20 August 2019

Bilali Muhammad, Intelektual Muslim Amerika Pertama

KONFRONTASI-Sebuah kesalahpahaman yang saat ini beredar di kalangan komunitas Muslim Amerika adalah bahwa Islam hadir di Amerika kurang dari 100 tahun. Asumsi tersebut berkembang lantaran menganggap Muslim Amerika merupakan keturunan imigran yang hadir pada awal abad kesembilan belas. Padahal Islam telah berada di Amerika jauh lebih lama dari itu. Selain kemungkinan penjelajah Muslim pra-Kolombia dari al-Andalus dan Afrika Barat, Islam tiba di pantai Amerika di gelombang melalui perdagangan budak Atlantik dari abad keenam belas sampai abad kesembilan belas. Sementara ratusan ribu budak tiba di Amerika selama ini, kisah-kisah hanya beberapa telah diawetkan dan dikenal saat ini. Salah satu yang paling abadi dan unik adalah bahwa dari Bilali Muhammad.

Perdagangan Budak
Sebagian negara-negara Eropa mulai melakukan penjajahan pada tahun 1500-an, dengan tujuan mencari tenaga kerja murah. Hal ini dilakukan lantaran para pekerja di Amerika Utara dan eropa dianggap kurang cocok dan kurang memiliki kekebalan terhadap penyakit yang saat itu berkembang di Eropa.  Untuk itulah kemudian negara-negara Eropa seperti Inggris, Prancis, Portugal, dan Spanyol mengerahkan kekuatan ke arah selatan, menuju Afrika, untuk mencari sumber tenaga kerja yang bisa dieksploitasi.

Pedagang budak Eropa pun mulai tiba di pelabuhan di Afrika, mencari untuk membeli budak. Umumnya, orang Eropa tidak pergi dan menangkap budak sendiri. Mereka biasanya akan membayar penguasa lokal untuk pergi berperang dengan negara-negara Afrika lainnya, menangkap prajurit, dan menjualnya untuk dibawa ke Amerika. Para penguasa Afrika umumnya dibayar umum dengan, yang selanjutnya akan dipergunakan untuk melanggengkan siklus kekerasan dan perbudakan. Seluruh sistem yang bekerja telah menorehkan perkembangan sosial, politik, dan ekonomi Afrika, dan hasil genosida ini masih dirasakan di Afrika saat ini.

Berbagai perkiraan muncul terkait masalah perbudakan ini, namun yang jelas lebih dari 12 juta orang Afrika secara paksa diambil dari tanah air mereka untuk melayani sebagai budak di Amerika, dan 20% dari mereka mati dalam perjalanan trans-Atlantik yang dikenal sebagai Middle Passage. Karena banyak perdagangan budak difokuskan pada wilayah Afrika Barat, sejumlah besar budak diragukan lagi tetap memeluk Islam. Kerajaan savana dari Mali dan Songhai sudah lama pusat-pusat peradaban Islam di Afrika Barat dan populasi Muslim yang besar ada di wilayah tersebut.

Bilali Muhammad

Salah satu dari banyak budak Muslim yang dibawa ke Amerika adalah Bilali Muhammad. Dia berasal dari suku Fulbe dan lahir sekitar tahun 1770 di kota Timbo, di tempat yang sekarang disebut Guinea. Dia berasal dari keluarga terdidik, dan sempat mengenyam pendidikan tinggi di Afrika sebelum ditangkap sebagai budak pada akhir 1700-an. Dia fasih berbahasa Fula begitu pula dengan Arab, dan memiliki pengetahuan tentang studi Islam tingkat tinggi, termasuk Hadis, Syariah, dan Tafsir. Bagaimana ia ditangkap tidak diketahui, tetapi ia awalnya dibawa ke perkebunan pulau di Karibia, dan pada 1802, ia tiba di Sapelo Island, di lepas pantai Georgia di Amerika Serikat bagian selatan.

Di Sapelo Island, Bilali cukup beruntung karena dipekerjakan oleh Thomas Spalding sebagai pemilik budak. Saat itu kondisi di Selatan sangat memprihatinkan bagi para budak lainnya, yang dipaksa untuk bekerja sepanjang hari dan sering tak diberi kebutuhan pokok seperti pakaian dan tempat tinggal yang stabil, Spalding memberikan kebebasan tertentu untuk para budaknya yang tidak hadir di tempat lain. Dia tidak mendorong para budak bekerja lebih dari enam jam per hari dan bahkan mengizinkan budak Muslim untuk mempraktekkan ajaran agama mereka secara terbuka, sebuah kebebasan langka dalam lingkup Kristen Selatan. Bilali bahkan diizinkan untuk membangun sebuah masjid kecil di perkebunan, bahkan mungkin ini menjadi masjid pertama di Amerika Utara.

Karena tingkat pendidikan yang relatif tinggi, strata sosial Bilali pun naik dan diandalkan oleh pemiliknya untuk mengurus administrasi perkebunan dan ratusan budak. Mungkin cerita yang paling luar biasa dari kepemimpinan Bilali Muhammad terjadi selama Perang tahun 1812 antara Amerika Serikat dan Inggris. Tuannya, Spalding, dilaporkan meninggalkan perkebunan dengan keluarganya karena takut atas serangan Inggris, dan memberi Bilali tanggung jawab untuk mempertahankan perkebunannya. Dia bahkan memberi Bilali 80 senapan untuk mempertahankan pulau tersebut, yang kemudfia senjata tersebut dibagikan pada populasi Muslim perkebunan. Bilali memegang janjinya dan mengelola perkebunan sementara pemiliknya pergi dan akan kembali lagi ke Spalding setelah perang.

Dokumen Bilali

Sebagai seorang Muslim terdidik dari Afrika Barat, Bilali tidak diragukan lagi membawa pendidikan Islam bersama dirinya ke Amerika. Hal ini dibuktikan oleh naskah tiga belas halaman yang ia tulis  dan juga dikutip seorang penulis selatan, Francis Robert Goulding, sebelum ia meninggal pada tahun 1857. Naskah ditulis dalam bahasa Arab, dan dengan demikian tidak terbaca bagi kebanyakan orang Amerika selama beberapa dekade. Ini membuat jalan akhirnya ke Perpustakaan Negara Georgia pada tahun 1931, yang berusaha untuk menguraikan naskah, yang secara populer disebut dengan Diary Bilali .

Setelah bertahun-tahun upaya yang melibatkan banyak sarjana sejauh al-Azhar di Mesir, ulama akhirnya berhasil menguraikan naskah tersebut. Ternyata itu bukan buku harian sama sekali, tapi benar-benar salinan ayat-ayat dari sebuah risalah tentang hukum Islam Madhab Maliki yang ditulis oleh seorang sarjana Muslim fiqh, Ibn Abu Zayd al-Qairawani di Tunisia pada tahun 900-an. Risala Ibnu Abu Zayd adalah bagian dari kurikulum hukum Afrika Barat yang lazim dipelajari di tanah air Bilali pada tahun 1700-an ketika ia masih mahasiswa. Ketika ia datang ke Amerika sebagai budak, ia tentu saja tidak dapat membawa apapun barang-barang pribadi bersamanya, dan dengan demikian salinan dari kitab tersebut ditulisnya berdasarkan memori setelah ia mempelajarinya di Afrika Barat. Ini mencontohkan tingkat pengetahuan yang hadir di Afrika Barat, yang saat itu dirusak oleh perdagangan budak Atlantik.

The Bilali Document demikian mungkin buku pertama dari hukum Islam (fiqh) yang pernah ditulis di Amerika Serikat. Dan sementara Islam perlahan-lahan mati di kalangan masyarakat Afrika-Amerika di Amerika Serikat pada abad kesembilan belas, penting untuk mengenali dan menghargai kisah-kisah para Muslim Amerika yang pertama. Mereka bukan kelompok ngawur kecil. Jumlah mereka ratusan ribu dan meskipun kesulitan hampir tak dapat diatasi, mereka berjuang untuk melestarikan warisan Islam mereka di bawah penindasan perbudakan. Kisah Bilali Muhammad adalah contoh sempurna dari upaya komunitas Muslim Amerika awal ini yang diharapkan bisa menginspirasi Muslim Amerika masa kini.

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...