20 May 2019

De Atjeh-oorlog : Djihad en Koloniaal Machtsvertoon – 45

Episode 45

Fragmen Pertama

Pemikir Kaphe Snouck Hurgronje Dibantu Ulama Pribumi     

5

Lalu Nadzilla bercerita panjang lebar lagi, setelah kabur dari tatapan mata musuh di sebuah hutan, dan kini mereka berada di lereng gunung Leuser. Zakia mendengar dengan serius. Saat pemberontakan itu, Dr Snouck Huegronje belum lagi datang ke  Hindia Belanda. Iamasih berada di Leiden sepulangnya dari Mekah karena didengar tentara askar kerajaan Arab bahwa ia seorang mata-mata. Ketika para petani Banten beserta para ulamanya mengadakan pemberontakan, Snouck Hurgronje masih asyik mengajar dan menyelesaikan karya penelitiannya “Perayaan Mekah”

“Bagaimana lanjutannya?” Tanya Zakia kepada Sayyidah Nadzilla.

“Baik saya teruskan. Jihad, atau Perang Sabil di Banten sudah begitu matang dan penuh terencana sejak tahun 1884. Bertempat di rumah haji Wasid di daerah Beji, pemimpin tarekat (mursyid Tarekat Qadiriyyah) menyetujui perekrutan  pengikut dari murid-murid Tarekat. Begitu juga, dari luar murid bisa diterima. Guru-guru tarekat di bawahnya, ditugaskan untuk mencari pengikut guna melaksanakan Perang Sabil alias Perang Jihad melawan kaphe-kaphe Belanda.

Rencana perang jihad itulah yang mencemaskan pejabat-pejabat ambtenar kaphe-kaphe Belanda di daerah Banten. Namun di sisi lain, pejabat kaphe-kaphe Belanda itu merasa senang karena begitu bergairahnya kehidupan beragama di daerah Banten, dan Cilegon, Merak dan Menes sampai ke pantai utara seperti Bojonegara, dimana kehidupan beragama demikian marak dan penuh pengajian-pengajian serta pertemuan keagamaan yang kompak, khusyuk dan damai.

“Para pejabat pribumi melihat bahwa pertemuan-pertemuan orang ahli agama itu tidak membahayakan kita!” Ujar salah seorang pejabat pribumi kepada seorang petinggi pemerintahan Banten yang berpusat di Rangkasbitung.

“Jadi engkau tak melihat bahaya apa-apa dengan semua ini?” Ujar pejabat tinggi kulit putih itu kepada Wedana daerah Cilegon itu.

“Yah, benar tuan, kita tak usah terlalu khawatirlah”

Namun, para pemimpin Tarekat, mengadakan pembicaraan dan pematangan yang semakin dekat melalui pertemuan seperti perkawinan, atau pesta sunatan anak-anak yang diadakan oleh para kiyai. Dan pertemuan yang paling kecil skup (lingkup)nya adalah pertemuan rutin dzikir berjamaah para murid dan syekh tarekat Qadiriyyah di semua daerah yang telah disebutkan di atas. Seperti Bojonegara, Merak, Cilegon, Menes sampai ke Serang. Yah, inilah kecerdasan dari jihad atau Perang Sabil di daerah Banten. Penguasa Kaphe-kaphe Belanda tak menemukan apa pun untuk menunjukkan bukti pemberontakan para kiyai atau murid tarekat, guna menangkap mereka.

Hanya dalam masa tiga tahun, tepatnya tahun 1877 persekongkolan rahasia (oleh kaphe-kaphe Belanda menyebut seperti itu), tapi kita menyebutkan bahwa rencana Perang Sabil alias Rencana Jihad para ulama Banten itu semakin banyak pengikut, dan rencana perlawanan Ulama dan petani Banten kian matang. Para kiai serta para penglima Jihad mempunyai tujuan terselubung yang hanya pemimpin tarekatnyalah yang selalu mengarahkan. Suatu hari pemimpin tarekat berujar dalam sebuah pertemuan Dzikir:”Saudara-saudaraku seiman dan seperjuangan di hadapan Allah dan di hadapan Nabi Muhammad Saw, bahwa

:” tujuan kita mengadakan Perang Sabil di Banten ini adalah untuk melepaskan ikatan kekuatan-kekuatan kafir yang tengah melilit negeri kita. Jangan sampai tangan-tangan kotor kaum – kaum kafir terus menjarah kekayaan bangsa kita, menjarah kehormatan bangsa kita, menjarah berbagai hal penting menyangkut kedirian kita dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, kepada Rasulullah dan ajaran-ajarannya yang tertuang dalam Al-Qutan dan al-Hadits. “

Maka dipersiapkanlah perang Jihad ini, walau memakan waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun dengan tujuan suci dan mulia.

Maka propaganda-propaganda yang bersifat tak terlihat oleh pemerintah kafir terus dilakukan. Para murid-murid yang akan melakukan Jihad fi Sabililah terus dilatih perang-perangan, melawan sesama murid tarekat Qadiriyah sebagai latihan menghadapi tentara kafir Belanda nantinya.  Anggota dari luar tarekat pun sangat kita perlukan, guna memperbanyak pasukan dan memperkuat gerakan Jihad fi Sabillillah ini.

Terasa sekali, semangat para pejuang Jihad fi sabilillah, telah mengangkat semangat para anggota tarekat, dan mereka sudah tak sabar lagi untuk memulai aksi perang Sabil, alias perang Jihad fi Sabilillah. Namun dengan arahan Kiyai Besar, Haji Abdul Karim, persiapan—pesiapan untuk Jihad terus diperluas dan peperangan-peperangan dengan lawan tanding terus dilatih sampai persiapan kita benar-benar matang . Dan kemenangan kita raih di hadapan Allah dan rasulNya, dengan kemenangan yang sempurna, Kafir-kafir Belanda itu harus kita lenyapkan dari wilayah Banten.” Begitu ucapan Haji Abdul Karim penuh semangat berapi-api memulai rencana Perang Jihad yang sesungguhnya dalam waktu dekat. (Bersambung)

 

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...