22 January 2020

De Atjeh-oorlog : Djihad en Koloniaal Machtsvertoon – 38

Episode 38

Fragmen Pertama

Pemikir Kaphe Snouck Hurgronje Dibantu Ulama Pribumi      

Pagi masih sunyi di Blangnibong. Bekas-bekas markas kaphe-kaphe Belanda yang hangus dan meninggalkan puing-puing masih mengepulkan asap. Syekh Al-Fonso mengadakan patroli di Blangnibong yang sudah ditinggalkan kaphe-kaphe Belanda. Syekh Al-Fonso dengan pasukannya tiba-tiba dikagetkan bunyi dentuman besar yang meledak di tengah-tengah markas kaphe-kaphe Belanda itu. Dan setelah bunyi ledakan itu, Syekh al-Fonso dan pasukannya hampir saja dikenai oleh tumpahan benda-benda keras yang melayang ke udara. Dengan gerak refleks, mereka mengelak, namun ada seorang mujahidin yang terluka di keningnya dan jatuh tersungkur setelah terbentur benda keras yang ternyata lempeng besi dari sebuah granat yang meledak di tengah bekas markas kaphe-kaphe Belanda di Blangnibong itu.

Tapi Alhamdulillah, Mukaram, kakak Nadzila yang bergabung dengan Al-Fonso itu selamat. Keningnya hanya berdarah dan tak menimbulkan cedera serius. Sementara Nadzila dan Zakia sudah dari pagi menyiapkan masakan untuk hari itu. Seusai mereka memasak dengan lauk apa adanya, mereka pun terlibat diskusi di gua perlindungan, alias markas persembunyiannya.

Selesai mereka mendirikan shalat dhuha pagi itu, mereka sarapan. Sehabis sarapan itulah mereka tiba-tiba terlibat lagi dalam diskusi seperti kemaren. Ketika itu Nadzila yang memulai:

“Persia (Muslim Syi’ah) dicoba dihabisi dari penguasaan sains, teknologi, filsafat, matematika selain mereka menguasai ilmu-ilmu agama yang menjadi palang pintu pertama dari perang psikologis antara kepahe-kaphe penjajah dengan umat Islam. Nanti, di masa yang agak jauh, Muslim Syi’ah akan menguasai teknologi nuklir, sains dan teknologi militer dengan baiknya – di tengah Negara-negara kaphe yang juga menguasai teknologi nuklir. Tidak ada pada masa itu Negara-negara Sunni yang menguasai teknologi nuklir yang sangat vital untuk mempertahankan diri dari rongrongan kaphe-kaphe Barat. Negara-negara Sunni sudah tunduk patuh kepada negara kaphe dan hasil bumi mereka dikuasai dan dikeruk seenak perut kaphe-kaphe Eropa dan Amerika itu.”

Tak kalah, Zakia menyambutnya dengan dialog–dialog yang semakin seru dan menghangat seiring hangat pagi menuju tengah hari dan siang yang sinar mataharinya kian menyengat dan panas 33 derajat selsius.Dua cangkir kopi Aceh yang panas dan harum telah tersedia di depan mereka menemani perbincangan seru itu.

“Dan Negara-negara kaphe mencoba menghabisi teknologi nuklir  Persia (Iran) agar menjadi lemah dan tentu saja tak ada yang menjadi pembela lagi dalam khazanah keagamaan, kebudayaan dan peradaban Islam. Karena Persia telah dipreteli dari kekuatan teknologi nuklir yang sangat menakutkan itu. Bila kekuatan Persia (Muslim Syiah) sudah habis dipreteli, kaum kaphe itu masuk ke dalam rencana dan langkah selanjutnya.  Menjadikan umat Islam Syi’ah terperosok  ke dalam jurang kebodohan sebagaimana umat Islam Sunni yang kian bingung menata peradaban ilmu pengetahuan mereka dan  telah berhasil dijauhkan dari ulama. Mereka menjadi pemasok ilmu-ilmu dari barat. Mereka tak lagi menguasai Filsafat, Matematika, Politik, Sosial, Ekonomi,  Agama dan Budaya . UmatIislam Sunni hanya tahu ilmu agama saja, seperti fikih, bahasa Arab, kajian hadits, kajian tafsir, kajian yang tak berkaitan dengan kehidupan yang nyata di dunia, sebuah alam yang harus kita lalui sebelum menuju alam selanjutnya, yaitu alam barzakh dan alam akhirat.Mereka mengharamkan ilmu dunia untuk dipelajari. Pernah saya masuk ke sebuah pesantren di luar Aceh. Seorang kiai mengatakan, tidak ada gunanya belajar bahasa Belanda, belajar bahasa Inggris, belajar matematika, belajar filsafat, belajar sastra, belajar ilmu musik, melukis dan ilmu seni lainnya. Itu semua ilmu orang-orang kafir yang menjauhkan kita dari Tuhan dan melenakan (melalaikan) dari beribadah kepada-Nya!” Ujar Zakia kepada Nadzila.

Nadzila tertawa ngakak mendengar ucapan Zakia terakhir itu.

“Hah? Bukankah ilmu-ilmu itu semua sangat berguna untuk mengetahui dan melancarkan kehidupan kita di dunia? Mengapa kiai itu hanya menghalalkan ilmu-ilmu agama saja? Apakah kiai dan santri-santrinya tidak melewati hidup di alam dunia dan sudah sampai ke alam akhirat? He he he he he, lucu juga itu kiai!” Ujar Nadzila belum habis dari tawa dan rasa herannya. Yeah, kalau ilmu musik membawa kita ke neraka, tinggalkan saja.Tapi jika membawa kita ke dalam surga?

“Nadzila, jika upaya-upaya Barat itu berhasil, maka peradaban dan sejarah Persia dengan kaum Syi’ahnya dicoba untuk dihancurkan sehingga kehilangan kepribadian. Akhirnya umat Islam Syi’ah tak obahnya dengan  Muslim Sunni yang  bodoh. Umat islam Sunni banyak yang kehilangan kepribadian sehingga dengan mudah dan gampang dijadikan pion-pion Kapitalis Barat yang rakus dan merusak lingkungan hijau di bagian manapun di dunia. Orang-orang Muslim Sunni banyak sekali yang jadi pengkhianat agamanya. Banyak jadi komprador, agen-agen barat untuk menindas bangsanya sendiri, sesama Sunni". Ujzar Zakia

Di Eropa dan Amerika penguasan ekonomi, filsafat, sosial , budaya, politik, teknologi sudah menjadi barang biasa di tengah publik (khalayak umum) mereka. Begitu juga di kalangan umat Islam Syi’ah di negara Persia (Iran). Sedang di kalangan umat Sunni, hanya kalangan tertentu saja dan sedikit sekali yang menguasai hal itu secara sempurna dan paripurna dan merata.  Sadarkah pemimpin umat Islam Sunni atas dijajahnya mereka dan dieksploitasinya potensi rakyatnya, potensi bumi dan segala yang ada di laut, darat dan udara negara-negara Islam Sunni? Karena pemimpin-pemimpin (raja, presiden dan umara) kaum Sunni itu sudah dihinggapi oleh sifat tamak, rakus dan takut mati (love of the world and fear of death) .

Banyak dari  kaum Sunni  tak menguasai ilmu-ilmu dunia, di bawah tanah mereka ada minyak, tapi mereka tak bisa mengebornya. Di bawah bumi mereka ada gas, namun mereka tak mampu memanfaatkannya. Di dalam bumi mereka ada emas, tapi mereka menambang hanya dengan cara-cara tradisional dengan menggali seperti ayam mencakar tanah sampai ke bagian bumi bagian bawah. Sementara kaphe-kaphe Belanda, kaphe Inggris, Perancis dan Amerika, memiliki teknologi canggih untuk mengebor minyak, mengelola gas, menambang emas dan hasil bumi lainnya. Itu karena kebodohan mereka dalam ilmu-ilmu dunia, yang kata kiai di sebuah pesantren itu, haram dipelajari. “ Ujar Zakia panjang lebar.

 Ini karena pemimpin kaum Sunni memang bodoh, termasuk sebagian ulamanya juga bodoh. Di negeri Syi’ah (Iran) ulama dan umara, adalah orang-orang pintar dan cerdas yang bertakwa, tinggal mereka menegakkan keadilan dan kemakmuran di tengah rakyat. Mereka mampu mengebor minyak dan hasil bumi mereka dengan sarjana-sarjana teknologi nuklir mereka. Mereka mampu mengambil gas dari dalam bumi, mengebor minyak untuk diekspor ke luar negeri, menambang emas, bauksit dan lain sebagainya. Di Persia (Iran) kaum kaphe-kaphe Eropa dan Amerika tidak diperbolehkan menguasai pusat-pusat tambang seperti minyak, gas, emas, timah, bauksit. Hal yang sangat jauh berbeda dengan rakyat negeri di negara-negara Sunni, di mana pusat-pusat tambang mereka dikuasai asing. Rakyat mereka miskin, harga-harga barang yang dijual kepada umat (rakyat)  mahal, gonjang-ganjing moneter dan kasak-kusuk politik di kalangan elit umat Islam Sunni, bukan hal aneh lagi. Suatu hal yang sampai detik ini, masih juga tak disadari oleh sebagian besar ulama dan umara (pemimpin) di negeri-negeri Sunni. Bahkan sebagian ulama dan pemimpin Sunni ini, menjalankan virus-virus pemikiran Sbnouck Hurgronje yang sudah lama merusak dan melalaikan umat Islam Sunni tersebut. Mereka masih saja melarang umat dari menggeluti pemikiran Islam politik. “Ibadah yes, politik No”, begitu jargon  para intelektual dan politikus di Negara-negara islam Sunni.

Dan tasawuf Syi’ah yang berpatokan kepada Sayidina Ali sebagai tokoh yang dipilih umat ini, sebagai tokoh yang tak pernah melakukan perbuatan tercela dalam sejarah hidupnya. Ali adalah tokoh paling sederhana dan dengan kesederhanaan (kemiskinan)nya pula, ia dapat berbuat dermawan kepada siapa pun yang memerlukan bantuannya. Inilah pilihan paling tepat umat Syi’ah kepada salah satu sahabat Nabi Besar Muhammad Saw. Sayang pilihan umat Syi’ah kepada Ali dan dakwahnya yang begitu halus, lembut dan penuh ketinggian dan kemuliaan akhlak, difitnah oleh umat di luar Islam (mungkin ksatria Templar yang kemudian menyusup ke dalam unsur-unsur kekuatan umat Islam). Fitnah terhadap kaum Syi’ah ini begitu halus dan liciknya lewat pemutar balikan hadits-hadits Syi’ah sedemikian rupa.  Tak jarang pula ada yang kasar, sehingga tak terasa bahwa fitnah itu berasal dari luar Islam atau bahkan dari Islam itu sendiri, dari orang-orang munafik yang bekerja untuk merusak Islam dan umatnya dari dalam.

Padahal dari empat sahabat paling dekat Nabi Muhammad Saw, adalah Sayidina Ali sahabat yang paling ditakuti para kafir Quraisy. Dan Ali pula yang dipilih Nabi sebagai sahabat terdekat dan terkarib beliau sepanjang sejarah Islam. Namun ini pun sempat difitnah sebagai pemuliaan Ali dan tidak mengakui sahabat-sahabat tiga lainnya (Abu Bakar , Umar dan Usman), sebagai orang yang salah dipilih sebagai khalifah. Begitu licik dan hebatnya unsur-unsur fitnah itu disusupkan ke ajaran  Syi’ah yang ekstrim yang diakui oleh sebagian umat Sunni yang tertipu (ditipu) sebagai ajaran Syi’ah utama (Syi’ah Resmi seperti Syi’ah Kalidiyah, Syi’ah Imamiyah dan Syiah yang liberal dan tidak ekstrim). Tapi, untuk memecah antara Sunni dan Syiah, yang diambil contoh ajaran Syhi’ah itu dari SYi’ah yang ekstrim. Dan kepada umat Muslim Syi’ah pun yang disodorkan adalah ajaran Sunni ekstrtim. Sehingga jika bensin yang disiramkan kepada kedua umat ini ada yang mencetuskan api, maka membaralah pertempuran antara dua kaum agama dan bersaudara ini. Hal yang paling sering terjadi antara umat Kristen Katolik yang gemar menganiaya kaum Kristen Protestan. Sebuah sejarah barat (Eropa) dimana antara Inggris yang Protestan dan Perancis yang Katolik terjadi perang 100 tahun berawal pada 1337 dan berakhir pada 1453. Kemudian perang 30 tahun antara Jerman yang Protestan dan Perancis yang Katolik antara   1618 sampai 1648.

Akankah perang-perang kelam yang menyelimuti Eropa ini akan diekspor ke negara-negara Muslim dan mengadudomba antara umat Islam Syiah dan umat Islam Sunni tengah dipraktekkan di Negara Suriah (Syiria) hari-hari ini? Wallahu’alam bishshawab. (Bersambung)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...