19 May 2019

De Atjeh-oorlog : Djihad en Koloniaal Machtsvertoon – 103

Episode 103
Fragmen Kedua
Perempuan-Perempuan Berani  Di Medan Pertempuran  Aceh

Tapi Pang Laot mewanti-wanti Jacobus van Kluet , ia minta kepada lelaki yang mengepalai kantor pertahanan kaphe-kaphe Belanda di wilayah Meulaboh itu, bila menangkap Cut Nyak Dhien ada beberapa syarat.

“Huh, syarat apa saja itu, wahei Pang Laot!” Ujar Jacobus van Kluet .

“Maaf tuan, jika tentara-tentara Belanda menangkap Cut Nyak Dhien, jangan satu tindakan kekerasan pun dilayangkan kepada perempuan tua yang menjadi pemimpin saya itu. Dan tolong hormati beliau sebagai perempuan Aceh yang tak boleh dilecehkan sedikitpun.Maka dipersiapkanlah pasukan kaphe –kaphe belanda untuk menangkap Cut Nyak Dhien.

Letnan Mayor Jacobus van Kluet mempersiapkan pasukan guna merencanakan penangkapan perempuan paling berbahaya di seluruh Aceh itu. Kluet memerintahkan bawahannya Kapten  Veltman, Letnan Van Vuuren dan prajurit kaphe-kaphe Belanda kelas kopral sampai balak empat atau bintara atau samapta untuk mengeksekusi Cut Nyak Dhien yang dipandang liat, keras dan tak gampang ditundukkan.                

Bagi Cut Nyak, hidup ini untuk apalah. Kalau hanya sekedar mencari hidup senang dengan kenyang dan kecukupan guna menyenangkan hati, anak dan suami, sudah lama Cut Nyak meninggalkan medan gerilya di kaki gunung Leuser. Sudah tidak mau ia melakukan gerak berpindah-pindah di hutan lebat, fisik semakin tua, gerak dan langkah semakin berat dan hanya menyusahkan anak buahnya untuk ,menolongnya memapah dan melangkah.  

“Aku hidup begini, ada sesuatu yang aku setia padanya, dalam hidupku yang sementara. Sebuah cita-cita yang aku agungkan dan kejar itulah yang tengah aku titi dengan gigih. Aku tak mau hidupku hanya sekedar anjing menggonggong, diburu, lalu mati tiada arti. Tetapi aku hidup denan cita-citaku, dengan cita-cita yang tak terlihat oleh kaphe-kaphe Belanda, apalagi cuak-cuak bangsa Aceh sendiri, dengan cita-cita itulah aku merasa hidupku menjadi puas dan penuh makna. Jika aku pergi, aku meninggalkan warisan semangat dan keikhlasan di jalan fi sabilillahnya Allah ‘Azza Wajalla. Mereka tidak tahu itu, mereka hanya tahu makan, berperang untuk tujuan apa, minum, kawin dan lalu mati. Jangan hidup kalian seperti itu, wahei prajurit-prajuritku!” Ujar Cut Nyak Dhien suatu hari.               

Berapa orang kini pasukan Cut Nyak Dhien? Tidak seberapa.  Banyak yang syahid dan telah menikmati suereuganya Allah dalam keadaan lapang dan bahagia. Ada yang meninggalkan Cut Nyak Dhien dan bergbung dengan masyarakat biasa, karena  tak tahan hidup dalam kesulitan dalam rentang waktu yang cukup lama, hingga ia tak tahan dan kabur dari medan laga pertempuran di bawah komando perempouan singa Cut Nyak Dhien. Namun seberapa pun tinggal prajuritnya, bahkan jia seluruh anak buahnya meningglkannya sendiri, Cut Nyak Dhien tetap akan setia berjuang melawan kaphe-kaphe Belanda yang sangat kurang ajar itu. Sampai pun Cut Nyak Dhien menderita rabun mata dan sakit encoknya sering datang secara tiba-tiba, Cut Nyak tak pernah surut sejengkal pun dari cita-cita perjuangannya.                 

Maka diam-diam dengan penuh rahasia, disiapkanlah 150 orang perjurit kaphe-kaphe Belanda di bawah pimpinan  Kapten  Veltman, Letnan Van Vuuren, dan van Heutsz menyimak dari Banda Aceh tentang berita penyergapan yang sangat bersejarah itu. Pagi-pagi sekali 150 pasukan itu bergerak ke kaki gunung Leuser. Mereka menuju kea rah Nagan Raya. Dari pagi mendung sudah terlihat berat dengan warna sapuan hitam menghias langit.                

Dengan gerak langkah yang tegap, berteguh hati mencari seorang yang dianggap perempuan singa yang paling menggetarkan setiap jiwa yang tahu apa artinya keberanian, dan kaphe-kaphe serta pemerintahnya yang tahu betul apa artinya kekalahan dan ketakutan akibat kerugian materi, kekurangan makanan dan kelaparan bagi anak negeri di Nederland sana, dan kecemasan bagi petinggi-petinggi kaphe-kaphe Belanda yang selalu dicerca dan diobok-obok atasannya, karena tak becus mengurus anak negeri jajahannya yang bodoh, lemah, miskin dan dianggap tak berdaya apa-apa. Tapi mereka memiliki seribu akal dan kelihaian yang tak terdapat pada pejuang-pejuang di tanah manapun di atas dunia.

Sejak awal berangkat mereka sudah diliputi kecemasan, secemas langit yang akan menurunkan hujan lebat yang deras dan akan menghanyutkan apa saja yang ada di permukaan tanah. 

Pelan tapi pasti, kaki-kaki dengan sepatu lars itu melangkah serentak, searah, satu irama dan suatu tekad:”Tangkap Cut Nyak Dhien!” Seribu kekuatiran tengah memberati benak setiap otak prajurit kaphe-kaphe Belanda, apalagi Letnan van Vuuren dan Kapten Veltman dan beberapa staf lainnya yang berpengaruh. Pikiran-pikiran yang selalu bersumber dari rasa ‘Hubbuddunnya dan takut Mati”. Dunia bagi mereka adalah lading yang terkembang selama-lamanya, dan mereka hidup tanpa misi apa pun, kecuali mengenyangkan isi perut dan menyampaikan segala maksud hati dalam kehidupan di dunia yang sekali ini.              

Langkah-langkah itu kian deras, seiring turunnya hujan dengan lebat dan sengit, disertai angin kencang dan pohon-pohon tinggi yang menari-nari, melakukan dzikir bersama Cut Nyak Dhien yang tak mengetahui apapun dari maksud kaphe-kaphe Belanda, atau takdir yang akan ditimpakan Tuhan kepadanya beberapa jam lagi.            

Tak berapa lama rasanya, tibalah van Vuuren hampir dekat markas Cut Nyak DHien.  Hujan cukup lebat ketika pasukan van Vuuren dan Veltman menelusuri jalan mendaki dengan undakan-undakan dan akar-akar pohon yang menyemuti jalanan, serta dedaun kering yang terinjak basah. Hanya ada tujuh mujahidin Tanah Perlawanan yang setia di samping perempuan tua dan digelari singa perempuan itu. Pang Karim dan beberapa mujahidin (prajurit) pasukan Cut Nyak Dhien berteriak keras “Allahu Akbar” , dan mujahidin lain berteriak lantang pula “Udep Saree Matee Sjahid!” tanda mereka tak ingin menyerah, walau pun kaphe-kaphe Belanda telah mengepung dalam jumlah yang sangat tak seimbang.                

Pagar betis kaki-kaki tentara tentara kephe-kaphe Belanda dari semua arah kian mendekat, dari jauh Pang karim menembak kaphe-kaphe Belanda yang datang bergerombol. Tapi nasib tak dapat dielak, terjangan peluru dari kaphe-kaphe Belanda mengenai kepala Pang Karim. Pang Karim, tangan kanan Cut Nayk Dhien yang lain, berseberangan dengan Pang Laot. Dia adalah Panglima Cut Nyak Dhien akan tetap bersetia kepada komandan perang  peremouan singa yang sangat berani itu. Begitu Pang karim syahid, tinggal hanya 6 mujahidin bersama Cut Nyak Dhien, Cut Nyak Dhien tengah asyik berdzikir. Langkah-langkah kaphe-kaphe  Belanda kian jelas mendekat.
Cut Nyak Dhien berkata kepada anak buahnya:
“Siapa itu!”
“Cut Nyak, kita sudah terkepung!”
Ingat Pang Laot, Cut Nyak Dhien bangkit kemarahannya. Begitu hebat!

Kaphe-kaphe Belanda berbaris rapi di depannya. DI sampingnya juga kaphe-kaphe Belanda. Di belakang V=Cut Nyak Dhien juga tentara kaphe-kaphe Belanda. Dengan pandangan yang terbatas, Cut Nayk memandang tajam semua mereka yang ada di sekelilingnya. Kaphe-kaphe Belanda yang baru dikenalnya, dan ia lihat pula Pang Laot, pengkhianat busuk yang telah mendampingi perjuangannya selama 16 tahun.  Karena Pang Laot busuk itu kini berjejer di pihak musuh.  Titimangsa pada waktu itu tertanggal 7 November 1908.

Cut Gambang, satu-satunya anaknya yang mendampinginya berjuang dari Teuku Umar Johan Pahlawan segera keluar dari kepungan dan kaphe-kaphe Belanda tak dapat menangkapnya. Kini tinggal Cut Nyak Dhien sendiri dengan seorang cucu angkatnya di depan kaphe-kaphe Belanda yang haus darah, haus kekuasaan, haus harta dan haus akan dunia dan seisinya. Kapten Veltman di depan Cut Nyak Dhien, tengah asyik berdzikir dengan khusyuk walaupun matanya melelahkan air bening menatap semua kaphe-kaphe laknatullah dan pengkhianat Pang Laot.
Tiba-tiba suara lelaki yang dikenalnya berbicara:

“Cut Nya, maafkan saya.”

Tiba-tiba Cut Nyak Dhien menarik rencongnya dan menikamkannya ke arah lelaki yang tgengah

“Pang Laot! Kau aib buat kami!” Bentak Cut Nya Dhien.

Cut Nyak Dhien dengan suara bergetar pun berkata kepada Pang laot:

“Ya Allah ya Tuhanku. Beginikah nasib perjuanganku? Di saat  puasa Ramadhan aku diserahkan kepada kaphe-kaphe laknatullah?

Cucu angkat Cut Nyak Dhien, satu-satunya prajuritnya yang tersisa memeluk Cut Nya Dhien. Perempuan singa itu pun membalas pelukannya cucunya dengan erat, lalu ia berkata:

“Jangan pernah kau khianati perjuangan Bunda , Nak! Dan juga mengkhianati negeri kita ini”(Bersambung)

 

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...