20 May 2019

De Atjeh-oorlog : Djihad en Koloniaal Machtsvertoon – 76

Episode 76
Fragmen Kedua
Perempuan-Perempuan Berani  Di Medan Pertempuran  Aceh

2

Seorang Marsose yang paling patuh kepada kaphe-kaphe Belanda bernama Redjarama, ia bertugas di Beureuleue, Pidie.  Saat itu titimangsa jatuh pada 26 Juni 1904, ia berjalan bersama teman-temannya marsose dari Ambon, Manado dan Sulawesi Selatan. Para mujahidin Aceh yang bergerilya dan bersembunyi di sebuah rumah, melihat para marsose itu lewat. Para mujahidin yang dipimpin Pang Andah menembak mereka akan tetapi penembakan itu tak mengenai sasaran yang jelas.  Rejakrama mencoba berlindung di balik pohon beringin di halaman rumah yang ditumbuhi akar-akar yang lebat di bawah rerimbunnya. Tetapi Pang Andah dikurung para marsose itu dengan kepungan rapat dengan bersenjata kelewang dan karabijn. Pang Andah tak juga keluar-keluar dengan pasukannya.              

Lalu marsose itu menghantam dinding rumah itu dengan balok kayu yang besar, tak lama dinding rumah itu jebol dan mereka melihat para mujahidin berlindung di balik karung-karung berisi padi dan tanah yang bertumpuk-tumpuk melindungi mereka. Satu persatu para mujahidin itu keluar dengan rencong dan kelewang, namun Rejakrama dan kawan-kawannya menembak dengan jitu dan berondongan yang berentetan, sehingga para mujahidin itu menjadi syahid.  Tembakan-tembakan marsose terus memberondong tumpukan-tumpukan karung-karung padi itu dan para mujahidin terpaksa keluar dengan mengejar para marsose dengan mengayunkan keledwang. Namun belum sampai kelewang menetak leher para marsose itu, para mujahidin syahid tertembak peluru karabijn para marsose. Akhirnya  tak ada satupun mujahidin  yang tersissa di rumah itu. Dengan hati tertawa-tawa Rejakrama bersama teman-temannya, sementara para Mujahidin di bawah Pang Andah tertawa-tawa pula disambut para buidadari di alam yang tak kelihatan kaphe-kaphe Belanda itu.

Maret 1890, Andrey Hongtiangchu dan Hitcock Marfeley, dua Ambon Marsose  bertugas di lembah Idie. Sepagi itu mereka sudah bekerja dan matahari memperlihatkan wajahnya yang menyeringai, tiba-tiba terdengar suara berisik dari depan  tempat persembunyian mereka. 80 mujahid-mujahid Tanah Perlawanan  muncul dari arah Pidie. Dua marsose itu ketakutan melihat 80 mujahid Aceh yang berselempang rencong berkalung kelewang dan beberapa orang bersenjata senapan karabijn.

Musuh dari selatan, tepatnya dari Cot Bamboton menyerbu pula dengan sengitnya. Ternyata pasukan-pasukan dari Bamboton itu 20 marsose yang diperbantukan kepada dua marsose yang bersembunyi itu. Terjadilah pertempuran hebat, 80 mujahid Aceh melawan 22 marsose. Pertama kali terjadi tembakan karabijn marsose ke arah mujahidin calon-calon sueruega Allah Ta’ala. Pasukan mujahidin membalas pula dengan tembakan karabijn yang sama. Maka kedua pasukan itu saling berdekatan dan terjadi perkelahian dengan memakai kelewang dan rencong. Kedua pasukan sama-sama tangkas dan cakap. Delapan belas marsose itu mati dikeroyok 80 orang mujahidin. Di pihak mujahidin tewas 40 orang dan luka-luka 30 orang. sepuluh orang tak menderita apapun kecuali luka-luka ringan. Dua marsose yang masih hidup terpaksa melarikan diri dengan luka-luka di tubuh mereka.

Pasukan marsose berdatangan dan mengejar sepuluh mujahidin yang melarikan diri ke hutan-hutan. Namun mereka tak mendapatkan apapun, sedang yang menderita luka-luka dibabat habis oleh marsose kaphe-kaphe Belanda dengan cincangan kalewang dan rencong yang mereka miliki.  Haripun mulai gelap dan para marsose itu pun pulang ke markas mereka di Idie, sedangkan pasukan Mujahidin yang syahid dalam pertempuran dan yang syahid karena luka-luka malam itu diselamatkan oleh laki-laki dan perempuan mujahidin yang berdatangan dan menguburkan mereka.

Tuanku Abdul Majid, dialah pejuang Tanah Perlawanan heroik dan tangguh dan pemberani. Sayang ia tertangkap kaphe-kaphe Belanda saat  berperang sengit memperjuangkan negerinya dari cengkeraman orang zalim dari Belanda itu. Tertangkapnya Abdul Majid tak menjadikan Pocut Biheu alias Pocut Meurah Intan tak mengendurkan semangat perjuangannya. Ketiga putranya, Tuanku Muhammad atau Muhammad Batee, Tuanku Budiman dan Tuanku Nurdin didorong terus untuk tak meninggalkan garis perlawanan menentang penjajah rakus dan tak diri seperti kaphe-kaphe Belanda.                         

Belanda semakin bernafsu menguasai Aceh dengan pasukan marsosenya. Wilayah XII Mukim Pidie dipatroli dan disisir sampai ke batas-batas pinggir hutan. Kata mereka sedang mencari tuanku Nurdin dan Muhammad Batee. Orang-orang yang dicari-cari dan akan dihabisi untuk mengendorkan perjuangan mujahidin-mujahidin Aceh Tanah Perlawanan. Dua anak Pocut Meurah itu disebut-sebut sebagai pemimpin gerilya paling berbahaya saat itu, karena itu nama mereka menjadi bahan pembicaraan kaphe-kaphe Belanda, khususnya  Marsose. Karena jadi pembicaraan itu, tiba-tiba di depannya telah hadir seorang kolonel yang menyaru sebagai seorang prajurit biasa (bahkan rendahan) berdiri di depan Pocut Biheu. Saat itu Pocut belum lagi dikirim ke Kutaraja, ia masih dirawat di Biheu di sebuah Pusat Kesehatan Biheu, kopral itu menyusun jari jemarinya dan memberi hormat sepenuh penghormatan kepada Pocurt Biheu. “Hormaaaat!!!!” teriaknya dengan sikap kagumnya yang sangat tinggi terhadap semangat Pocut Biheu. Tiba-tiba dalam bahasa Belanda ia berkata kepada Velmant :”Aku kagum sekali pada keberanian dan sikap hero (kepahlawanan) perempuan ini. Di mana-mana tanah telah kuinjak, aku pernah bertemu dengan perempuan seperti dia!”   tak lama berselang, Velmant mendatangi Pocut Biheu dan menyampaikan kalimat-kalimat yang baru diucapkan Scheur. Mendengar itu, Pocut Biheu hanya tersenyum, dan ia diam dengan penuh arti, sambil mengembalikan segala kekuatan dan kehebatan – hanya milik Allah pemilik sueruega-Nya yang agung dan tinggi.                       

Di sebuah bukit, tuanku Nurdin naik ke atas sebuah bukit. Tanpa diketahui Marsose-marsose itu, Tuanku Nurdin yang merupakan calon syuhada suerueganya Allah Ta’ala yang sangat tinggi, dengan hati-hati naik keatas bukit. Ketika mereka sampai,  sepuluh marsose sedang beristirahat di atas bukit tersebut. Tuanku Nurdin langsung membabat marsose yang  sedang istirahat. Namun sebagian marsose dengan sigap bangkit dan melawan Tuanku Nurdin dan pasukannya.  Dalam waktu singkat pertempuran yang tadinya hampir dimenangkan Tuanku Nurdin, kini menjadi seimbang.  Itu disebabkan karena para mujahdin Aceh didikan Tuanku Nurdin kurang pengalaman menghadapi marsose gila dan selain itu memang marsose itu memang benar-benar makhluk galak yang tak mempunyai hati nurani sedikitpun. Dua orang anak buah Tuanku Nurdin  mati ditikam  Marsose. Maka sebagian anak buah Tuanku Nurdin matian-matian bertahan di bukit itu, namun sebagian melarikan diri ke bawah bukit, dan dikejar oleh marsose. Maka empat orang  anak buah Tuanku Nurdin syahid, sementara hanya seorang marsose terluka parah dalam pertempuran di bawah bukit itu. Namun dengan langkah taktik yang cerdas, pasukan Tuanku Nurdin di bawah berhasil merampas senjata  beamont dan senapan voorlaad dari mrsose-marsose yang terluka.                     

Februari 1900, langit mendung menutupi  keujruen Biheu dan hutan-hutan di sekelilingnya, begitu pula dengan daerah Tangse, Pidie.  Patrol marsose-marsose itu berhasil mengamati dan mendeteksi gerak-gerik Tuanku Muhammad Batee. Mereka memakai tenaga cuak-cuak (pengkhianat-pengkhianat) setempat, begitulah kekalahan demi kekalahan selalu disebabkan pengkhianatan bangsa Aceh sendiri yang lemah imannya. Tak tertarik dengan manisnya sueruega-sueruega Allah Swt. Tuanku Muhammad Batee  tertangkap Marsose kaphe-kaphe  Belanda di  Tangse, Pidie. Dua bulan kemudian Tuanku Muhammad Batee dibuang pemerintahan gubernemen kaphe –kapahe Belanda ke Sulawesi Utara, sebuah tempat yang sangat jauh dan sulit bagi Tuanku Batee untuk pulang. Daerah pembuang itu bernama Tondano. Begitulah kaphe-kaphe Belanda itu selalu mencari penyakit mereka, baik di dunia apalagi di akhirat nanti. tak kurang pula penyakit para cuak-cuak alias pengkhianat-pengkhianat dari bangsa Aceh sendiri. rasanya dunia ini lebih manis dari sueruega-sueruega Allah di akhirat kelak. Wallahu’alam bishashawab!! (Bersambung)

 

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...
Minggu, 19 May 2019 - 20:59
Minggu, 19 May 2019 - 20:58
Minggu, 19 May 2019 - 20:55
Minggu, 19 May 2019 - 20:51
Minggu, 19 May 2019 - 20:42
Minggu, 19 May 2019 - 20:35
Minggu, 19 May 2019 - 20:28
Minggu, 19 May 2019 - 20:24
Minggu, 19 May 2019 - 20:21
Minggu, 19 May 2019 - 20:12
Minggu, 19 May 2019 - 20:05
Minggu, 19 May 2019 - 19:54