20 May 2019

De Atjeh-oorlog : Djihad en Koloniaal Machtsvertoon – 70

                                                             Episode 70
                                                        Fragmen Pertama
                                                              
                                       Teuku Umar, Pejuang Bersiasat Kancil   

Sebagian pasukan Teuku Umar sudah terlihat lelah dan lunglai. Hutan-hutan besar yang dilewati banyak akar, kadang kaki para perajurit mujahidin Aceh terserimpet dan jatuh. Daun-daun tebal yang menumpuk di lantai tanah dan lembab terkejut, kadang mujahidin menemukan kalajengking keluar dari tumpukan daun-daun di lembah hutan besar tersebut. Itulah situasi prajurit mujahidin-mujahidin Perang Sabil di Lembah Beunit, Tangse. Makin ke drepan keadaan semakin sulit, makanan susah didapat, Teuku Umar terus membawa pasukannya menerabas hutan-hutan besar yang belum pernah dilalui.

Pasukan Marsose sudah diaktifkan. Pasukan yang dikomandani oleh Hans Christofel. Teuku Umar dan pasukannya dalam menghadapi pasukan marsose galak dan sadis itu seperti kadang-kadang menghadapi macan lapar. Jika para mujahidin lebih banyak , nyali pasukan Teuku Umar lebih baik daripada sedikit. Di sebuah hutan dekat Woyla, marsose-marsose gila itu bertempur dengan kelewang lawan kelewang.  Pistol atau senjata yang mereka pegang tidak mereka gunakan, karena percuma mengingat mereka adalah pasukan khusus anti gerilya yang secara khusus pula melawan mujahidin-mujahidin Aceh dengan alat dan senjata yang sama.
Letnan J. J. Verbrugh menempatkan detasemen marsosenya di bawah pohon-pohon di pantai Meulaboh. Setiap prajurit-prajurit kaphe-kaphe Belanda berjaga-jaga seperti membuat pagar betis dan siapa saja yang lewat akan ditanyai. Pernah suatuhari, lewat seorang lelaki, para marsose tak membiarkan dia lewat begitu saja. Ketika ditanaya:”Mau kemana?” Lelaki itu diam saja. Dan mulailah para marsose itu menangkapnya, lelaki itu lari sekencang larinya kijang. Jika situasinya demikian, senjata api mainannya. Maka meletuslah bunyi senjata di hutan itu, bunyinya seperti bom yang menggetarkan kesunyian. Tapi lelaki itu alhamdulillah selamat, ia menghilang begitu cepat dan marsose-marsose yang perangainya kayak binatang itu kehilangan buruannya.

Tibalah saatnya serombongan mujahid-mujahid Aceh melewati sebuah perbatasan kampung yang dijaga marsose-marsose yang terdiri dari berbagai bangsa dari Nusantara, maupun dari Afrika dan Eropa. Tiga puluh orang mujahid Tanah Perlawanan melewati perbatasan, dan marsose-marsose segera menghadang. Segera terjadi perang tanding yang dimulai dengan adu kelewang. 12 pasukan marsose kaphe-kaphe Belanda seperti berada di atas angin. Dalam waktu 10 menit mereka telah menjatuhkan 10 mujahid Aceh ke tanah dan tak mampu berdiri, ada yang meregang nyawa dan ada pula yang mencoba beringsut menjauh dari medan pertempuran.

Seorang mujahid dengan pakaian putih-putih, bersorban dan berpeci putih dan berjubah – dengan kdelewangnya melawan seorang marsose. Ia menaro-nari dengan indahnya dan tepat dalam satu tetakan, mengenai dada marsose itu dengan keras. Ujung kelewang melesat masuk ke dalam dada bagian kirinya. Darah mengucur deras dan marsose itu terus saja bertempur. Namun lambat laun, tubuhnya kembali ditikam kelewang mujahid Aceh berpakaian putih-putih ini. lelaki putih itu kemudian mendapat lawan tanding baru, seorang marsose dari Afrika. Kekuatan mereka seimbang. Tusukan dan hempasan kelewang ke depan tubh mereka masing-masing demikian sering dan cepat. Tusukan pertama kali mengenai tubuh si Afrika. Tapi si Afrika itu memang orang yang cukup kuat, lama ia bertahan, kali ini tusukan mengenai tubuh mujahid Aceh. Harap akan surge telah di tangan, karena luka-lukanya serius. Namun , bukan surge yang ia nanti karena ini masih di dunia dan perjuangan wajib dimenangkan. Tusukan kedua mengenai bahu si Afrika. Luka-luka serius mulai terasa pada si Afrika itu. Namun ia semakin menggila pula. Ia tusukan kelewangnya ke tubuh mujahidin Aceh dengan cepat, tepat mengenai dada bagian kiri. Sementara marsose-marsose lain terus bertempur dengan pejuang-pejuang Tanah Perlawanan dengan pertempuran yang sengit. Si baju putih lama kelamaan lemas, seiring juga dengan si Afrika. Di bawah pohon geulumpang, keduanya tersandar. Dan mereka mulai pingsan. Tapi mata kedua manusia itu masih menatap masing-masing mereka dengan tatapan kosong. Darah segar terus mengucur dari tubuh keduanya. sementara mujahidin Aceh yang lain dan marsose terus menggempur posisi masing-masing. Akhirnya, pertempuran itu hanya menyisakan 4 marsose dan 7 mujahidin Aceh. Semuanya dalam keadaan lemas dan haus. Hutan seakan membisu dan membiarkan manusia-manusia itu berseteru dan darah mereka diterima oleh tanah-tanah hutan yang berbau amis darah.
 

Sementara sudah 6 bulan para marsose lainnya terus menanti Teuku Umar. Mengapa si kancil yang tangkas dan cerdik kitu tak lewat-lewat di tanah Meulaboh Aceh barat? Kemana Teuku Umar? Mengapa ia tak pernah memperlihatkan diri? Apakah ia telah syahid? Marso-marsose kaphe-kaphe Belanda itu seperti kehiolangan jejak. Namun suatu hari, marsose itu mendapat informasi dari cuak-cuak orang Aceh sendiri, bahwa Teuku Umar akan masuk Meulaboh. Perangkap baru dipasang dan mereka memperklirakan si kancil Teuku Umar akan melewati daerah itu.  Namun Teuku Umar yang diperkirakan datang, tak juga memperlihatkan batang hidungnyha. Sementara para marsose lainnya menyisir rimba, masuki rawa-rawa pesisir barat Aceh yang terkenal banyak lintah dan berlumpur tebal dan kaki kadang bisa terjebak ke dalam lobang yang dalam. Jika itu terjadi, maka marsose-marsose itu meminta tolong temannya untuk mengangkat kakinya yang terperosok ke dalam lobang lumpur yang dalam itu.    

Verbrugh seorang pemimpin marsose mencoba mengamati daerah hutan yang diperkirakan dilewati teuku Umar. Saat itu teuku Umar habis melakukan sahur di sebuah daerah, untuk kemudian esok hari berpuasa Ramadhan, puasa wajib yang diperintahkan Tuhan untuk dilaksanakan. Apakah itu dalam siatuasi damai, apalagi dalam saat-saat perang seperti di Aceh, puasa Ramadhan selalu memberi semangat dan kekuatan serta inspirasi bertempur yang lebih dibanding di luar bulan-bulan Ramadhan.

Verbrugh agaknya mulai mencium  serombongan besar orang Aceh bergerak dari jarak 2 kilometer. Pasukan mujahidin Aceh itu memakai senjata dalam berbagai ragamnya. Ada senjata api, ada kelewang, ada rencong dan ada bamboo yang diruncingkan diujungnya sebagai panah raksasa untuk dilemparkan ke pasukan musuh.Verbrugh dengan pasukannya bersembunyi di balik pohon-pohon di hutan Beunit.Verbrugh menyuruh salah seorang anak buahnya menaksir berapa kira-kira jumlah mereka. Anak buah Verbrugh melaporkan, :”Kira-kira 100 orang lebih komandan!” Ucapnya. Baik kita tunggu mereka masuk dalam jarak dekat. Senjata Beumont yang diarahkan moncongnya ke depan, kea rah pasukan Teuku Umar siap menyalak. Mereka mencari jarak yahng aman sebagai jarak tembak yang tepat dan jitu untuk menghabisi pasukan mujahidin Tanah Perlawanan.  Kini barisan terdepan mujahidin-mujahidin Aceh itu  memasuki jarak tembak karaben Beaumont yang siap mereka lesakkan dengan sekali atau berpuluh kali tembakan. Sayang, Teuku Umar dan pasukannya tak menyadari mereka tengah dijebak oleh pasukan kaphe-kaphe Belanda laknatullah itu.

Dalam jarak sekitar seratus meter pecah  letusan serempak karaben Marsose. Pasukan Teuku Umar menyadari sudah masuk perangkap pasukan musuh. Mereka mundur dan terlihat agak panik sedikit. Pasukan Teuku Umar menjadi sedikit kacau-balau dan mereka membalas tembakan kaphe-kaphe Belanda itu pula. Namun tembakan mereka tak tepat sasaran, karena mereka tak melihat psosisi pasukan kaphe-kaphe Belanda.  Beberapa mujahidin Aceh terlihat roboh dan teman-temannya langsung membopongnya bertiga atau berempat menyelamatkan teman-temannya yang tertembak. Verbrugh tak meneruskan penyerangan, sementara pasukan mujahidin Aceh mundur teratur dan kaphe-kaphe Belanda pun tak mau menyerang, karena mereka kalah jumlah. Jika pun diserang, pasti korban berjatuhan di pihak kaphe-kaphe Belanda akan banyak. Dan Verbrugh akhirnya kembali ke kesatuannya. (Bersambung)

 

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...
Minggu, 19 May 2019 - 20:59
Minggu, 19 May 2019 - 20:58
Minggu, 19 May 2019 - 20:55
Minggu, 19 May 2019 - 20:51
Minggu, 19 May 2019 - 20:42
Minggu, 19 May 2019 - 20:35
Minggu, 19 May 2019 - 20:28
Minggu, 19 May 2019 - 20:24
Minggu, 19 May 2019 - 20:21
Minggu, 19 May 2019 - 20:12
Minggu, 19 May 2019 - 20:05
Minggu, 19 May 2019 - 19:54