24 August 2019

De Atjeh-oorlog : Djihad en Koloniaal Machtsvertoon – 57

                                                              Episode 57

                                                        Fragmen Pertama

                                                              

                                         Teuku Umar, Pejuang Bersiasat Kancil   

 

Saat menikah dengan Teuku Ibrahim Lamnga, Cut Nyak Dien baru berusia 12 tahun. Sebuah usia yang  jika dibandingkan zaman sekarang, tentu terlalu sangat muda. Namun di tahun 1862 gadis berusia 12 tahun di Aceh, sudah dewasa dengan postur tubuh yang juga dianggap  dewasa. Karena mereka orang bangsawan dan tinggi, pernikahan Teuku Ibrahim Lamnga dilakukan secara sederhana. Teuku Ibrahim Lamnga adalah putra Uleebalang Lam Nga XIII. Saat pernikahan Teuku Ibrahim dan Cunt Nyak DIen dihelat, ayahnya mengundang penyair besar dan terkenal pada masa itu. Justru diundangnya seorang penyair di Aceh zaman itu, lebih besar dan lebih hebat daya gugah dan sisi hiburannya disbanding bila mengundang hiburan-hiburan lain xseperti tari, atau kelompok music untuk memeriahkan helat pernikahan itu.

Nama penyair besar di zaman itu bernama Do Karim. Inilah bedanya Aceh dengan negeri-negeri lain di Asia tenggara. Karena Aceh saat itu menjadi pusat peradaban Asia Tenggara yang banyak melahirkan ulama besar yang disegani,  filosof, insinyur dalam bangunan dan peralatan senjata  dan yang tak ketinggalan adalah banyaknya lahir  sastrawan serta penyair yang sulit dilupakan begitu saja.

Do Karim adalah  sosok manusia yang multitalenta.  Dialah orang Aceh pada zaman itu yang mempunyai kemampuan serbabisa. Itu dimungkinkan karena Do Karim menguasai bahasa daerah dengan baik, ia juga menguasai dan sering menjadi pengarah pertunjukan tari Seudati, juga mahir dalam berperang . Begitu pun dalam berpidato dalam acara-acara adat di Aceh, Abdul Karim alias Do Karim adalah rajanya. Karena itulah Do karim dianggap sebagai seorang yang sangat ahli dan mahir berpidato. Wawasan  dan pengetahuannya sangat luas, baik dalam bidang pengetahuan maupun  tentang bahasa daerah yang dia ungkapkan dalam bentuk bentuk prosa, puisi, dan pantun. Do Karim begitu cakap dan komunikatif  menyampaikan pesan-pesan moral dalam bahasa kepada  masyarakat Aceh. Do Karim mengungkapnya dengan bahasa sastra yang sangat indah dan menyentuh berupa syair  dan hikayat.

Di acara pernikahan itu, Do Karim membaca syair-syairnya yang hebat dan langsung menyentuh hati setiap pendengarnya:

Semua mengungsi penduduk kampung, lari ke gunung pria wanita
Kaum wanita lelah sekali, yang jatuh tergelincir tak terkira
“Duhai anak, muda rupawan, tunggulah, sayang akan ibunda!”
“Tak mungkin menunggu wahai Bunda, suami sudah jauh hala”
Begitulah yang tua jalan beringsut, ada yang terjerembab ke dalam paya
Waktu lohor panglima undur, Belanda membakar kampung Lam Ara
Tujuh hari dibakar terus, rakyat mengungsi ke gunung semua
Rakyat terduduk berkelompok-kelompok, di Gunung Batok pria wanita
Mereka terduduk kebingungan, hendak menumpang pada siapa
Masing-masing dengan keluarganya, hanya sedu-sedan terdengar nyata
 “Duhai kakanda gantungan kami, ke mana lari kita semua?”
“Kita mengungsi ke jurusan barat, bermufakat dengan bunda”
Ada yang ke timur atau ke barat, bercerai-berai anak dan bunda

Pada syair berikutnya Do Karim melukiskan kekejaman Marsose (tentara khusus kaphe-kaphe Belanda di Tanah Perlawanan) dimana, pasukan Marsose saat itu bertugas mengawasi pasar di sebuah pinggir kampung. Tentara kaphe Belanda  yang berjuluk pasukan Marsose itu memintai surat keterangan izin memasuki pasar.  Para pengunjung yang belanja tidak diperbolehkan belanja dalam jumlah besar, karena pemerintah kaphe-kaphe Belanda mengkhawatirkan jika barang-barang itu dijual di tempat lain guna membiayai Perang. Jika ketahuan membeli dalam jumlah tak diizinkan, jika kedapatan disiksa dengan kejam. Do Karim bersyair penuh semangat:

Semufakat kepala kampung, mereka berhimpun pada Tuan Besar
Mereka datang berbondong-bondong, menghadap penguasa Belanda
“Mohon perhatian Tuan Besar, sehelai sarung mengapa disita?”
“Kularang yang membeli banyak, takut kau jual pada orang luar
Kalau sehelai sarung, sedikit tembakau, untuk keperluan dapat saja
Hulubalang lima gelondong kain, surat keterangan harus ada
Awas jika tak ada surat, kuikat masuk penjara.”
Ada yang lilitkan kain di perut, supaya dapat mengelabui mata
Jika ketahuan pada pengawas, takkan lepas, ditahan segera
Barang dan orang dikumpulkan, digelandang ke kantor segera
Di sana lalu diperiksa, ditetapkan hukuman kesalahannya
Polisi menariknya cepat-cepat, ke dalam tutupan lalu dibawa
Ada yang dihukum lima hari, yang tiga bulan juga ada
Ingat-ingatlah wahai rekan, akan Tuhan Maha Kuasa
Begitulah hukum kafir, akhir-akhirnya pasti Anda rasa
Penduduk negeri sakit hati, pada Marsose dendam membara
Walau sehelai kain didapat, itu pun direbut dengan segera
Barang dirampas orang dipukul, ada juga yang ditampar-tampar
Jika tawanan tak cepat berjalan, sepak dan tendang yang bicara
Fi’il Belanda sungguh jahat, ada yang dilibas pada muka
Orang Aceh sakit hati, memata-matai Marsose celaka
Jika hari sudah malam, mereka gentayangan ke mana-mana

Kehidupan perkawinan Teuku Ibrahim lamnga dan Cut Nyak Dien yang begitu serasi, harmonis dan penuh kebahagian selama 1862 sampai 1876, sebuah usia perkawainan yang cukup panjang, 14 tahun.

Lelaki ini, karena sangat aktif dalam berjuang melawan kaphe-kaphe Belanda, jarang ada di rumah. Cut Nyak Dien sering berada di rumah bersama anak semata wayang, seorang anak laki-laki yang pintar, cekatan dan berpandangan jauh ke depan. Saat di rumah bersama anaknya, Cut Nyak Dien sering menyanyikan lagu dodoi si dodoi, begitulah salah satu nama lagu itu di zaman Cut Nyak Dien hidup dengan suami pertamanya. Judul lainnya bisa pula “Lagu Pengantar Tidur bagi Bayi-bayi Aceh”. Namun karena salah lagunya diiringi dcengan syair dodo si dodo, orang lebih sering menamakan lagu ini dengan lagu Dodo si Dodo.

Saat malam mulai memasuki ‘arasy yang kian sunyi, si anak Teuku Lamnga tak mau tidur. Ia selalu menangis dan dianggap rewel dari kebiasaannya – entah apa yang terpikir dalam benak atau dirasakan oleh jiwa anak yang masih terlalu kecil itu, untuk mengerti masalah dunia dan seisinya. Namun yang sangat jelas, si anak sangat terikat dengan apa yang dialami ayahnya di medan tempur, ketika melawan kaphe-kaphe Belanda yang rakus dan kejam terhadap rakyat Aceh. Maka mulailah Cut Nyak Dien melagukan nyanyian indah dan menggetarkan itu:

Buah hatiku

mutiara jiwa

Tidurlah anak ya tidur

pejamkan mata ya sayang

Dodo si dodo

Dodo  si dodo
 

Janganlah anak

lasak gelisah ya anak

Ayahmu jauh ya anak

sedang berperang ya sayang

Dodo si dodo dodo si dodo
 

Tidurlah ya anak

 si buah hati

Nanti kau besar ya anak

Maju berperang ya sayang

Dodo si dodo

dodo si dodo

Begitulah, setiap bayi Aceh yang dilahirkan, sejak hari pertama saat tubuhnya masih memerah dibacakan al-Quran, dibacakan syair-syair perang sabil dan dinyanyikan dengan dendang yang merdua dari suara ibu, sebuah lagu pengantar tidur. Tetapi lagu itu demikian dalam merasuk ke dalam jiwa di bayi, sehingga ketika dewasa ia tak pernah ragu akan sebuah jalan yang lurus dan mulus menuju ke sueruega. sebuah tempat yang dalam cerita-cerita ibu-ibu Aceh menjelang anak-anaknya dewasa, diceritakan tentang tempat yang sangat indah, lapang dan terang benderang, sebagai balasan bagi mujahidin-mujahdin Aceh yang rela berjuang di jalan Allah.  (Bersambung)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...