23 November 2017

Cinta Sejati - Cerpen

Oleh: Erik Suwandinata

 

Cinta sejati. Kalian yakinkah tentang hal itu ? Konon katanya  “Cinta Sejati” dipunyai oleh masing masing orang ? Cinta yang menurutnya amat indah dan bisa bikin orang yang mengalaminya berubah menjadibahagia ? Mitos cinta sejati yang berulang ulang mengaum di hati ini.

Kuamati bingkai putih yang ada di tepi tempat tidurku. Aku tersenyum saat mengamati benda yang berada pada bingkai itu.

Bukanlah satu buah foto atau lukisan. Cuma sebuah kertas lusuh. Kertas catatan PKN yang dulunya aku robek dari buku punyanya 3 tahun yang dulu di waktu ada acara perpisahan SMP. Dia tidak sekali pun tahu kalau aku sudah merobek buku catatan milikinya. Malahan, kemungkinan dia tidak pernah kenal aku. Aku hanya salah satu dari ratusan fansnya yang berada di sekolah.

 

Dia tidaklah termasuk artis. Dia cuma seorang siswa yang berparas ganteng serta cerdas yang belajar di sekolahku ketika waktu itu. Dia termasuk kaya dan berbakat di bidang olahraga. Malahan, Sifatnya yang cuek tersebulah yang jadi daya tarik sendiri bagi para wanita, terlebih lagi aku.

Namun, bisa dibilang, aku tak begitu menampakkan diri kalau aku benar benar suka kepadanya. Aku juga tak pernah bersapa maupun menegur dia ketika lagi berpapasan. Aku cuma menyukainya melalui diam.

Justru, robekan catatan PKN tersebut aku pungut dengan diam-diam agar kenanganku bersamanya tetap ada ketika saat di sekolah. Aku lagi lagi senyum ketika menatap robekan kertas itu. Orang cakap, apapun itu, kalau memang bodoh sekalipun, maka dia akan tetap kembali lagi dan lagi. Dan aku benar benar percaya jika pada suatu hari nanti kita pasti berjumpa kembali.

 

Kemudian kukeluarkan kertas itu dari bingkainya. Kupeluk secara mesra, dan ku ajak kertas itu untuk senyum dan tertawa bareng.

Sungguh gila, konyol, memang. Sesudah puas dengan hal yang kulakukan tersebut, aku lalu menaruhkannya kertas itu kembali ke dalam bingkai yang berada atas meja belajarku.

Dan …

Syuuuuttt …

 

Kertas itu keluar dari jendela dan beterbangan dihembuskan oleh para angin berhembus dan jatuh di perkarangan. Dengan bersegera aku keluar dari rumah dan lari mengejar kertas itu . Kertas itu adalah hanya satu-satunya barang yang bisa bikin aku selalu mengingatnya.

Ketika aku sedikit lagi meraihnya, angin lagi lagi berhembus begitu kencang membawa kertas tersebut. Aku benar benar kesal. Akhirnya aku kejar terus kertas itu.

Saat aku hendak memungutnya kembali, kertas tersebut diinjak oleh seseorang. Lalu orang tersebut meraih kertas tersebut. Namun begitu aku tetap masih merasa kesal ketika mengetahui kalau kertas tersebut diinjak seseorang. Dengan kesal Aku masih mengamati jalanan berdebu dan agak marah.

“Ohh, mulai tadi kamu lagi mengejar kertas ini ya ?” ujar orang tersebut. Aku masih mengenal Suara bariton tersebut, lalu aku menengok dan melihat wajah dari yang punya suara ini.

NYESS…

Loh, di diakan? Dia kan yang punya kertas yang aku robek itu ?A Angga. Laki-laki keren, tampan, dan pandai itu … Bagaimana dia bisa disini ?

“Maaf. Aku saat itu diam diam merobek buku kamu.”

“Tidak apa apa kok Shafira. Sungguh deh, tidak apa-apa. Sebab aku sering juga diam diam mengambil foto kamu waktu itu.” Akunya kepadaku ? Ia.. kok tau namaku ?

“Foto ?! diam-diam ?”

“Lebih indah kita nostalgianya di taman saja yuk.” Ujarnya disertai memegang tanganku menuju taman.

Aku benar benar tidak percaya dengan hal yang aku alami dan lihat. Ternyata Fotoku selama ini berada di dompet Angga ?

“Aku dahulu sangat suka dengan kamu Shafira. Sebab kamu merupakan satu-satunya wanita yang tidak sekalipun menyapaku saat di sekolah. Kamu benar benar cuek dan aku amat menyukai hal itu.” Ujarnya dibarengi dengan tersenyum.

“Saat lalu, aku benar benar ingin memiliki kesempatana untuk mengenal kamu lebih dalam lagi dan bisa jadi pacar kamu. Namun apa daya, hanya berada di dekat kamu saja aku sudah merasa begitu gemeteran pada saat itu. Ditambah lagi dapat berbicara dengan kamu kayak saat ini.

Serta aku tahu kok bahwa kamu yang merobek bukuku. Hanya saja aku berusaha pura-pura tidak tahu saja. Aku justru senang sekali jika kamu saat itu merobek kertas ini. Karena dengan begitu berarti, kamu sama juga suka kan dengan aku ? Ayo ngaku saja!” Ujar Arya disertai dengan senyuman malu.

“Jujur saja aku masih merasa bingung ingin berkata apa..”

“Kamu percaya tidak dengan true love ?”

“True love ? memangnya itu apa ?” tanya aku.

“Awalnya aku benar benar ragu, namun pada malam ini aku sungguh percaya akan true love bahwa itu memang ada. Aku sudah menemukan True love dan kini sudah berada di depan aku. Aku suka dengan kamu Shafira.” Ujar Arya.

“Will you be My True love, Shafira ?” Ujar Arya.

Benarkah dia mengungkapkan perasaannya didepan aku? tidak sadar aku langsung saja mengucapkan “Yes I Will.”

Percaya atau tidak, itulah faktanya. Cinta sejati terkadang bisa datang lewat sendirinya. Sejauh apapun, cinta sejati bisa menemukan jalannya lagi dan lagi supaya kita jumpai.(Jft/Hidupsimple)

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...