25 November 2017

De Atjeh-oorlog : Djihad en Koloniaal Machtsvertoon – 52

                                                                       Episode 52
                                                                  Fragmen Pertama

                                                              
                                       Teuku Umar, Pejuang Bersiasat Kancil     

              Sihir dilarang dalam agama-agama langit, tetapi sebagian dari umat agama-agama langit ada yang tidak mengindahkannya, menyimpang dan mempelajari sihir dan mempraktekkannya. Bahkan dalam Islam pun praktek itu pun terjadi. Sebagian para ulama Aceh atau mungkin kepakaran mereka dalam islam kurang dalam dan kukuh, sebagaimana dalam dan kukuhnya kefahaman Cik Ditiro, Cik Pantekulu, atau Syekh Ahmad al-Askandari,Syekh Mujab, Syekh Al-Fonso dan banyak lagi yang benar-benar menguasai . Dari sihir inilah Iblis masuk menghancurkan umat Islam Aceh dari dalam, dari ulama yang tak lagi akan mendapat bantuan dari Allah dalam bentuk kemuliaan (keramat) yang sukar diprediksi oleh kaphe-kaphe Belanda. Sebagaimana sukarnya Fir’aun memprediksi nabi Musa yang memperoleh kemulian yang tinggi dari keramat, yaitu Mu’jizat.

.          Sang Iblis ingin Aceh diserang, diperbudak dan ditaklukkan, Faust (baca: kaum Kabbalah. Dalam karya sastrawan Jerman Gothe, Faust adalah nama sesosok Iblis yang bernegosiasi dengan kaum Yahudi/Nasrani Eropa yang menjual rahasia ilmu pengetahuan, tapi kaum ilmuwan harus menyerahkan nasib umat manusia di tangan Iblis atau Faust sebagai imbalan dari penyerahan rahasia ilmu pengetahuan) yang dalam barisannya terdiri dari JHR Kohler, Teunisson, Van der Heijden, dibantu oleh Snouck Hurgronje, dan berbagai kalangan militer seperti kaum Majusi (para Marsose), selain Yahudi dan Nasrani meremukkan Aceh secara bersama dengan pengeroyokan yang sadis.Dan itu dibuatkan skenario penghancuran Aceh dengan cara-cara ilmiah dan studi yang teliti dan cermat.  

            Terlihat kiprah Snouck Hurgronje alias syekh Snuk yang memetakan dalam sebuah teori ilmiah bentuk sosiologi Islam yang hidup di Aceh. Kelompok pertama adalah Islam ibadah, yang kerjanya khusyuk beribadah dan mengurus masalah-masalah zakat, sembahyang, puasa, menolong orang miskin, menunaikan haji ke kota Makkah, membaca dua kalimah syahadat dan lain sebagainya. Sedang bentuk sosiologi Islam yang kedua adalah Islam Politik. Kelompok-kelompok tarekat kerap menggunakan term Islam politik dalam praktek ibadah dan pola pemikiran dan kepemimpinan mereka. Mereka inilah yang dicurigai Syekh Snuk ketika meneliti para haji yang berada di Kota Makkah. :”Inilah denyut jantung Islam di Hindia Belanda (Nusantara)!” Gumam Snuk. “Sosiologi Islam semacam ini, jangan dibiarkan hidup!”demikian teriak Snuk kepada para Gubernur Jenderal tanah Aceh dan Gubernur Hindia Belanda yang hidup di istananya yang megah di Buitenzorg, dekat Batavia.  

            “Tuan Van Heutsz, terhadap praktek Islam politik, atau Islam tarekat, maka saya mengusulkan agar tuan Van Heutsz segera memberangusnya. Jika perlu bunuh ulama-ulama seperti ini di seluruh Tanah Aceh. Jika Tuan  tak mampu membunuhnya, maka jauhkan ulama seperti ini dari umat Islam Aceh!” Usul Syekh Snuk kepada Gubernur Jenderal Aceh di kantornya di Kutaraja. 

             Dan terakhir adalah Islam Adat, kalau di Jawa disebut Islam Abangan. Di Aceh Islam Adat juga bisa disebut sebagai Islam Uleebalang, atau Islam kaum raja-raja (para Sultan). Kelompok ini juga tidak berbahaya, maka biarkan saja. Ia akan mati sendiri.

                Praktek-praktek kaum Kabbalah ini ternyata telah menjadi trend di tengah umat manusia di dunia, bukan hanya di Strassbourgh, Leiden, Amsterdam, London, Hamburg, Hongkong, Macao, Batavia, Bavaria, Soerabaja, tetapi juga di jantung Serambi Mekah, Kutaraja berpusat di gedung Prins Frederick, tempat sembahyang kaum Kabbalah (Veselemarij) di ibu kota  Aceh. 

             Di Makkah, Snuk melihat bahwa  mukimin Indonesia di kota suci ini adalah bagian terbesar dan paling aktif di seluruh kota Makkah. Ini tercatat pada saat titimangsa akhir abad 19. Dalam kaitan inilah Snuk menyaksikan bahwa terdapat badan waqaf di kota Makah. Badan waqaf ini berfungsi sebagai  Yayasan agama, dimana dana-dana yang terkumpul diberikan  kepada para mahasiswa dari berbagai wilayah di Hindia Belanda ( kepulauan Nusantara).

“Akhirnya , aku dapat mengambil kesimpulan : Di kota suci inilah letaknya jantung agama penduduk Hindia Belanda, setiap saat senantiasa memasok darah segar ke seluruh tubuh bangsa-bangsa yang terdapat di kepulauan terbesar dan terpanjang di dunia. Aku khawatir bahwa “semangat” semacam ini dapat mengganggu kelancaran pemerintahan kolonial Belanda di seluruh Hindia Belanda, khususnya Aceh, ” simpul Snouck Hurgonje sebelum ia melarikan diri dari kota Makkah, karena akan ditangkap polisi kerajaan Hijaz, Jazirah Arabia.  (Bersambung)

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...