22 January 2020

De Atjeh-oorlog : Djihad en Koloniaal Machtsvertoon – 73

Episode 73

Fragmen Kedua

Perempuan-Perempuan Berani  di Medan  Pertempuran  Aceh

Bila suatu negeri dicoba ditundukkan kekuatan-kekuatan kafir yang ingin mengeksploitasi (menjajah) negeri tersebut, maka lihat dulu perempuan-perempuan di negeri itu. Jika perempuan di negeri itu tunduk, maka tunduklah negeri itu. Jika perempuan-perempuan di negeri itu melawan dan tak pernah tunduk, maka janganlah penjajah kafir itu terus memaksakan kehendaknya, jika tidak negeri itu  akan terus meminta korban yang tak sedikit dan terlalu mahal harga yang harus dibayar untuk mendundukkannya. Orang-orang di negeri itu akan terus menjadi ancaman bagi penjajahnya dan itulah pertanda sebuah negeri memperlihatkan alamat kemerdekaan terus abadi. Negeri Itu adalah Aceh Tanah Perlawanan, yang tiada duanya di dunia ini. (Juftazani)     

Antara Sigli dan Padang tiji, terbentang ratusan pejuang perempuan Aceh, antara tekuk-tekuk pegunungan sampai dataran-dataran rendah yang datar, tersimpan para mujahidin dan mujahidah calon-calon penghuni sueruega Allah yang harum baunya. Titimangsa saat itu, 11 November 1902, gampong Biheu berpatroli pasukan kaphe-kaphe Marsose yang menjadi musuh  para mujahidin dan mujahidah Aceh tak mengendurkan tegangan perjuangan mereka menentang penindasan dan kezaliman kaphe-kaphe Belanda. Di Biheu mereka sedang mengadakan patroli rutin mencari prajurit Tanah Perlawanan. Letnan Kolonel T.J.Veltman memimpin sepasukan kaphe-kaphe Marsose, menelusuri jalanan  Biheu dengan karabijn, kelewang, senapan mesin Beaumont, dengan  delapan kaphe marsose itu, mereka menengok seorang perempuan melewati mereka.          

Pookock Alexander, Cina Ambon yang menjadi Marsose itu mencurigai sesuatu bergerak-gerak di balik sarung perempuan itu.

“Hei, Cut! Berhenti! Berhenti!” Teriak Pookock kepada perempuan itu.  Marsose itu bersikeras memeriksa perempuan itu. Ketika ia hendak memeriksa sarung perempuan itu, perempuan itu langsung mengeluarkan rencong dan mengancam Pookock Alexander si Marsose sok kuasa itu dengan rencongnya.            

“O, ampun Cut! Ampun Cut!” teriak Marsose itu sambil angkat tangan. Tapi si Marsose menyita rencong dari tangan perempuan pemberani itu.   Langit merah delima sore itu, Pocut Meurah Intan berlalu dari serombongan Marsose yang sedang berpatroli itu. Tak satu serdadu pejuang mujahidin calon-calon sueruega Allah yang dapat mereka tahan hari itu. Dan mereka melanjutkan patroli sampai keesokan harinya. Namun belum sampai esok hari, pukul 02.00 tengah malam, serdadu kaphe-kaphe Belanda  diserang oleh pasukan-pasukan mujahidin Tanah Perlawanan dengan sengitnya. Serangan mendadak itu mengejutkan setiap serdadu kaphe-kaphe Belanda dan menewaskan mereka malam itu. Sedang yang lainnya terjaga ketika teman mereka sekarat dan pejuang mujahidin Aceh sudah melarikan diri.

Sejarah Hindia Belanda telah menunjukkan banyak fakta bahwa sejak era Vereenigde Oostindische Compagnie yang penuh korup dan sangat bobrok sampai ke zaman Nederland Indie selalu memunculkan tokoh-tokoh Islam, sehingga Islam dianggap sebagai agama teroris, padahal sebenarnya – teroris teriak teroris. Siapa teroris dan dimana teroris itu berada dan tidur. Justru teroris itu dating sendiri ke Tanah Perlawnan dan meneriakkan orang yang berjuang untuk tanah airnya sendiri sebagai teroris. Sungguh aneh, gila dan tak mengerti di akal sehat.               

Salah satu yang disebut teroris itu adalah Cut Meurah Intan, perempuan gagah perkasa yang sangat ditakuti kaphe-kaphe Belanda. Tetapi bukan hanya perlawanan militan yang ditunjukkan para mujahidin  dan mujahidahTanah perlawanan, juga perlawanan kultural dan intelektual ditunjukkan oleh tokoh-tokoh Aceh sekaligus mengaktualkannya di lapangan. Satu di antara ulama Aceh yang melawan kaphe-kaphe Belanda dengan perlawanan cultural adalah Teungku Syekh Muhamhmad bin  Khatib Langein, ia seorang ulama tasawuf yang banyak mengarang kitab-kitab tasawuf – di antaranya kitab "Dhiýâ’ul Warâ’ ilâ Suluki Tarîqatil Ma’budil ‘Ûlâ". Pada tataran budaya dan sastra Cik Di Tiro dan Cik Pantekulu melakukan perlawanan cultural dan militansi sekaligus dengan sangat gagah beraninya, yang sulit ditemukan di bagian manapun di dunia. Syekh Muhammad Khatib Langein membahas masalah – masalah  “al-taubat, al-Zuhd, al-Shabr, al-Wara’, al-Tawakkal, al-Ridla, dan al-Ma’rifah” dalam buku karangannya. (Bersambung)

 

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...