21 August 2019

De Atjeh-oorlog : Djihad en Koloniaal Machtsvertoon – 71

Episode 71

Fragmen Pertama

Teuku Umar, Pejuang Bersiasat Kancil  

Berkaca pada penghadangan terhadap pasukannya beberapa hari lalu, Reuku Umar harus mulai berhati-hati, jangan sampai terjebak lagi dan itu tentu tanda maut akan mengancam. Tapi Umar seperti memang berada di atas beludru ringan yang diterbangkan angin di angkasa raya, berada di atas awan, berada di dunia lain yang belum pernah ia alami sebelumnya. Pertanda apa ini?

 

Titimangsa 30 Oktober 1889 pemerintah kaphe-kaphe Belanda membentuk 2 detasemen “pengawal mobil” yang bertugas mengadakan patroli di sepanjang lini, saat linie konsentrasi yang gagal itu masih dibelakukan. Mereka sangat geram dengan Teuku Umar. Orang gila yang  satu ini mesti ditangkap hidup-hidup, ujar Letnan Satu I. M. van de Ende, kepala detasemen yang bermarkas besar di Keutapang Dua.  Sedangkan Letnan Dua M. Neelmeyer kepala  detasemen yang bertugas di Lam Peuneurut juga tengah menjebak Teuku Umar, si kancil yang lincah dan mampu lari kemana-mana, dimana saja dia mau, tanpa halangan apapun. “Tapi kali ini, Umar akan menemui batunya!”ujar Letnan Dua M. Neelmeyer. Sampailah kedua kepala detasemen itu bubar, karena 6 bulan setelah mereka ditugaskan di Keutapang Dua dan  Lam Peuneurut, pasukan Marsose pun resmi dibentuk dan ditugaskan mengepung Teuku Umar di berbagai bagian penting, selama yang dikenal sebagai tempat-tempat dimana Teuku Umar sering lewat dan melalui jalan itu.

Berhari-hari pasukan Teuku Umar seperti mengalami kebingungan dan seperti gerombolan yang diburu. Berhari-hari mengadakan longmarch di dalam hutan, mulai dari Meulaboh sampai ke Lampadang, dari Aceh Rayeuk ke Pidie, dari Gayo Lues ke Teunom. Itu melewati hutan-hutan besar, dan mereka dalam posisi yang diincar. Akhirnya mereka berada dalam kelelahan , jarang makan, dan tubuh anak-anakpasukan Teuku Umar kurus-kurus dan ceking-ceking karena kekurangan pasokan dalam medan perang yang kian memojokkan mereka sebagai pasukan Teuku Umar Johan pahlawan yang telah mengalami ujian demi ujian yang terus menggelombang bagai jutaan pasir di pantai yang terus digulung gelombang, dihajar dan dipermainkan waktu.

Korban pun mulai berjatuhan dan pasukan Teuku Umar seperti mengalami salah langkah dan ingin berbuat sesuatu tapi kondisi kian mengerikan, karena tubuh-tubuh yang makin gering , tentara kaphe-kaphe Belanda yang semakin rapat, jika bertempur kaphe-kaphe Belanda itu dengan psukan elit tempur seperti Marsose di bawahan pimpinan Hns Christopher dan HJ Notten, makin sulit dilawan.

Sementara itu kaphe-kaphe Belanda di bawah van Heutz memiliki banyak taktik alias kartu truft guna menundukkan pejuang-pejuang Mujahidin Aceh.  Suatu hari  Christoffel masuk keluar hutan dan mencari orang penting untuk diculik. Kebetulanpilihan jatuh ke seorang yang menyndang sebagai permaisuri sultan dan Teungku Putroe. Lama merka mencari informasi dimana permaisuri dan Teungku Putroe berada. Pasukan van Heutsz membayar banyak mata-mata guna mencari keberadaan mereka. Maka di sebuah hutan di daerah Pidie, permaisuri sultan Mohammad Daud Syah dan teungku Putroe berhasil ditawan. Di sisi lain, seorang kaphe-kaphe Belanda di bawah komando marsose, Van de Matten berhasil pula menemukan Putr sultan Mohammad daud Syah bernama Teungku Ibrahim.

Akibat politik yang sangat keji dan tak memiliki sifat ksatria ini, sultan Mohammad Daud Syah pun menyerah di daerah Idie dan terpaksa melakukan perdamaian dengan kaphe-kaphe Belanda di bawah kekuasaan gubernur jenderal van Heutsz. Sultan menyerahkan diri dan menanda-tangani perdamaian di daerah Sigli. Penyerahan orang penting di Ranoh Aceh ini, menyebabkan mereka tidak dibiarkan berada di daerah mereka, atau ditahan di dalam penjara, melainkan di buang ke daerah lain, yaitu ke derah keualauan Maluku dan di sana mereka akhirnya meninggal mengakhiri langkah perjuangan mereka yang tertahan oleh siasat licik yang tak berperikemanusiaan dan menghalalkan segala cara.

Kali ini van der Maaten mengacak-acak daerah Tangse yang sebelumnya sudah mereka acak-acak, memasukihutan dan keluar hutan. Suatu pagi mereka menemukan Panglima Polim dankeluarganya. PanglimaPolim dengan cepat meloloskan diri dan menghilang dari kejaran pasukan Van der Maaten. Sayang sekali, pasukan Van der Maaten tak membiarkan Cut Poe Radeu, saudara perempuan Polim dan putra panglima Polim juga tertangkap dan ditawan kapeh-kaphe Belanda. Pang,lima Polim diancam, jika tak menyerahkan diri, maka saudara perempuan dan putera nya akan dibunuh kaphe-kaphe Belanda. Ternyata praktek kotor semacam ini berhasil. Panglima Polim akhirnya menyerahkan diri dan  mewnghentikan perlawanan.

Ternyhata setelah Polim menyerahkan diri dan dibuang ke daerah lain, banyak penghulu yang juga menyerahkan diri, karena zemakin takut dan ngeri dengan pasukan marsose-marsose yang tak segan-segan memotong kepala lawannya (pejuang-pejuang Mujahidin Aceh), lalu kepala penjuang mujahidin itu diarak keliling kampung dan diperlihatkn kepada rakyat. Kepala yang masih berdarah dan terlihat sangat mengerikan itu dipertontonkan ke tengah-tengah masyarakat Aceh di kampung-kampung yang mereka lalui. Namun taktik kotor marsose itu bukannya semakin mengendorkan perjuangan pejuang-pejuang mujahidin Aceh, justru semakin membakar semangat mereka untuk membalaskan dendam kepada prajurit kaphe-kaphe Belanda yang terdiri dari marsose-marsose yang seperti binatang saja layaknya.

Di masa Van Heutsz rakyat b anyak diintimidasi dan dipaksa menyerahkan para pemimpin penting atau dipaksa memberikan informasi. Bagi yang informasinya ntepoat dan pejuang yang dicari ditemukan, mereka diberi imbalan beberapa ringgit sebagai hadiah dari membantu kaphe-kaphe Belanda untukmendapatkan tokoh yang tengah dioincar.

Suatu hari Teuku Umar dan pasukan berangkat dari Pidie menuju Meulaboh. Teuku Umar bermaksud ingin mencari cvan Heutsz dan ingin membunuhnya. Keberangkatan ini diketahui oleh kaphe-kaphe Belanda dan itu didapatkan dari informasi cuak-cuak (pengkhianat-pengkhianat) yang dibayar mahal oleh Van Heutsz.  Berhari-hari Teuku Umar melewati hutan-hutan yang merkalalui, sampailah mereka di sebuah kampung yang bernama Ujong Kalak.Maksud hati hendak membunuh van Heutsz, tapi takdir Allah Swt telahditetetapkan mendahului kematian van heutsz. Di sinilah nahas Teuku Umar, letika Pasukan Teuku Umar masuk dalam jebakan dan ranjau, maka dalam sekejap mata rentetan tembakan mencecar ke pasukan Teuku Umar. Puluhan prajurit Tanah Perlawanan kena tembakan dan termasuk Teuku Umar. Saat itu Cut Nyak Dhien pun tengah diburu kaphe-kaphe Belanda, dan setelah Teuku Umar syahid, langsung utusan dari pasukan Teuku Umar dari Ujong Kalak datang ke tempat persembunyian Cut Nyak Dhien.

Anak buah TeukuUmar melaporkan bahwa ayah Cut Gambang alias suami Cut Nyak Dhien telah syahid di Ujong kalak. Mendengar itu, Cut Gmbang yang masih menjelang remaja langsung menjerit dan menangis. Cut Nyak Dhien terkejut dan meraih Cut Gambang di dalam pelukannya dan menutup mulut Cut Gambang agar tak terdengar oleh pasukan marsose kaphe-kaphe Belanda. Cut Nyak Dhien langsung berkata kepada Cut Gambang, putrid satu-satunya Teuku Umar:” “Sebagai perempuan Aceh, kita tidak boleh menumpahkan air mata pada orang yang sudah syahid.” (Bersambung).

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...
Selasa, 20 Aug 2019 - 21:39
Selasa, 20 Aug 2019 - 21:33
Selasa, 20 Aug 2019 - 21:29
Selasa, 20 Aug 2019 - 21:26
Selasa, 20 Aug 2019 - 21:22
Selasa, 20 Aug 2019 - 21:14
Selasa, 20 Aug 2019 - 21:06
Selasa, 20 Aug 2019 - 21:00
Selasa, 20 Aug 2019 - 20:51
Selasa, 20 Aug 2019 - 20:16
Selasa, 20 Aug 2019 - 20:08
Selasa, 20 Aug 2019 - 20:05