24 May 2019

De Atjeh-oorlog : Djihad en Koloniaal Machtsvertoon – 104

Episode 104

Fragmen Kedua
Perempuan-Perempuan Berani  Di Medan Pertempuran  Aceh

Veltman masih berdiri terpaku menatap perempuan tua yang digambarkan sangat perkasa.ternyata kini terronggok sebagai perempuan tua dan renta, sementara Letnan van Vuuren mengamati proses eksekusi itu dengan seksama. Mereka berusaha memahami kenapa perempuan yang mulutnya masih saja komat-kamit melafalkan dzikir terus-menerus mampu melakukan perlawanan panjang dan seakan tiada akhir? Dua puluh lima tahun ia bergerilya dan selama itu kaphe-kaphe Belanda merasakan “kengerian” dan kegetiran atas serangan-serangan sporadic yang mematikan dan bahkan menghancurkan pasukan-pasukannya.  Berapa perwira Belanda yang tewas di tangan perempuan yang  sudah rabun ini? sebuah perlawanan yang menciptakan kekhawatiran dan kengerian, apatah bisa? Cut nyak Dhien dan pasukannya tak memiliki persenjataan yang layak, tapi daya serangnya sangat mematikan. Sebuah kehidupan yang serba minim, tapi mampu melakukan gelora perlawanan yang efeknya sampai ke Nederland sana. Padahal Cut nyak Dhien dan pasukannya hanya tinggal tujuh orang, tidak ada tempat berlindung dari hujan, dari panas terik yang layak bagi mereka, mereka senantiasa kelaparan. Kadang dedaunan di dalam hutan menjadi pengganjal perut yang tersiksa oleh lapar yang mendera. Sungguh suci Allah yang menguasai segalanya.

Tak lama dua ajudan Veltman mendekat, bersamaan dengan kapten Veltman yang tiba-tiba berkata: sesuai dengan pesan Pang Laot, tiga orang kaphe-kaphe Belanda melutut didepan Cut Nyak Dhien.  “Saya kapten Veltman. Kedatangan saya ke sini hanya melaksanakan tugas sebagai serdadu. Saya ditugaskan untuk membawamu.”Ujar Veltman penuh santun.
Tandu disiapkan, sementara kapten Valtmen terus membujuk nenek renta dan lemah itu untuk mau ikut. Perempuan tua itu acuh saja, karena bibirnya terus khidmat mengucapkan dzikir. Merasa tak didenar, Veltman meminta Pang Laot ikut membujuk Cut Nyak DHien. Hujan masih turun dan mulai agak reda.

“Cut Nya Dhien, ikutlah kami. Ini kulakukan demi kesehatanmu, aku kasihan kepadamu. Mereka berjanji akan merawatmu dengan baik. Jangan salah mengerti”

Hari itu Beutong Le Sageu berdentang keras sekali. Jika daerah Beutong Le Sageu pusat gempa yang dahsyat, maka pusat yang lebih dahsyat dan berbahaya itu ada dalam jiwa perempuan tua yang digelar Perempuan berhati Singa itu.

Seketika Pang laot berkata itulah Cut Nyak melepaskan rencongnya dan merobek tubuh Pang laot. Pasukan Kaphe-kaphe Belanda di bawah Veltman melerai segera keributan kecil itu. Mereka mencoba mengangkat Cut Nyak dhien ke dalam tandu, tapi Cut Nyak tetap saja meronta keras.

“Pengkhianat kau Pang Laot! Sungguh pengkhianat busuk!” Veltman mencoba juga membantu mengangkatnya, tapi kali rencong Cut Nyak Dhien hampir mengenai Veltman dan beberapa pasukannya. Jika saja kekuatan Cut Nyak Dhien masih seperti semula, tentu rencong yang sangat tajam itu akan merobek-robek Veltman dan serdau-serdadu kaphe-kaphe lainnya. Seseorang berhasil merebut rencong dari tangannya. Dan Cut nyak kini sudah berada di dalam tandu, lalu membawanya ke bawah menuju Kutaraja.

Inilah perjalanan yang menyedihkan bagi Perempouan berhati Singa ini, dari ketinggian Nagan Raya menuju Kutaraja terdampar di atas tandu seorang perempuan yang sangat berbahaya. Hanya ingat (dzikir) kepada Allah yang dapat dilakukan perempuan tua itu untuk selalu mendekat kepada Allah.

Sebagaimana juga keturunan  pejuang, Cut Gambang anak perempuan satu-satunya dari Teuku Umar bertekad menerus perjuangan kedua orangtuanya berhasil meloloskan diri. Dan perjalanan Cut Nyak Dhien terus menelusuri jalan-jalan yang dilalui menuju Kutaraja. Sementara Beutong Le Sageu di Nagan raya kini tinggal sepi. Hanya jejak-jejak Cuit Nyak Dhien yang terlihat di sana bersama sejumlah kecil pasukannya. Tapi tanpa ruh lagi. Beutong Le Sageu telah ditinggalkan oleh ruhnya yang kini ditawan kaphe-kaphe Belanda.

Sesampai di Kutaraja, perempuan tua dan lemah ini dijebloskan ke penjara. Sebuah tempat yang sangat tidak menyenangkan. Betapapun lapang dan luasnya penjara, tetaplah berada di tempat yang sangat sempit. Betapapun sempitnya gua persembunyian Cut Nyak Dhien di  Blangkejeren,  Bener Meriah, Penosan, Kedah di daerah Blang Jerango, Blang Lopah bahkan sampai ke Beutong Le Sague atau beutong Ateuh di Nagan-Raya, tetaplah sebuah tempat yang sangat luas dan lapang. Karena sesempit-sempitnya tempat berteduh Cut Nyak Dhien di hutan-hutan persembunyiannya, berada dalam suasana merdeka dan bebas beraktifitas di bawah bumi Allah ‘Azza Wajalla yang ridha akan perjuangan hamba-Nya di medan Jihad fi Sabilillah.

Karena bawaan kemerdekaan dankebebasanya itulah, selama dalam penjara Cut Nyak Dhien tetap berkomunikasi dan berjuang anakmbuahnya yang berkeliaran di hutan-hutan dan di kampung-kampung di seluruh Tanoh Aceh. Ini membuat geram kaphe-kaphe Belanda, sebuah kegeraman yang akhirnya pihak Gubernemen kaphe-kaphe Belanda di Kutaraja memutuskan untuk membuangnya ke luar Aceh. Padahal salah butir persyaratan (perjanjian) yang diberikan Pang Laot Ali adalah tidak membuangnya ke luar Aceh. Sebuah keputusan yang membuat Pang Laot, walau pun ia dicap seorang pengkhianat, tetapi keputusan itu ia ambil demi kemanusiaan dan kondisi Cut Nyak Dhien sendiri yang butuh perawatan dan kebutuhan hidup yang lainnya, seperti makan tgeratur, pengobatan dan lain sebagaimana. Barulah Pang Laot tersadar kembali, bahwa sekali lagi, kaphe-kaphe Belanda (setiap orang kafir, apakah Belanda, Inggris, Amerika atau bangsa manapun) selalu saja suka  melanggar perjanjian dan mengkhianati kepercayaan yang diberikan setiap orang Aceh.

Cut Nyak Dhien akhirnya dibuang ke Sumedang berdasarkan Surat Keputusan No. 23 (Kolonial Verslag 1907:12). Untuk beberapa saat ia diinapkan di sebuah rumah tahanan di kota Buitenzorg (Bogor sekarang). di kota hujan ini beliau tinggal di jalan Ardio gang tiga. Di situ Cut Nyak Dhien sempat mengajar mengaji anak-anak kota Buitenzorg dan kemudian guru mengaji ini pun hilang begitu saja. Anak-anak yang sempat belajar kepada Cut Nyak Dhien tak mengerti dan kemana nenek tua dan rabun itu pergi.

Pangeran Mekah, alias Pangeran Aria Suriaatmaja yang menjabat bupati Sumedan dititipkan kepadanya Cut Nyak Dhien bersama dua orang yang ikut bersamanya ke tanah pembuangan ini. Seorang panglima berusia 50 tahun dan kemenakannya Teungku Nana berusia 15 tahun. Pangeran Mekah tak sampai hati menempatkan Cut Nyak Dhien di penjara. Karena Pangeran mekah melihat perempuan tua itu sangat taat beragama, Cut Nyak Dhien dititipkan di rumah Haji Ilyas, seorang kiai yang rumahnya berada di belakang mesjid Agung Sumedang. Di rumah itu Cut Nyak Dhien kembali memulai aktifitasnya mengajar mengaji anak-anak sebagaimana ia lakukan pula sewaktu tinggal di Buitenzorg. Walau pun ia dikenal sebagai perempuan tua, renta, matanya rabun dan butir-butir tasbih selalu tergilir di tangannya yang hangat, pakaiannya yang ia punya hanya satu-satunya yang melekat di tubuhnya.

Lama kemudian ia baru gerganti dengan pakaian yang diberikan orang-orang kampong kepadanya. Cut Nyak Dhien tak pernah mau menerima apa pun pemberian kaphe-kaphe Belanda kepadanya. Hanya orang-orang kampung sering membawakan berbagai makanan atau benda- lainnya untuk keperluannya sehari-hari.Begitulah caranya kaphe-kaphe Belanda mematikan gerak langkahnya, dengan dibuang jauh dari tanah yang dibela dan dicintainya. Dengan melanggar dan mengkhianati semua perjanjian dan persyaratan betapapun itu telah disepakati seia-sekata, namun janji-janji manusia yang tidak beriman, tetaplah sebuah janji. Dalam kenyataannya hanyalah sebuah permainan kata-kata yang tiada artinya bagi bangsa pribumi, bangsa Aceh yang sungguh mencintai kepercayaan, kesetiaan, perjuangan dan terutama berjihad di jalan Allah ‘Azza Wajalla.

Karena janji Allah tak pernah ingkar dan dilanggar. Satu dari janjiNya adalah melepas setiap mujahidin-mjahidah Aceh ke tamanp0taman sueruegaNya yang luas, penuh ketenangan dan keindahan yang dicita-citakan setiap pejaung Tanah Perlawanan. (Bersambung)

 

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...
Jumat, 24 May 2019 - 16:56
Jumat, 24 May 2019 - 16:47
Jumat, 24 May 2019 - 16:44
Jumat, 24 May 2019 - 16:38
Jumat, 24 May 2019 - 16:23
Jumat, 24 May 2019 - 14:49
Jumat, 24 May 2019 - 14:44
Jumat, 24 May 2019 - 14:36
Jumat, 24 May 2019 - 14:34
Jumat, 24 May 2019 - 14:19
Jumat, 24 May 2019 - 14:15
Jumat, 24 May 2019 - 14:11