29 March 2020

De Atjeh-oorlog : Djihad en Koloniaal Machtsvertoon – 20

Episode 20

Fragmen Pertama

PRAKTEK KONSENTRASI LINI KAPHE-KAPHE BELANDA

13  

Tak puas dengan apa yang dibacanya dalam kitab Biblenya yang sering dibawa-bawa Zaalberg, bahkan Bible yang dibacanya itu ia bawa dari Den Haag, lalu ia bawa ke Batavia, dan sekarang ia bawa dalam perang yang diwajibkan pemerintahnya ke Aceh. Zaalberg akhirnya meninggalkan korpsnya, dan ia melarikan diri ke hutan. Di hutan Pidie ia bersembunyi, dengan keadaan susah payah, karena ia harus memakan apa saja yang dijumpai di hutan. Namun ia selalu nguping tentang pengajian yang diberikan syekh-syekh Aceh yang memberikan bekal ‘perang sabil’ kepada para mujahidin Aceh.

           Dalam petualangannya, Zaalberg mendengar uraian seorang syekh di sebuah zawiyah di Pidie tentang ayat 1 sampai 4 surat al-Ikhlas. Katakan, Tuhan itu esa. Tuhan tempat meminta (memohon). Tidak beranak dan tidak diper-anakkan. Tak satu makhlukpun menyerupai Dia. Mendengar ayat-ayat tentang Tuhan itu, Zaalberg tertegun dalam gelap, di belakang sebuah gubuk dimana banyak nyamuk.   Namun, karena lelaki ini kelaparan, ia tertidur di belakang gubuk di dekat sebuah zawiyah (madrasah) dimana ia mendengarkan ceramah seorang syekh. Akhirnya Zaalberg ketahuan oleh seorang santri (mujahidin) Aceh.

            Zaalberg diseret oleh mujahidin itu ke tempat syekh memberi pengajian. Banyak pemuda Tanah Perlawanan emosi melihat lelaki kaphe Belanda ketahuan mengintip perbekalan mereka untuk menghadapi perang melawan kaphe-kaphe Belanda besok pagi.

            “Kau mata-mata ya..?!” Teriak seorang mujahidin menuduhnya.

            Zaalberg menggeleng. Syekh yang memberi pengajian itu mencoba meredakan emosi para mujahidin untuk tidak melakukan tindakan apapun kepada pemuda kulit putih itu. Lelaki itu dilarang diperlakukan apapun oleh Syekh. Ia diikat di dalam sebuah kamar sempit. Diberi kain sarung dan dibiarkan berbicara dengan syekh.

              Syekh Zaamhari membiarkan saja pemuda Belanda itu terkurung berminggu-minggu di kamar gelap itu, ia dikasih makan, diberi perlindungan, diberi waktu berbicara dengan syekh Zamamhari. Diberi kebebasan, diberi kemerdekaan dan apa maunya ketika berada diwilayah musuh. Mestinya Zaalberg sudah tinggal nama dan tak mewujud lagi di muka bumi ini. Lalu, lelaki kulit putih itu dikurung dan dipenjara di dalam wilayah kekuasaan para mujahidin Aceh.

Sementara itu syekh Zamhari terus memberi pengajian untuk perbekalan perang esok  hari.:

               “Inilah surat yang dikatakan dalam beberapa hadits nilai (kualitas) nya sepertiga Al Qur’an” kata Syekh Zamhari.

              Apa saja isi ayat darisurat paling pendek dalam al-Quran ini, marilah kita ikuti bersama. Syekh membacakan ayat pertama sampai ayat ke empat:

(yang artinya) :

1.   Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Esa.
2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,
4. dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”.

 

Surah ini bernama surah al-Ikhlas, nama lainnya adalah surah al-Asas (karena membicarakan asas atau dasar Tauhid yang menjadikan umat yang meng-Esakan Allah menangkap dasar-dasr ajaan Tauhid Allah Swt. Sebagai surah dengan nama al-Ikhlas, karena di dalam surat ini berisi pembahasan mengenai ikhlas kepada Allah ’Azza wa Jalla. Oleh karena itu, barangsiapa mengimaninya, dia termasuk orang yang ikhlas kepada Allah. Ikhlas meng-Esakan-Nya, ikhlas menerima sifat-sifatnya yang menjadi tempat bergantung segala sesuatu, ikhlas (memurnikan) bahwa Dia (Allah Swt) tidak beranak dan tidak pula memperanakkan). Ikhlas memurnikan bahwa Dia-lah satu-satunya Tuhan dan tidak ada teman, atau lawan atau sekutu bagi-Nya. Jika berbicara tentang ini, berartiTuhan tak memiliki istri. Terlalu hina bagi Tuhan jika Dia memiliki istri. Tuhan tak membutuhkan istri, jika Tuhan membutuhkan istri dimana istrinya beranak melahirkan anaknya (yang juga dianggap sebagai Tuhan) nantinya, maka itu bukan Tuhan, ketiga-tiganya (Tuhan, istrinya dan anaknya) adalah makhluk.

Zaalberg mendengar dengan seksama apa yang diutarakan syekh Zamhari.

 

Sementara itu, di sudut kampung beberapa pengawal dan pengawas perang berjaga-jaga dan membicarkan banyak hal. Pada titimangsa 1889, banyak panglima perang yang bersumpah -setia kepada Sultan Muhammad Daud. Ada  panglima Polem, selain itu ada pemimpin-pemimpin adat lainnya seperti Teuku. Cut Kepala Sagi Mukim XXVI, Teuku. Sri Setia Ulama Kepala Sagi Mukim XXV yang tinggal di Patek Aceh barat, Teuku. Umar, Teuku. Cut Muda Latif Syamsul Bahri Panglima Perang Aceh Utara, Teuku. Mansyur di Meulaboh, Laksamana Enjung, Teuku. Bintara Gumbok Kepala Mukim III Pidie, Teuku. Bin Titeue penasehat dan orang kepercayaan Sultan.

Begitulah, di samping diisi semangat spiritual sebagai bekal menghadapi kaphe-kaphe Belanda, ada divisi nyata berupa tokoh-tokoh yang bergerak dan langsung mengkoordinir kekuatan pasukan Mujahidin Aceh melancarkan serangan demi serangan.

 


Di Mukim XXVI, pemimpin perlawanan dipimpin oleh Teuku. Nyak Makam, Pang Analan, Pocut Mat Tahir dan Teungku Mat Amin.  Teungku Pante Kulu dan Teuku. Ali Lam Krak ada di Mukim XXII dan Lam Sayon. Di Mukim IX, Sagi XXV bergerak pula Teungku. Chik Kuta Karang, Teungku. Mat Saleh , kemudian Habib Samalanga. Mukim VI yang ikut barisan Sultan Teungku. Di Chaleue. Selain itu, beberapa pemimpin perang gerilya yang aktif yaitu Teungku. Beb Tiro, Teungku. Rayeuk Habib Lhong dan Teuku. Husin Lueng Bata – kesemuanya menyatakan kesetiaan kepada sultan dan akan menggencet kaphe-kaphe Belanda di bagian mana pun di Tanoh Aceh. Kaphe-kaphe Belanda akan terus diserang, ditaklukkan, dan yang terakhir dibuang ke laut.

 

Para pengawal  kemudian mendengar pertempuran di Di Kuta Sawang, sebuah daerah yang berhubungan dengan keberadaan Sultan Muhammad Daud. Dalam pertempuran di Kuta Sawang, 4 tentara kaphe Belanda tewas dan 16 luka-luka dan cedera. Pasukan Muslim di bawah pimpinan Sultan Muhammad Daud yang dikawal Panglima Polem dan beberapa lainnya tak mampu mempertahankan daerah Kuta Sawang, mengundurkan diri ke Gayo.

 

Zaalberg kemudian mengkonsentrasikan mendengarkan keterangan Syekh Zamhari tentang pengajian pengisian spiritual perang mujahid-mujahid Aceh

Syekh Zamhari melanjutkan : 3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,

,”Tidak beranak kemudian mendapat warisan “Lam yuulad” artinya tidak disekutui (ditemani). Sungguh hina bagi Allah jika Dia ditemani, sebagaimana halnya manusia, ingin ditemani, karena manusia bersifat lemah dan pula memiliki sifat ketergantungan. Tuhan bebas dan lepas dari sifat-sifat itu semua. Orang-orang musyrik Arab mengatakan bahwa Malaikat adalah anak perempuan Allah. Kaum Yahudi mengatakan bahwa ’Uzair adalah anak Allah. Sedangkan Kristen (Katolik) mengatakan bahwa Al Masih (Isa) adalah anak Allah. Dalam ayat ini, Allah menghapus pernyataan-pernyataan manusia yang mencederai ke-Esaan dan sifat-sifat-Nya. Allah mutlak berdiri sendiri, tanpa anak, tanpa teman dan bini.

Zaalberg baru paham akan sifat-sifat Tuhan yang tak pernah ia peroleh dari kitab yang dipegangnya selalu dalam kesehariannya di Den Haag, di Batavia dan di Tanoh Aceh sekarang ini. (Bersambung)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...