16 December 2019

Catatan 1989 (7)

(Peringatan untuk rezim penguasa yang menindas, dimanapun, kapanpun dan kepada siapapun)

oleh:  Juftazani

Musim berlalu, seorang gadis termangu
Di Tiannanmen yang biru
Pagi mengirim matahari berlari dan anak-anak yang melaju
Menapaktilasi langkah-langkah sejarah membisu

Hai Penguasa,
dimana kau purukkan dedaunan yang membusuk
yang pernah menjadi anak panah
yang menggelindingkan sejarah
darah jadi arca yang kini mengerkah
menerkam leher penguasa yang makin gelisah

Dalam kekerasan yang menimbun segala kekacauan
Sepak terjang penguasa yang kian memperkeruh langit dunia
Semusim telah terlewat pula
Luka, derita, darah dan airmata
Takkan terbayar oleh kekayaan seluruh negeri china
Semua sendi-sendi kekuasaanmu
Akan bergegas pergi
Meninggalkan pijakannya dan tinggal jejak-jejak yang muram
Menandai hampir 100 tahun
Penguasa ganas menguasai wilayah luas
Dari Xin Jiang sampai Senkaku

Dosa-dosa penguasa akan ditebus
Dengan penuh tersungkur
Di lantai sejarah yang terbius
Pencarian orang-orang bertanggungjawab
Atas sejarah masa lalu yang hitam dan kelam
Tunggu apalagi, Tiannanmen telah berlalu
Akan terkembang Tiannanmen yang baru
dan resapkan kata ernest renant : Le Histoire Se Repete
Sejarah akan selalu berulang dan terus berulang

Jakarta, 18 November 2014

--------------------------------
--------------------------------
(Puisi ini adalah bagian ke 67 dari serial dari 71 puisi-puisi yang mengisahkan TRAGEDI TIANNANMEN --- yang sungguh mengerikan kekejamannya yang jatuh pada hari Senin 4 Septmber 1989). Saya pada waktu itu sedang nyantren di Pesantren FADRIS al-Fathiyah, Pagendingan Tasikmalaya. Saya mendapat beritanya dari Koran EKSPONEN terbitan Jogjakarta dari kantor perwakilannya di jalan Mitra Batik Tasikmalaya. 20 tahun kemudian lahirlah puisi ini. selamat menikmati).

Tags: 
Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...