18 January 2020

De Atjeh-oorlog : Djihad en Koloniaal Machtsvertoon – 84

Episode 84

Fragmen Kedua
Perempuan-Perempuan Berani  Di Medan Pertempuran  Aceh

Berlayarlah mereka menuju Mekah, Mekah yang dirindukan, Mekah yang dielu-elukan sebagai sebuah tempat (rumah) Allah di muka bumi dan tempat mensucikan diri dari segala kesalahan dan dosa. Mekah tempat meningkatkan diri menuju kehadirat Allah ‘Azza Wajalla, tempat meluaskan pandangan dan menuntut ilmu setinggi-tingginya hingga Allah memuliakan seorang yang berilmu beberapa derajat. Itulah yang tengah dicari Teungku Cut Fakinah, seorang ulama perempuan Tanah Perlawanan yang sangat jarang didapat. Baik di Aceh maupun di Nusantara. Seorang perempuan yang multitalenta, ya pejuang,ya ulama, ya pendidik (guru), ya ahli strategi,ya juga pengumpul dana yang sangat piawai untuk melanjutkan estafeta perjuangan bangsa Aceh sampai kapan pun, bahkan sampai kiamat tiba.

Sesampai di pelabuhan Jedah, Teungku Cut Fakinah dan suaminya Ibrahim diperiksa paspor dan segala surat-suratnya. Ia meninggalkan segalakeributan perang Sabil di Tanah Rencong untu  mengheningkan diri beberapa tahun bersama Allah di Mekah. Setelah selesai surat-surat diperiksa, maka Teungku Cut Fakinah bersama suaminya berangkat menuju  rumah wakaf Aceh, yang terdapat di jalan Kusya Syiah. Segala urusan dan tetek bengeknya selama di Mekah  diurus oleh Syech Abdul Gani, seorang ulama Aceh yang telah lama mukim di Tanah Suci. Syekh Abdul Gani berasal dari  berasal dari Aceh Besar.

Maka suatu kegembiraan yang tiada terkira, pada 1916 Teungku Cut Fakinah bersama seluruh umat Islam seluruh dunia, menunaikan ibadah haji yang kelima. Begitulah cita-cita setiap Muslim dan Muslimah di atas permukaan bumi ini. Menunaikan ibadah haji adalah satu kerinduan yang tak  didapat kecuali pada bulan-bulan tertentu setiap tahunnya.

Namun apakah dengan usainya musim haji dimana para jamaah haji beribadah melakukan segala bentuk ritual  yang telah dilakukan oleh nabi Ibrahim dan  istri beliau Siti Hajar, Teungku Cut Fakinah langsung pulang ke Tanah Perlawanan melakukan kembali Perang Sabil? Ternyata , Teungku Cut Fakinah juga merindukan ilmu dan keulamaan yang martabatnya tentu lebih tinggi dari berjuang dengan pedang. Walaupun berjuang dengan pedang juga penting, tetapi berjuang dengan ilmu juga penting. Maka pentinglah dua jihad yang dipandang tinggi di mata setiap Muslimin dan Muslimat di seluruh dunia ini.

Berjihad,  kata-kata ini selalu disalah artikan dan disengaja dibelokkan kaphe-kaphe Belanda menurut kemauan puser (nafsu)nya saja, bukan hanya di medan Perang Sabil. Menambah ilmu untuk membekali murid-murid Teungku Cut Fakinah di berbagai Dayah (pesantren/madrasah), juga sebuah jihad. Mengisi taushiyah dan mengisi amunisi Perang Sabil yang sering diperankan oleh Syekh al-Fonso, Syekh Abdul Mujab, Syekh al-Askandari, dan banyak lagi syekh yang lain adalah sebuah jihad.  Maka sekarang Teungku Cut Fakinah berjihad mengumpulkan ilmu di tanah suci Mekah. Di antaranya beliau menuntut ilmu kepada Teungku Syekh Muhammad Sa'ad , seorang ulama besar dari Peusangan , Aceh yang kini mengajar di Masjidil Haram, kota Mekah.

Teungku Cut Fakinah belajar kepada banyak ulama yang memberi kuliah di ruang dalam Masjidil Haram, atau ada juga di teras (emperan) masjidil Haram,  Mekkah.

Selama Teungku Cut Fakinah berada di Mekah, tongkat estafet perjuangan ia serahkan kepada kepala-kepala mujahidin yang dulu masih bertempat di empat buah benteng (kuta). Benteng (kuta) Cot Piring, Cot Ukam, Cot Raya dan Cot Weue. Kini semua benteng itu sudah dikuasai kaphe-kaphe Belanda. Dan kepala mujahidin itu kini mengerucut kepada dua orang saja di pihak mujahidin . Sedang di pihak Mujahidah, Sayidah Nazila ditunjuk Teungku Cut Fakinah sebelum ia berangkat ke Mekah.  Selama Teungku Cut Fakinah menuntut ilmu di Tanah Suci, sering terbayang seluruh anak buahnya yang terdiri dari prajurit laki-laki dan perempuan yang gagah berani dan tak takut mati menghadapi kaphe-kaphe Belanda. Di saat shalat Subuh dan shalat lima waktu, ditambah ketika ia mendirikan shalat tahajud, Teungku Cut Fakinah terus tiada henti mendoakan seluruh prajuritnya selamat dan memenangkan pertempuran melawan kaphe-kaphe Belanda.  

Baru saja memasuki tahun keempat Teungku Cut Fakinah berada di Mekah, suaminya Ibrahim pun menghembuskan nafas terakhir. Titimgnasa saat itu menunjuk pada 1918. Tak berapa di tahun yang sama Teungku Fakinah pun pulang  ke Aceh. Jauh-jauh hari seluruh anak buahnya telah diberitahu akan kepulangannya.

Kapal menderu untuk sekian kalinya, sejak 8 orang pejuang Aceh pertama pulang dari Mekah menuju Aceh. Kini seorang ulama perempuan yang berada di atas yang sama, dengan tujuan sama – yaitu membebaskan tanah Aceh, tanah perlawanan dari cengkeraman kuku kotor kaphe-kaphe Belanda. Saat tiba di Lam Krak Teungku Cut Fakinah disambut bak pahlawan yang baru pulang dari pengasingan, sambutan meriah dan melantunkan shalawat badar terdengar bertalu-talu dengan iringan rebana dan kendang Aceh yang khas dengan suaranya yang memilukan hati, karena kerinduan berjumpa dengan seorang ulama perempuan besar, seakan mengingatkan kepada para ulama-ulama zaman dahulu yang sealu dirindukan murid-muridnya yang haus akan ilmunya.

Maka baru saja Teungku Cut Fakinah pulang, ia langsung mengambil alih seluruh pemegang komando perlawanan dari wakil-wakilnya yang dipercaya selama ia berada di Tanah Suci.  Teungku Cut Fakinah juga  kembali memimpin  Dayah (Pesantren) yang selama empat tahun telah  ditinggalkan. Ia berjanji akan memberikan para muridnya dengan seluruh ilmu-ilmuyang telah dituntutnya selama berada  di Mekkah.  Selain itu teungku Cut Fakinah juga kembali mengorbankan dirinya sebagai pengelola dana-dana sosial untuk perang Sabil, sebagaimana peran itu ia pegang sebelum ke Mekah. Begitulah, betapa giat dan penuh nya pekerajaan perempuan yang ulama dan pejuang ini. Hingga waktu 24 jam terasa sangat kurang untuk mengisi segala kegiatan yang dilakukannya di tengah-tengah rakyat Aceh yang tengah berjuang membebaskan diri dari penjajahan kaphe-kaphe Belanda.
 

Lama beliau melakukan aktifitas pendidikan, berjuang di tengah hutan, mendidimk perempuan-perempuan menjadi lebih salehah dan lebih giat melawn kaphe-kaphe, juga sibuk mengumpulkan dana dan lain sebagainya, sampai 20 tahun beliau berada di Tanah Aceh setelah kepulangannya dari Mekah. Maka tepat pada bulan Ramadhan tanggal 8 tahun 1359 Hijriyah, atau bersamaan dengan tahun 1938, ulama perempouan Aceh yang besar dan disegani ini pun menghembuskan nafas terakhirnya di kampung Beuha Mukim, Lam Krak. Saat itu usia beliau menginjak 75 tahun. Semua rakyat Aceh dan para pemimpin dan ulama yang masih hidup, mengantarkan jenazahnya ke kuburan dengan iringan hujan airmata.

Barisan panjang pengantar jenazah dipedalaman Aceh, tepatnya di Lam Krak sekan mengucapkan selamat jalan dengan iringan shalawat yang indah. Sepnajang jalan menuju makam tempat dikuburkannya Teungku Cut Fakinah, tercium bau wangi kesturi dari surga dan pelangi menghiasi langit saat hendak menuju pemakaman. Hujan menyambut kedatangan teungku Cut fakinah begitu sampai di pintu gerbang pekuburan dan para pengantar jenazah tak merasa takut dengan airhujan yang penuh rahmat dari Allah ‘Azza Wajalla itu.

Di saat terakhir jenazah hendak ditanamkan, pengantar khutbah terakhir memberikan kata-kata terakhir sebelum melepas jenazah yang harum mewangi dan tinggi serta cinta akan ilmu dan berjuang keras melawan kaphe-kaphe Belanda itu dengan ceramah yang singkat dan padat: “Saudara-saudara kaum muslimin dan muslimat, hari ini kita kehilangan ulma perempuan yang besar perannnya dalam masyarakat Tanah Perlawanan. Seoang ulama yang rindu akan ketinggian ilmu, seorang mujahid yang cinta dengan peperangan jihad fi sabilillah. Dengan perginya teungku Cut Fakinah, kita benar-benar kehilangan dan seolah – olah ditinggalkan oleh ibu kandung kia sendiri. Bahkan bisa melebihi ibu kandung, karena ibu kandung hanya membesarkan kita dari lahir hingga besar. Tetapi dengan keulamaan perempuan mulia Teungku Cut Fakinah, mengantarkan kita dari dewasa ke taman surga. Beliaulah yang mengajarkan kita bagaimana berjuang di tengah peperangan fisik melawan kaphe-kaphe Belanda. Tetapi bneliau juga mengajarkan kita, bagaimana  berjuang melawan kebodohan dan kejahilan dengan menuntut ilmu sampai ke Mekah al-Mukarramah.

Pidato khutbah penguburan itu ditutup oleh syekh Muhamad Al-Askandary dengan mengutip sebuah hadits dari Bukhari: Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak menggengam ilmu dengan sekali pencabutan, mencabutnya dari para hamba-Nya. Namun Dia menggengam ilmu dengan mewafatkan para ulama. Sehingga, jika tidak disisakan seorang ulama, manusia merujuk kepada orang-orang bodoh. Mereka bertanya, maka mereka (orang-orang bodoh) itu berfatwa tanpa ilmu. Maka mereka tersesat dan menyesatkan. (Riwayat Al Bukhari)

Al Munawir mengatakan  yang dimaksud ilmu alam hal ini ialah makrifatullah (ilmu mengenal Allah). Juga ilmu menyangkut  iman kepada Allah Nya dan  hukum-hukum-Nya.  Dengan wafatnya ulama besar teungku Cut Fakinah sudahpastilah  proses mengajar dan belajar  akan terhenti, sampai beliau digantikan ulama-ulama sesudahnya. Namun jika tak lahir para ulama setelahnya, maka umat akan dipastikan menjadi bodoh.

Para peziarah sekalian, ketahuilah bahwa Imam As Syatibi menyatakan ilmu itu ada di dada para ulama, bersamaan dengan perkembangan waktu ilmu itu  berpindah ke buku-buku, namun kuncinya masih di tangan para ulama. AKhirnya khutbah itu ditutup dengan doa. Dan mulailah jenazah yang mulia dan harum itu ditimbun dengan tanah merah, dan perpisahan abadi di atas dunia dimulailah antara seluruh pejuang tanah Perklawanan dengan ulama besar Teungku Cut Fakinah. Tapi tidak dalam dunia ruhani, seluruh umat islam akan tetap berkomunikasi paling tidak 5 waktu sehari dan semalam. (Bersambung)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...