Daud dan Cut jah itu. Berperan sebagai Uleebalalang, Teuku Ben Daud hidup di kampung Pirak dalam keadaan damai dan bersahaja ,ketenteraman terjamin dengan baik.

Daerah Pirak di Keureotoe adalah daerah otonom yang  mempunyai pemerintahan otonom dimana kehakiman yang juga otonom hingga mempunyai kekuatan hukum  mengadili perkara-perkara dalam tingkat yang rendah sampai tingkat tinggi.                 

Sementara itu daerah Keureotoe memiliki kedudukan khusus pula sehingga pemerintahan otonom pula karena Keureotoe adalah  daerah terkemuka dan terkaya. Penduduknya sangat padat dan di zaman kaphe-kaphe Belanda dijuluki dengan “Keujreun Lalat”. Inilah daerah istimewa dan terpandang di zamannya dimana pemerintahan Sultan Aceh turun ke daerah ini beserta para uleebalang melakukan  musyawarah dengan kompak dan tak tergoyahkan. Air liur kaphe-kaphe Belanda rupanya meleleh dan sangat berselera mendudukinya.                 

Teuku Keujreun Peugamat adalah Uleebalang pertama di Keureuto.  Cut Nyak Asiah seoang uleebalang yang karena menggantikan suaminya yang meninggal,  ia yang kini memimpin daerah Keuroetoe dengan  kecakapan yang tiada bandingannya sebagai orator dan pemandu saat berbicara di majelis permusyawaratan dibalai rakyat (Kejruen) Keuroetoe, memimpin daerah ini dengan sangat bagus dan sangat merakyat.  Dari hasil
perkawinannya dengan Teuku Chik Muhammad Ali, suaminya yang telah meninggal, lahir dua anak yang keduanya wafat saat bayi juga. Cut Nyak Asiah mengadopsi dua putera dari Teuku Ben Berghang saudara dekatnya. Kedua anak itu bernama Teuku Syamsarif dan Teuku Cut Muhammad.  

Pada sisi lain , ayah Cut Meutia Teuku Ben Daud adalah seorang yang memiliki jiwa kerakyatan yang kuat, selain itu Teuku Ben Daud juga memiliki jiwa sebagai seorang ulama yang tak pernah  mau tunduk kepada kaphe-kaphe Belanda. Inilah kekuatan yang diwariskan Teuku Ben Daud kepada Cut Meutia, sehingga anak perempuan satu-satunya kini memiliki jiwa kesatria yang tinggi dan teruji.  Dan ia paling membenci orang-orang yang memiliki jiwa besar tetapi menginjak-injak orang-orang kecil di bawah kekuasaannya. Dan ini pula yang menggelisahkan dirinya ketika jodoh pertamanya jatuh ke seorang laki-laki yang bernama Teuku Syamsarif, alias Teuku Cik Bintara. Perkawinan antara sesama anak-anak kejuruen di Keuroetoe.

Namun tidaklah mudah menguasai daerah Keuroetoe, darah kaphe-kaphe Belanda dan darah mujahidin dan mujahidah Tanah Perlawanan muncat bertemperasan dan memercik ke udara dalam perang yang sengit dan siap menerima segala nasib dan takdir yang akan tiba. Perang yang disertai hujan dan petir di keureoteo itu menyebabkan kaphe-kaphe Belanda banyak yang tewas berlumur darah yang dihanyutkan hujan Aceh yang sangat deras dan besar. Disertai angin kencang dan jerit pekik nyawa yang akan terlepas dari kerongkongan dan rasa sesak di dada. Walau pun akhirnya kaphe-kaphe Belanda dapat menguasai daerah ini dan menyulap Keuroetoe menjadi  daerah- daerah kecil. Sehingga Keuroetoe yang luas dan sangat padat penduduknya, kini bagaikan sebuah daerah yang terpecah-pecah di bawah  onderafdeling Lhok Sukon.                   

Inilah dilemma besar yang terjadi pada jiwa Cut Meutia yang terlahir begitu indah, cantik, memiliki potongan tubuh atletis, dan kemulusan dan wajah yang aduhai. Tetapi jangan disangka perempuan yang digambarkan Zentgraaf ini bagaikan bidadari, akan memiliki jiwa “melankolis”, suka bersolek, suka memamerkan kecantikan dan berjalan lemah gemulai. Gambaran itu jauh sama sekali, justru sifat-sifat yang tak sesuai dengan mujahidin dan mujahidah Aceh itu dimiliki oleh suaminya, Teuku Cik Bintara. Seorang lelaki yang berjiwa melankolis, flamboyan dan suka hidup senang. Maka Teuku Cik Bentara lebih suka bergabung dengan kaphe-kaphe Belanda, dibanding memiliki jiwa kesatria dan berjuang untuk hidup ke depan yang lebih jauh bersama para pejuang Tanah Perlawanan.                     

Bercerai dengan suami yang tak sejalan dan sehaluan, Cut Meutia menikah dengan Teuku Muhammad, yang merupakan adik dari Teuku Cik Banta. Adakah ini gambaran nyata dari dua anak Adam yang memiliki jiwa saling bertolak belakang, antara Qabil yang melankolis, flamboyan, suka yang indah, enak dan tinggi tapi tak mau bekerja keras dan abai untuk berserah diri kepada Allah. Dan Habil yang kesatria dan mau berjuang dengan jiwa penuh gelora akan tetapi selalu pasrah dan taat kepada Allah?  

Dengan menikah dengan adiknya, maka Cut Meutia menjalani kehidupannya yang sesungguhnya, sesuai dengan jiwa kemerdekaan dan kebebasannya di bawah lindungan ka’bah yang dilambari kesucian hati dan ketekunan dan kejujuran kepada kehidupan yang hanya satu kali ini. Maka bergelora dan berdetaklah langkah-langkah keduanya, pasangan yang dianugerahi jiwa yang sama, untuk mengadakan perhitungan dan perlawanan dengan kekuatan-kekuatan jahat yang datang dari negeri jauh sana. “Kaphe-kaphe Belanda menjual, mujahidin mujahidah Aceh membeli”, demikian jawaban Cut Meutia saat memulai perjuangannya dengan suami tercinta Teuku Muhammad alias Cik Tunong.                 

Maka dari subuh kaki-kaki mereka bagaikan kaki-kaki kuda yang mengepakkan debu di belakangnya, lari dan mengejar musuh yang berada di depan. Memasang wajah serius, sebagai isyarat konsentrasi yang penuh, Cut Meutia dan Cik Tunong mengayunkan kelewangnya kepada setiap kaphe-kaphe yang menantangnya di medan pertempuran. Pertempuran ini tak jauh dari sebuah keputusan  Cik Tunong bersama istrinya untuk hijrah dan bergerilya di gunung. Maka pergilah pasangan ini ke sebuah daerah pegunungan yang sepi, sunyi, dingin tetapi dengan jiwa dan gelora ruh yang panas memperjuangkan hak-hak Allah di atas permukaan dunia yang sementara. Daerah potensial dan cukup bagus untuk begerilya itu adalah Alas dan Aceh Gayo. (Bersambung)

 

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...