16 October 2019

De Atjeh-oorlog : Djihad en Koloniaal Machtsvertoon – 105

Episode 105
Fragmen Kedua
Perempuan-Perempuan Berani  Di Medan Pertempuran  Aceh

Lama Cut Nyak Dhien dalam pembuangan, sepi dari perjuangan, hiruk-pikuk pertempuran dan peperangan, namun gerak jiwa dan hatinya adalah semangat berjuang yang tak pernah habis dan layu dimakan zaman. Hanya tubuhnya yang semakin lunglai, kurus dan kian lemah dimakan usia.  Jika ia diberi sepasang sayap oleh yang Kuasa, maka ingin ia terbang kembali ke tanah kelahirannya. Betapa pedih hatinya kini, terbuang dan terasing dari medan yang membesarkan dirinya menjadi seorang perempuan berhati singa, seorang perempuan yang menjadi ratu dari sebuah peperangan terdahsyat dan terlama di Asia Tenggara, bahkan boleh jadi terlama di Asia.            

Di saat-saat sepi di pengasingan di sebuah rumah pemuka agama di Sumedang, dan jika ia ingin pulang – tak akan tahu jalan pulang, walau pun rindu kampung halaman seperti lambaian dedauan di halaman mesjid Agung Sumedang, tak pernah henti setiap detik dan menit melambai, apalagi jika angin barat datang, lambaian itu terus menderu seakan menyeru kepada semua orang Aceh.
“Wahei orang Aceh, bawalah daku, aku ini Cut Nyak Dhien. Aku ingin kembali ke pangkuan tanah airku, pangkuan para tetua, ulama dan hangatnya tanah Aceh yang sangat kucinta.”             

Sayang sapaan dan lambaian yang tiada henti itu tiada seorang manusia Aceh pun mendengar. Ketika malam di saat usai shalat tahajud dan berdzikir, teringat akan anaknya Cut Gambang, teringat akan tanah tempat pijaknya di pegunungan Leuser, teringat akan sahabat dan anak buahnya yang berjuang bersamanya. Juga teringat akan suami pertama yang sangat dicintainya, juga suami kedua, Teuku Umar yang banyak tingkah dan polah sehingga mampu mengelabui kaphe-kaphe Belanda. Saat itu, tak terasa jatuh setetes air hangat dari kelopak matanya yang keriput dan tua. Teringat ia dengan Pang Karim yang syahid di saat terakhir ia hendak ditangkap, dan Pang Karim syahid dengan mengucapkan kalimat Laa-ilaaha ilallah, kemudian Pang karim pergi untuk selamanya. Sementara kaphe-kaphe Belanda seperti pahlawan yang telah membunuh bajingan dan teroris paling jahat dan paling berbahaya di dunia. Ketahuilah, Pang Karim adalah manusia yang menurut al-Quran: “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang- orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (QS. Yunus : 62-63).               

Begitu pula dengan  perempuan tua yang pernah malang-melintang dalam perang terlama dan terdahsyat di Asia itu, boleh jadi Cut Nyak Dhien adalah seorang waliullah yang telah diisyaratkan oleh para ahli tafsir al-Quran seperti Muhammad Ali, Ibnu Katsir dll, sebagai  orang yang iman (percaya) kepada hal yang gaib, mendirikan salat,tak segan-segan menafkahkan sebagian rezeki yang telah Allah anugerahkan kepadanya untuk mendanai Perang Jihad fi Sabilillah. Beriman kepada apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan juga diturunkan kepada nabi- nabi sebelum Nabi Muhammad Saw.  Dan Cut Nyak Dhien juga termasuk orang yang meyakini adanya hari akhir. Merekalah wali-wali Allah berupa orang-orang yantg bersungguh-sungguh berjuang di jalan apa yang telah diajarkan nabi  Muhammad Saw. Bukan sebagaimana yang diberitakan oleh para ulama-ulama munafik suruhan kaphe-kaphe Belanda yang membelokkan wacana wali-wali Allah itu sebagai orang yang mampu terbang, bisa hilang seketika,  mampu menyelam ke dasar lautan, mampu tidak makan dan tidak minum. Sebuah berita yang sangat menyesatkan dan mencederai kesucian agama Islam yang memberitakan dalam kitabnya tentang ciri wali-wali yang dicintai oleh Allah Swt.                     

Wali-wali itu adalah di bawah tingkatan nabi. Nabi saja tidak ada yang diberitakan dalam kitab Zabur Taurat, Injil dan al-Quran mampu terbang, bisa hilang seketika,  mampu menyelam ke dasar lautan, mampu tidak makan dan tidak minum. Nabi saja hidup selain sebagai manusia luarbiasa (dalam arti: suruhan Allah dan dicintaiNya) , nabi-nabi juga hidup sebagai manusia biasa yang butuh makan, minum, istirahat, belanja ke pasar, beristeri dan beranak-pinak seperti manusia-manusia lainnya. Jika ada nabi diberitakan seperti wali-wali dengan perbuatan dan kelakuan yang aneh-aneh, itu hanyalah sebuah upaya menjauhkan umat islam dengan ajaran agamanya yang suci dan wajar, tidak berlebih-lebihan. Tetapi juga tidak sangat rasional, menjadi agama yang murni sebagaimana difatwakan orang-orang wahabi atas agama ini, tahu-tahu melakukan kekerasan untuk mencapai tujuannya dengan dasar nafsunya yang rendah.                    

Cut Nyak Dhien jauh dari aliran semacam itu, beliau adalah wali Allah yang hidup berjuang dengan kesungguhan hati, hingga seluruh usia hidupnya, harta kekayaannya, bahkan keluarganya  habis tandas  dipersembahkan di jalan Allah, Jihad fi Sabilillah. Atas dasar itulah Allah Swt akan membalas segala jasa dan jerih payahnya dengan surga jannatunna’im kelak di kehidupan akhirat. Bukan berdasarkan keramat-keramat yang tak masuk akal yang tidak ada dasarnya, yang selalu digembar-gemborkan kaphe-kaphe Belanda guna melemahkan semangat perjuangan nyata umat Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan bekerja keras dan berjuang keras. Bukan dengan malas-malasan dengan mengkhayal-khayal tentang kehidupan bisa terbang, bisa menggandakan kekayaan dalam sekejap, bisa menghilang jika ditangkap. Itu bukanlah kehidupan kaum sufi, tarekat atau wali-wali Allah. Itu adalah kehidupan Iblis, Setan dan para ahli (keluarga)nya yang terakumulasi dalam kehidupan mistik yang disiram dengan sihir, khayalan yang di luar akal yang wajar, tidak rasional,mengkhayalkan dan mencari-cari kehidupan yang lain dari yang lain berupa kejayaan dengan bisa mengelabui dan mendustai semua orang. Itu semua udah sangat terlihat dari cara-cara kaphe-kaphe Belnda mencapai kemenangan, mengingkari janji dan melanggar kesepakatan yang telah dibulatkan. Tahu-tahu kesepakatan yang bulat itu pun pecah karena pengkhianatan (melanggar janji) kaphe-kaphe Belanda, itulah kehidupan ahli-ahli (wali-wali alias keluarga-keluarga) Setan dan Iblis di dunia.  Mereka berkhayal bisa terbang, bisa menyelam ke kedalaman lautan, bisa hilang dan yang paling agung dari   kehidupan "mistik" dan sihir mereka adalah bisa mencapai kemenangan dan menjadikan dunia sementara ini sebagai surga yang abadi. Bisa makan besar dengan cara menindas dan merampas. Yang penting hari ini senang, surga ada di telapak tanganku, bukan besok (akhirat), tapi hari ini (dunia).Karena mereka tak percaya kepada Tuhan, hari pembalasan  dan tidak sabar.

Tepat pada titimangsa 6 November 1908, Cut Nyak Dhien yang digelar orang-orang Sumedang sebagai Ibu Perbu itu berpulang ke “Rahmatullah”. Dengan tetesan airmata duka, kesedihannya dipisahkan dengan jalan jihad fi sabilillah, dengan pengkhianatan Pang Laot dan penangkapan kaphe-kaphe Belanda Kapten Veltman dan Letnant Vuuren, ia tinggalkan dunia fana ini dengan menghembuskan nafasnya dengan menngucap Laailaaah-illallah. Tiada Tuhan selain Allah. Dan Cut Nyak Dhien bergembira meninggalkan segala tetek bengek dunia yang tiada habisnya. Tetapi ia bersedih karena meninggalkan anak beserta cucu dan seluruh bangsa Aceh yang tengah berjuang melawan kaphe-kaphe yang belum tertaklukkan. Entah apa kelak keputusan Tuhan Allah ‘Azza Wajalla terhadap keadaan bangsa dan tanah airnya, hanya Allah Swt yang tahu dan memilihkan jalan terbaik bagi bangsa dan tanah airmya. Selamat jalan Cut Nyak Dhien, selamat tidur panjang, beristirahatlah dengan damai dan tutup matamu untuk selamanya. Tetapi tidak menutup semangatmu yang ingin menghancurkan kaphe-kaphe Belanda yang telah menyengsarakan sebuah bangsa besar yang tak mengenal kata takluk dan tunduk kepada makhluk kaphe yang sungguh jahat dan sangat zalim kepada sesama manusia. (Bersambung)

 

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...