18 January 2020

Catatan Perjalanan: Dari Unpad ke Rusia (bag 5)

KONFRONTASI-Barang sudah saya masukan dalam koper ukuran kurang Besar. Saya coba untuk mengangkatnya dan ku letakan di timbangan. Hampir putus urat leher ku menahan napas karena isi tas ku yang memadati semua ruang dalam tas. Saya lihat jarum pada timbangan, jarum itu warna merah lalu mengarah kepada angka 30 KG lebih. Celaka pikir ku. Jatah bagasi hanya 30 KG.

Jika lebih akan dikenakan biaya tambahan 30USD/KG nya. Tentu saya harus mengeluarkan 2 KG dari dalam tas itu. Tapi enggan rasanya karena semua barang yang ada di dalam tas itu saya butuhkan. Insting mafia pun muncul, saya berfrasat tidak semua temen-temen nanti akan membawa pas 30KG atau lebih, pasti ada dari salah satu dari mereka hanya memiliki berat di bawah 30KG, itu harapan ku.

Jika memang benar Instingku, nanti saya kumpulkan mereka semua dan kami akan check in bersama dan disatukan semua bagasi yang di dapat 30KG x 5 orang = 150KG untuk ber5. Jadi saya fikir tidak perlulah keluarkan kelebihan beban bagasi yang saya miliki. Saya membawa koper besar 1, tas tangan 1, 2 jas, dan bodypack. Pertama saya bawa tas tangan, bodypack dan 2 jasku ke kabin, itu pikirku.

 

Tiba di terminal 2D Penerbangan International, akhirnya saya menginjakan kaki di terminal ini. Dulu hanya bisa mengantar tamu-tamu yang menginap di Hotel tempat kerja ku. Tamu yang akan balik kekampung sehabis liburan atau melakukan perjalan bisnis. Saya diantar oleh mamah, istriku, kakakku, dan abang iparku. Saya bersama mamah dan istriku turunkan didepan pintu terminal 2D, karena memang disana pesawat yang akan membawa ku nanti terbang ke Rusia. Lalu saya pergi ke Meetpoint yang sudah kita sepakati bersama teman-teman lainya.

 

Dan  pandawa lima, itulah sebutan kami ber 5. Rifky, ryan, danil, fuad, dan tentu saya. 5 pandawa yang mengiklarkan janji akan menuju ke negeri beruang merah bagaimanapun caranya sewatu kuliah dulu. Di monument Gorky Park, kami berjanji akan pergi ke negeri paman Lenin bagimanapun caranya dan apapun resikonya untuk melanjutkan Master kami setelah lulus kuliah strata 1. Bandara, kursi, tokoh-tokoh akan menjadi saksi bagaimana 5 pandawa akan pergi untuk menjemput mimpinya.

Saya duduk diantara istri dan mamaku, detik demi detik, menit demi menit sangat cepat sekali berlalu. Waktu menunjukan kekuasaannya, tepat pukul 00:00 saya dan pandawa harus chack-in untuk mendapatkan seat dipesawat. Kami pun bergegas untuk bersiap-siap masuk kedalam tempat check-in. Tak lupa strategi yang sudah saya siapkan sewaktu dirumah tadi.

Saya kumpulkan kesemua paspor pandawa, karena saya akan masukan dalam group. Lalu saya minta tolong kepada danil untuk membawakan 2 stel jas yang tertutup rapih. Tak lupa kamipun berfoto-foto sebelum berangkat, teman-teman kuliah dulu di kampus Unpad rela datang malam-malam untuk mengantar kami, terharu. Kami berfoto-foto, bersama masing-masing keluarga. Momen ini seperti dalam sinetron yang menampilkan semua kesedihan. Sedih memang perpisahan ini, saya akan berpisah dengan istriku dan mamah untuk sementara waktu. Saya peluk erat tubuh mungil istriku, dan berkata kecil ditelinganya, “Jangan keluarkan airmata mu. Jaga kesehatan dan selalu ingat allah “. Lalu saya cium keningnya dengan penuh kasih sayang. Saya berpamitan kepada mamah dan kakakku, aku peluk mereka dengan erat. Lalu saya cium pipi mamah dan berkata “Mama Doakan Anakmu dan Mohon Doa Restu Mu”

Catatan perjalanan dari Nurbayu Nandes Manan, alumnus FIB studi Rusia Universitas Padjadjaran, menulis dari Moskwa.

Tags: 
Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...