27 May 2019

De Atjeh-oorlog : Djihad en Koloniaal Machtsvertoon – 13

Episode 13

Fragmen Pertama

PRAKTEK KONSENTRASI LINI KAPHE-KAPHE BELANDA

 

Habis syair perang sabil yang pertama disambung dengan syair kedua. Selesai syair perang sabil kedua disambung dengan syair ketiga dan seterusnya. Sekarang kita dengar (baca) syair perang sabil ketiga) yang dibawakan oleh Faqih Maulana, soerang santri dari Dayah Mutakil Anwar. Pemuda ganteng dan bertubuh kekar ini membaca syair dengan penuh semangat, seakan ia hendak maju ke medan tempur dan mati syahid berkubang darah syahidnya sendiri:

 

 

Bate di pante pudoe ngon intan

Lamkrueng meukawan budia dari

Budiadari dum seudang-seudang

Jiteubiet  u blang jidong meuriti

Jimat ngon kipaih saboh sapoe

Jiprehwoe lakoe nibak prang sabi

 

Artinya: tebing sungai berturap intan

Di tepian bertabur bidadari

Bidadari remaja kembang

Ke kancah perang dating menanti

Tangan menggeggam kipas surgawi

Menanti suami di kancah sabil

 

 

Nibak mate di rumoh inong

Bahle bak keunong aneuk tan tangke

Nibak mate di ateuh tilam

Bahle dalam blang cahid meugule

Mate dalam prang sabilillah

Teungku meutuah cit mangat sabe

Tamse tajeb ie teungoh grah

Meunanulah manyoh bukonle

 

Arti nya: daripada mati di rumah istri

Baiklah ditembusi peluru kafir

Daripada mati di atas tilam

Baiklah di padang syahid hampiri

Mati di kancah fi sabilillah

Teungku bertuah enak sekali

Tamsil harus disuguhi air

Begitu rasanya nyaman sekali

 

Syair di atas ini berjudul “Enaknya Mati di Medan Syahid”.

Syair-syair ini bukan hanya dibacakan ketika hendak berangkat atau pergi ke medan laga api peperangan yang hebat di Tanah Perlawanan. Ibu-ibu yang membesarkan anaknya, sambil memeluk  bayi atau mengayunkan dalam buaian selembar kain panjang, akan mendendangkan syair-syair ini menjadi lagu yang indah dan merdu.

Dengan dibesarkannya dengan lagu-lagu yang diambilkan dari syair perang Sabil itulah, anak-anak Aceh di masa depan menjadi penyambut gayung estafet perjuangan orangtuanya untuk melanjutkan perlawanan terhadap kaphe-kaphe Belanda. Inilah modal perlawanan panjang Aceh untuk tidak tunduk sejengkal kuku pun kepada bangsa asing, Ksatria-ksatria Templar yang senantiasa merobek-robek kemerdekaan dan kedaulatan bangsa-bangsa lain di permukaan bumi, khususnya bangsa Aceh, bangsa Tanah Perlawanan yang terus mengukuhkan dalam hati, agar tak menyerah kepada kekuatan mana pun di dunia, kecuali kepada kekuatan Allah Swt. (Bersambung)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...