14 October 2019

De Atjeh-oorlog : Djihad en Koloniaal Machtsvertoon – 75

                                                                   Episode 75
                                                               Fragmen Kedua
                          Perempuan-Perempuan Berani  Di Medan Pertempuran  Aceh

                       Langit Biheu masih merah tembaga ketika pasukan  marsose mendengar Pocut Biheu  masih hidup dan bersembunyi di sebuah rumah penduduk di Biheu. Pocut mempersiapkan pembalasan dendam terhadap cuak-cuak (pengkkhianat) bangsa Aceh yang menyebabkan kekalahanya melawan pasukan marsose kaphe-kaphe Belanda di Biheu sebulan lalu. Mendengar rencana itu, jenderal Veltman memerintahkan dua peleton marsose menggeledah rumah-rumah penduduk dan mencari Pocut Biheu, mati atau hidup.
                  Dengan gerak cepat, dua peleton itu menyebar ke perkampungan di Biheu.  Satu persatu rumah-rumah penduduk digeledah. Lama mereka menggeledah rumah-rumah penduduk, yang penuh ketakutan – tak juga menemukan perempuan berani dan paling ditakuti kaphe-kaphe Belanda itu. Di Keude Biheu, pasukan marsose kembali menyerbu kampung itu, dan pada sebuah rumah, marsose-marsose keparat itu menemukan Pocut Biheu sedang terbaring lemah.  Bi bawah dan di sampingnya tertumpuk kain-kain tua, dimana ia beristirahat.
                   “Aku minta, jika mendapatkan Pocut Biheu di rumah penduduk, bawa dia ke Kutaraja, jangan biarkan ia bebas mengobarkan semangat anak-anak buahnya melawan pemerintah yang sah, dan jangan ada yang menyakiti perempuan itu!” Ujar jenderal Veltman kjepada pasukan marsose.
                   Ketika para marsose itu menemukan Pocut Biheu, mereka langsung membawa perempuan yang terluka parah itu ke Sigli. Ketika Pocut Biheu tak mau dibawa, perempuan hebat itu berteriak-teriak lantang:
                  “Aku tidak mau, aku tak mau diobati dokter kaphe Belanda, aku tak mau disentuh dokter najis kaphe itu!” Teriak Pocut Biheu.
                   “Tidak! Tidak! kami tak akan membawamu ke dokter, kami akan membawamu ke rumah penjara!” Ujar salah seorang marsose budak kaphe Belanda itu. Ketika marsose itu mengangkat Pocut Biheu, ia meronta-ronta keras sekali. Tak seorang pun mampu membawanya kemana mereka inginkan. Karena itu, para marsose itu sebagian kembali ke markas. Mereka meminta Veltman untuk datang membujuk Pocut Biheu. Setibanya di tempat Pocut Biheu, Veltman yang fasih berbahasa Aceh itu membawa seorang dokter kulit putih dan membujuk Pocut Biheu untuk mau diobati. Lama Veltman berbicara, dan Pocut Biheu tetap tak menerima bantuan dokter. “Jangan kau sentuh aku, baiknya aku mati daripada tubuhku dipegang kaphé-kaphe laknatullah,” Ujar Pocut Biheu.
Veltman melihat Pocut Biheu dalam keadaan lemah, agaknya Pocut Biheu banyak kehilangan darah, walaupun ia mampu meronta-ronta menolak paksaan para marsose untuk dibawa, ia kelihatan kedinginan dan tubuhnya menggigil.  Di bekas lukanya terlihat ulat belatung yang mengerumuni lukanya.
 Veltman terus berbicara dan akhirnya nasehat-nasehat Veltman masuk akal juga.  Akhirnya Pocut mempersilahkan dokter menyentuhnya untuk diobati. “Tapi dengan syarat!” Ujar Pocut Biheu.
Kaphe-kaphe Belanda menanyakan apa syaratnya. “
“Aku boleh diobati dengan syarat  tentara marsose pribumi  yang boleh memegang dan mengoleskan obat pada lukaku”.
Akhirnya Veltman memerintahkan marsose pribumi untuk mengobati luka-luka yang diderita Pocut Biheu.  Setelah diobati dan Pocut Biheu beristirahat di rumah itu beberapa hari, mulailah kesehatannya menunjukkan perbaikan.  Namun setelah pertempuran hebat di  Padang Tiji,  berita-berita kehebatan Pocut Biheu berperang dengan menyabetkan rencong dan kelewang ke marsose-marsose laknat dan banyak yang luka karenanya, dan ada pula yang mati -  menyebar  di kalangan prajurit kaphe-kaphe Belanda.  Sementara Pocut Biheu yang mulai sembuh, dibawa para marsose dengan tandu ke Kutaraja.  Di sebuah penjara, Pocut Biheu dijebloskan ke dalamnya. Namun tak berapa lama Scheur, seorang komandan  peleton prajurit-parjurit kaphe-kaphe Belanda menemui  Pocut Biheu.  Begitu sipir membuka pintu penjara, Scheur langsung sujud di depan Pocut Biheu mengagumi dan hormat terhadap keberanian dan kehebatan Pocut Biheu. Bahkan  Veltman pun ikut memuji dan ikut juga bersujud di depan perempuan berani yang tak pernah merasa takut akan mati dan ditembak kaphe-kaphe Belanda. Seusai sujud di depan Pocut Biheu, Veltman menabalkan gelar  “Harimau Perempuan Gagah Berani” kepada Pocut Biheu. Dalam bahasa Belanda, gelar itu berarti  “Heldhaftiq”.
                 Rupanya tak lama setelah Pocut Biheu alias  Pocut Meurah Intan dibawa ke penjara,  tertangkap pula anaknya Tuanku Budiman. Tuanku Budiman yang juga menderita luka-luka parah juga disembuhkan dari luka-lukany lalu dibawa ke penjara Kutaraja. Lama Pocut biheu alias Pocut Mirah Intan meringkuk di penjara, begitu juga anak-anaknya, pihak kaphe-kaphe Gubernemen di Kutaraja mengadakan  rapat penting dan besar maknanya dalam perkembangan Aceh terkemudian. Rapat itu membicarakan  mengenai dua tokoh Aceh yang sangat ditakuti dan disegani. Akhirnya, rapat gubernemen kaphe-kaphe Belanda di Kutaraja memutuskan untuk membuang keduanya ke pulau Jawa. Kaphe-kaphe Belanda akhirnya membuang mereka ke Blora, Jawa Tengah. Namun usaha terakhir menundukkan keluar Aceh,  Pocut Meurah Intan alias Pocut Biheu  belum tuntas.
Di awal 1905, empat tahun setelah tertangkapnya Pocut Meurah Intan  dan anaknya, Tuanku Budiman, kaphe-kaphe Belanda lewat marsosenya berhasil menangkap anak terakhirnya Tuanku Nurdin yang masih bergerilya di hutan-hutan Biheu, Tangse, sampai ke Pidie dan Idie. Segala upaya dipakai untuk menaklukan tokoh besar Pocut Meurah Intan, alias Pcut Biheu ini. Isteri Tuanku Nurdin ditangkap, dan Tuanku Nurdin diminta menyerahkan diri kepada kaphe-kaphe  Belanda. Tuanku Nurdin bergeming. Namun lewat siasat para cuak (pengkhianat-pengkhianat Aceh), Tuanku Nurdin berhasil ditangkap di Lhok Kaju.Tuanku Nurdin akhirnya dibuang pula ke Blora bersama saudaranya dari keluarga Sultan yaitu Tuanku Ibrahim.   Semua mujahdin Aceh bersaudara ini akhirnya meninggal dunia di daerah yang jauh dari Tanah Perlawanan. Mereka meninggal di Gudang Banyu, sebuah daerah terpencil di  Blora. Pocut Biheu alias Pocut Mirah Intan syahid dalam pembuangan pada titimangsa 19 September 1937. Ia juga dimakamkan juga di Blora. Harum wangi kuburan mereka di Blora, memperlihatkan bahwa tiga anak beranak dan satu saudara sepupunya itu telah hadir di taman sueruega Allah, sehingga di sekitar kubur mereka tercium bau wangi yang aneh, baunya sangat wangi yang belum pernah tercium di bagian manapun di dunia. (Bersambung)

 

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...