14 October 2019

Curhat Hijrah Para Ukhti di Indonesia Tanpa Pacaran

Kartu anggota yang dikirimkan itu seukuran Kartu Tanda Penduduk (KTP) dengan latar merah dan putih bertuliskan 'Indonesia Tanpa Pacaran'. Pada salah satu sisi kartu dijelaskan keuntungan menjadi anggota ITP, di antaranya mendapat nasihat inspirasi dari penulis ITP tiap Selasa dan Jumat, mendapat diskon 20 persen untuk pembelian produk ITP, dan berhak mengikuti kopi darat yang digelar ITP. 

 

 

KONFRONTASI -  'Ukhti, saya ingin putus dengan pacar yang sudah empat tahun menjalin hubungan. Tapi saya masih cinta. Bagaimana ya?'

Sebuah pesan singkat masuk dari salah satu anggota grup WhatsApp (WA) Indonesia Tanpa Pacaran (ITP). Sejumlah balasan pun dengan cepat masuk dari anggota grup lainnya. Rata-rata menjawab, 'putuskan saja ukhti' atau 'fokus ibadah saja'.

Tak cuma soal pacaran, sederet pertanyaan dengan tema besar hijrah, seperti halal haram hingga cara berpakaian, bergantian masuk di grup berisikan lebih dari 200 anggota itu. 

Mulai dari hukum bersalaman dengan lawan jenis, berteman dengan non muslim, ketentuan menggunakan niqab atau cadar, sampai cara berboncengan dengan pengemudi ojek online. 


'Bagaimana ya hukumnya kalau berboncengan dengan lawan jenis? Saya sering naik ojek tapi takut berdosa karena pengemudinya laki-laki'

 

Pertanyaan dari salah satu anggota selalu dijawab oleh anggota grup lainnya. Jawabannya pun beragam. Ada yang membolehkan, ada pula yang melarang.

Saya sengaja mendaftarkan diri sebagai anggota grup ITP sejak awal Februari lalu. Setelah sekian lama mengetahui unggahannya di akun Instagram dan Facebook, saya penasaran, seperti apa gerakan yang digagas La Ode Munafar sejak tahun 2015 ini. 

Untuk menjadi anggota grup WA ITP, saya harus mendaftarkan diri melalui kontak yang tertera di akun Instagram ITP. Prosesnya tak begitu sulit. Saya hanya perlu mengirimkan nama dengan nomor ponsel yang aktif untuk WA dan alamat rumah. 

Namun untuk bergabung dalam grup WA tersebut rupanya tak gratis. Saya diminta mentransfer biaya sebesar Rp198.011. Serupa dengan belanja daring, dua digit terakhir adalah kode unik untuk membedakan dengan anggota lain yang mendaftar. 

 

 

HIJRAH EMBARGO 11Ilustrasi. Sejumlah kalangan muslimin muda memutuskan untuk berhenti berpacaran dan memilih jalur taaruf untuk mencari jodoh dengan 

berharap ridha Allah. (ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas)


 

Biaya pendaftaran itu ditransfer langsung ke rekening bank atas nama Munafar. Tak mahal memang, namun bisa dibilang tak cukup murah untuk sekadar menjadi anggota grup WA. Biaya pendaftaran ini berlaku hingga satu tahun ke depan. 

Usai menunjukkan bukti transfer pembayaran, saya langsung diarahkan pada pranala untuk bergabung di dalam grup WhatsApp. Grup WA ini dibedakan untuk laki-laki dan perempuan. 

Begitu masuk, sudah ada ratusan anggota lain yang lebih dulu bergabung. Semuanya berjenis kelamin perempuan, yang lebih karib disapa ukhti. Satu per satu anggota grup pun memperkenalkan diri. Kebanyakan dari mereka berasal dari luar Jakarta. 


Satu hal yang membuat saya takjub, sebagian besar anggota grup itu masih sangat muda. Bahkan ada yang baru lulus dari bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). 

Sebut saja namanya Nabila. Ia mendaftar grup WA ITP lantaran mengaku trauma dengan pacaran. Perempuan berusia 15 tahun ini mengungkapkan keinginannya untuk hijrah dan mempelajari lebih jauh tentang bahaya pacaran. 
 

"Sempat pacaran tiga tahun tapi terus putus. Setelah dipikir-pikir enggak ada faedahnya juga, lebih banyak sakit hatinya karena cemburu," ungkap Silvia.

"Ya hitung-hitung istirahat dari cinta. Trauma sama pacaran. Daripada sakit hati terus selama pacaran, mending udahan aja dan gabung di grup ini," ujarnya kepada saya melalui WA.

 

Nabila tak keberatan membayar biaya pendaftaran grup tersebut meski baginya terbilang cukup mahal. Ia mengaku membayarnya dengan uang sendiri. Perempuan asal Karawang ini menganggap biaya pendaftaran itu sebanding dengan manfaat yang ia dapatkan. 

Pengalaman serupa disampaikan anggota grup lainnya, Silvia. Perempuan 20 tahun ini bergabung dengan grup WhatsApp ITP lantaran ingin tahu lebih banyak tentang bahaya pacaran. Ia mengaku kapok berpacaran karena kerap sakit hati akibat cemburu. 


Kendati demikian, ia tak kapok untuk segera memiliki pasangan hidup. Silvia yang tinggal di Kalimantan Timur ini memasang target untuk menikah di usia 21 tahun. 

HIJRAH EMBARGO 11Trauma berpacaran dalam banyak hal turut mendasari alasan sejumlah kalangan muslimin muda memilih jalur taaruf. (CNN Indonesia/Hesti Rika)

 

Dalam grup WA tersebut, admin menetapkan anggota grup tak boleh debat kusir sampai menimbulkan keributan, anggota wajib aktif dan berpartisipasi dalam setiap program ITP, hingga ketersediaan untuk curhat melalui jalur pribadi dengan tim ITP. 

Admin grup juga rajin membagikan kajian singkat dalam bentuk artikel tentang bahaya pacaran melalui unggahan foto tiap Selasa dan Jumat. Terbaru, mereka mengirimkan artikel pendek berjudul 'Ramadhan, Waktu yang Pas untuk Putus dari Pacar'. Artikel itu menjelaskan Ramadan sebagai waktu yang tepat untuk memperbaiki ibadah, ketimbang dilalui dengan berpacaran. 

Biaya sebesar hampir 200 ribu yang saya bayar rupanya tak hanya digunakan sebagai 'tarif' masuk ke dalam grup WA. Selang tiga hari setelah mendaftar, saya menerima sebuah paketan berisi buku, gantungan kunci, kartu anggota, dan sebuah stiker bertuliskan 'Indonesia Tanpa Pacaran' yang dikirim ke alamat rumah.

Kartu anggota yang dikirimkan itu seukuran Kartu Tanda Penduduk (KTP) dengan latar merah dan putih bertuliskan 'Indonesia Tanpa Pacaran'. Pada salah satu sisi kartu dijelaskan keuntungan menjadi anggota ITP, di antaranya mendapat nasihat inspirasi dari penulis ITP tiap Selasa dan Jumat, mendapat diskon 20 persen untuk pembelian produk ITP, dan berhak mengikuti kopi darat yang digelar ITP. 
 

Sementara pada buku berjudul 'Hati-hati Muslihat Lelaki' yang dikirimkan merupakan karangan asli Munafar yang diterbitkan perusahaan miliknya sendiri, Gaul Fresh. Buku itu banyak menjelaskan berbagai sikap yang Munafar sebut sebagai muslihat lelaki. Mulai dari muslihat saat PDKT alias pendekatan, muslihat pacaran, muslihat putus, hingga membongkar teori muslihat. 

Dalam bukunya, Munafar juga melakukan hitung-hitungan 'pengorbanan' waktu jika ada sepasang laki-laki dan perempuan yang berpacaran. Salah satunya biaya makan dan minum bersama sebanyak dua kali dalam satu bulan. 

Jika satu kali makan dua orang menghabiskan Rp20 ribu, maka uang yang dihabiskan dalam satu bulan ketika dua kali makan adalah Rp40 ribu. Sementara waktu yang dihabiskan untuk makan bisa sampai satu jam. 

"Maka waktu sia-sia yang dihabiskan dalam satu bulan=2 jam," tulis Munafar. 

Ia juga menjabarkan biaya nonton bioskop, jalan-jalan, termasuk pulsa telepon dan pesan singkat yang dianggap sangat merugikan. Jujur saja, saya tak menyelesaikan membaca seluruh isi buku tersebut. Selain kualitas kertas yang tak terlalu bagus, buku itu juga sangat subjektif menggambarkan sikap laki-laki dalam berpacaran. (jft/CNN)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...