9 December 2019

Beras Plastik itu Ancam Keselamatan Keluarga

KONFRONTASI-Setelah merasa lebih sehat, Naiman (55) korban beras plastik di wilayah Cipayung, Depok, Jawa Barat mengaku trauma. Pasalnya, setelah menyantap nasi bersama keluarga, Naiman bersama keluarganya mengalami mual dan pusing dan terpaksa dirawat di rumah sakit. Budaya makan nasi jelas tak bisa diganti dengan beras plastik yang beracun dan berbahaya bagi kesehatan kita.

Dirinya mengaku secara tidak sengaja mengonsumsi nasi yang sebagian diduga dari bahan sintetis atau plastik hasil sumbangan dari warga Perumahan Depok Jaya.

"Waktu digigit agak kenyal-kenyal, di perut juga hangat," ujarnya, Selasa (26/5/2015).

Menurutnya, nasi tersebut tidak akan terasa beda jika dimakan dengan sayur asem. Perbedaan akan terasa saat digigit yang dikatakannya lebih alot dari beras biasa dan aromanya juga tidak tercium.

Setelah mengonsumsi nasi yang diduga dari bahan plastik itu, mereka sekeluarga merasa mual, pusing dan muntah-muntah pada keesokan harinya. Sehingga terpaksa harus dirawat di rumah sakit.

Sebelumnya, peristiwa ini terjadi pada pekan lalu dialami oleh Naiman yang bekerja sebagai petugas kebersihan di lingkungan Perumnas Depok. Naiman menceritakan beras tersebut didapat hasil dari sumbangan warga di lingkungan tempat dirinya bekerja.

"Berasnya dari sumbangan warga, beras itu campuran hasil dari warga, yang masak istri," ujarnya, Senin (25/5/2015).

Ia mengaku tidak merasakan hal aneh saat menyantap nasi yang berasal dari beras sumbangan warga tersebut. Namun perutnya mulai terasa mual pada keesokan harinya.

Hal itu juga dialami oleh istrinya, Sarifah (42), kedua anaknya yakni Nenti (31) dan Nita (27) serta keponakannya Aulia yang masih berusia satu tahun.

 

Meski telah diancam bakal berurusan dengan polisi jika menjual beras plastik, namun sejumlah pedagang mengaku masih tidak tahu perbedaan antara beras plastik dengan beras asli.

Hal ini dikatakan oleh pedagang beras di kawasan Jakarta Barat, pasca inspeksi mendadak (sidak) yang dilakukan oleh Pemkot Jakarta Barat. Seperti halnya yang diungkapkan pedagang Pasar Puri, Nuarazizah (34).

Ibu anak satu yang telah menjual beras lebih dari lima tahun ini mengaku tak tahu menahu soal beras pelastik. Pasalnya rata-rata pedagang yang berjualan beras mengambil berasnya di Pasar Induk Cipinang, Jakarta Timur.

"Kita nggak tahu. Tahunya cuma ngambil ke pasar induk terus dijual lagi," tuturnya.

Hal senada diungkapkan, Alim (34) pedagang lainnya yang mengaku khawatir dengan adanya isu beras plastik. Ia menilai kebanyakan pedagang tak memiliki keahlian khusus untuk membedakan beras asli dan beras sintesis.

"Kita pada nggak tau mana perbedaannya. Orang-orang pada nanya kita malah nggak tau," tandasnya (BG)

 

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...