24 May 2019

De Atjeh-oorlog : Djihad en Koloniaal Machtsvertoon – 42

Episode 42

Fragmen Pertama

Pemikir Kaphe Snouck Hurgronje Dibantu Ulama Pribumi     

Rencana kaphe-kaphe Belanda menyerang bagian selatan Aceh belum kesampaian, karena mereka masih terlalu kalah telak dibanding pejuang mujahidin Aceh. Ini pemikiran Snouck Hurgronje yang ingin menaklukkan Aceh bukan dari utara, yang selama ini telah dilakukan. Penyerangan mana, masuk dari pintu utama bangsa Aceh, tentu saja di sana banyak manusia gagah berani dari bangsa paling utara di pulau sumatera ini.

Kalau Aceh diserang dari belakang, Aceh Selatan pada Maret 1873, keadaan tentu akan berbeda. Namun sebelum Snouck bekerja untuk menaklukkan Aceh, marilah untuk terakhir kali kita bahas ulama kontroversial Sayid Usman yang nampaknya sejalan dengan pemikiran Snouck Hurgronje yang ingin menghancurkan gerakan tarekat.

Dikenal sebagai seorang alim yang berilmu tinggi, Sayid Usman ternyata seorang ulama sungsang yang menyalahi perjuangan para mujahid-mujahid Aceh, maupun mujahid-mujahid Muslim yang bertebaran di seluruh Nusantara.  Sikap sungsang dan menyalahi musimnya ini,  menjadi sebab Sayid usman sangat dihargai pemerintah kaphe-kaphe Belanda.

“Ik ben blij met uw politieke houding accommoderend” (saya senang dengan sikap politikmu yang akomodatif), kata Snouck Hurgronje.

Dalam banyak ceramahnya, Sayid Usman (entah termakan fitnah Sbocuk Hurgronje atau memang bentul-betul kritiknya terhadap kekurangan Tarekat, yang sebenarnya bukan demikian, dimana syekh-syekh dalam tarekat hidup dengan mengandalkan infaq dari para muridnya). Agaknya Sayid usman dan termasuk Snouck Hurgronje tidak memahami dengan baik sisi esoterik Islam yang tergambar  dalam tarekat.  

Namun kali ini Sayid Usman menerangkannya dalam bentuk tertulis dalam buku : an-Nasihah al-Aniqah li al-Mutalabbisin bi al-Thariqah  (Nasihat yang Elok kepada Orang-Orang yang Masuk Tarekat).

“Hendaklah seorang yang  bertarekat menguasai tiga cabang ilmu Islam. Tauhid, Fiqih dan Sifat hati (tasawuf). Inilah ilmu yang komprehensif dan sempurna bila seseorang hendak bertarekat.”

Nampaknya Sayyid Usman berkonspirasi dengan Snouck Hirgonje guna mempreteli kekuatan umat Islam yang menentang penjajahan yang tak sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan apalagi nilai-nilai ketuhanan (kemanusiaan plus  ketuhanan : keagamaan) adalah nilai-nilai yang hakiki.  

Apakah Sayid Usman dan Kiai Hasan Mustapa adalah musang berbaju ayam? Seperti halnya juga pengakuan Snouck suatu hari:” “Saya masuk Islam hanya pura-pura. Inilah satu-satulnya jalan agar saya bisa diterima masyarakat Indonesia yang fanatik.” Snouck Hurgronje bukan hanya berpura-purat masuk Islam, tapi juga  dijunjung sebagai pahlawan oleh pemerintah kaphe-kaphe Belanda atas keberhasilannya memecah-belah ulama.
Bila Snouck mengatakan: Islam ibadah adalah islam yang tidak boleh dilarang, Islam adat yang biasa menguasai para elit kekuasaan seperti Uleebalang, para raja, para elit kerajaan dan adat yang menguasai hukum – hukum adat, juga tak boleh dilarang. Tapi terhadap Islam Politik? Maka itu tidak boleh dibiarkan hidup. Sudah banyak terbukti bahwa tarekat merupakan sumber penentangan pribumi terhadap kekuasaan kaphe-kaphe Belanda. Karena itu, jika Sayid usman dan Hasan Mustapa dipandang konstroversial, maka itu juga sama Snouck Hurgronje adalah sosok kontroversial khususnya bagi kaum Muslimin Indonesia, ini diutamakan  bagi pejuang-pejuang Muslim Aceh. Bagi kaphe-kaphe penjajah Belanda, Snouck merupakan pahlawan yang sukses memetakan struktur perlawanan rakyat Aceh. Sedangkan untuk kalangan yang bergerak dalam tataran intelektual yang berafiliasi pada kekuasaan penjajah, yaitu kaum orientalis, Christian Snocuk Hurgronje merupakan sarjana yang berhasil. Namun rakyat Aceh menatapnya dengan sangat jelas, Snocuk Hurgronje adalah pengkhianat tiada bandingnya.Dialah pengkhianat terbesar bangsa Aceh, sehingga mampu memadamkan api perlawanan Tanah Rencong, walaupun kekuasan secara de facto kaphe-kaphe Belanda  tak pernah tertanam kuat dan tak diakui  di Tanah Aceh.  

Sayid Usman beraalasan, bahwa Tauhid, Fiqih dan Sifat hati (tasawuf)  menjadi persyaratan mutlak bagi seseorang yang hendak memasuki tarekat. Persyaratan tersebut, kata Sayid Usman, sangatlah sangt berat dipenuhi oleh Muslim di Tanah Arab. Apalagi Muslim Jawa dimana masih bergelimang dengan nilai-nilai kepercayaan pribumi sehingga dipandang “menyimpang” dari al-Quran dan al-Hadits.

“Kalangan tarekat itu adalah termasuk  ghurur (kesalahan dalam memahami ajaran Islam).  Merapatnya sebagian umat ke dalam  tarekat tidak sah dan berdosa.”

Membaca dan mendengar ujaran Sayid Usman seperti itu,   Sayid Usman langsung mendapat cercaan yang sangat pedas dari para ulama tarekat di seluruh Nusantara.”

Seorang ulama dari Jawa timur langsung mengatakan:”Ini adalah  upaya silat lidah Sayid usman guna meraih simpati pemerintah Belanda.”

Namun tanggapan ulama kontroversial ini tetap bergeming dan melanjutkan upaya-upayanya untuk menggembosi kekuatan Islam Politik yang bersumber dari tarekat, atau kalangan Tasawuf.

Fatwanya ulama kontaroversial Sayid Usman  didukung  Snouck Hurgronje.

Bahkan dengan membuat jengah para ulama tarekat ulama munafik Snouck Hurgronje mengatakan:  “Tarekat selama ini menjadi biang keladi dari pemberontakan melawan pemerintah. Para syekh tarekat hanyalah oknum yang selalu memompakan keyakinan para pengikutnya guna mengikuti semua perintahnya. Sering sekali, para murid tarekat  diceramahi dan diperintah dengan  propaganda-propaganda melawan pemerintah. Ini aku tunjukkan kasus serupa, dimana  pemerintah Perancis disibukkan oleh perlawanan para pengikut tarekat Sanusiyah.”

Ulama kontroversial dan musuh nomor satu rakyat Aceh itu kemudian berkata lagi: Lebih jelasnya, Snouck mengatakan:

“Para syekh sudah tergila-gila uang dan kekuasaan, lebih suka menerima hadiah yang mahal dari para murid tarekatnya. Bahkan organisasi tarekat (sufi brotherhood) sangat  patuh pada perinta syekh. Kepatuhan tanpa reserve para murid tarekat ini dipergunakan sebagai alat untuk mengadakan pemberontakan kepada  para penguasa dalam pemerintahan. Untuk itu, guru mursyid  mengangkat  para wakilnya di zawiyah-zawiyah (cabang-cabang) yang terdapat di pelosok dan berbagai negeri. Para (khalifah) yang dianggap sangat tepat menjadi wakilnya diterima sebagai  anggota elit  organisas tarekat (Sufi Brotherhood). Inilah  orang-orang yang disebabkan kebodohan atau suka menderma kepada syekhnya,  dijadikan alat untuk mengisi pundi-pundi guru-guru gaib mereka serta mempertinggi kedudukan mereka di dunia.”

Mendapat ujaran semacam itu, seorang ulama di Jepara mengatakan: “Itulah hebatnya fitnah seorang munafik besar seperti Snouck Hurgronje. Seorang sykeh selalu hidup sederhana dan tak pernah mengeksploitasi para muridnya untuk kekayaan keluarga dan pribadinya. Sebuah tanggapan politis yang ingin menggemboskan kekuatan politik Islam, yang selama ini bertumpu kepada kekuatan keyakinan. Kekuatan keyakinan untuk tidak mau hidup hina, tak mau takut mati dan cinta dunia itu, ada dalam organisasi tarekat.Dan inilah yang sesungguhnya kekuatan laten dan hebat yang ingin dihancurkan Snocuk Hurgronje dan kaphe-kaphe Belanda.” Ujar ulama itu. (Bersambung)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...